Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Mei 2013

Selain IQ, EQ, SQ ada Adversity Quotient (AQ)



AQ
(Adversity Quotient)


Semua orang ingin berhasil, sukses, lulus, dll. Seorang pelajar mendambakan keberhasilan dalam ujian dengan nilai tinggi, setelah lulus mereka tentu juga akan berharap dapat melanjutkan ke sekolah lanjutan pilihannya. Seorang pekerja atau pengusaha pun mendambakan gaji tinggi, usahanya maju, keuntungannya besar, dll.

Tetapi apakah semua harapan dapat tercapai? Seorang siswa telah berusaha keras dengan rajin belajar, namun nilai yang diperoleh masih pas-pasan/ rendah, jauh dari harapan. Para pekerja bekerja keras namun gaji tak kunjung naik, PHK menghantui setiap saat. Pedagang dan pengusaha tak kunjung ada kemajuan dalam usahanya, kadang justru merugi, pelanggan pergi, situasi pasar yang tidak menentu semakin menambah kesulitan dalam usaha. Ternyata tidak semua keinginannya dapat terwujud.

Lalu bagaimana mengatasi kegagalan? Di sinilah peran Adversity Quotient. AQ yang dikemukakan oleh Paul G. Stoltz, perlu ditelaah lebih dalam. Adversity berasal dari kata adverse yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya: “merugikan; bersifat bermusuhan; tidak cocok; yang berlawanan”. Sedangkan kata adversity artinya “kemalangan” atau “kesengsaraan”.  Jika digabungkan dengan kata quotient, maka Adversity Quotient memiliki arti yang sangat hebat dan luar biasa. Adversity Quotient dapat diartikan kecerdasan seseorang dalam menghadapi kesengsaraan atau kesulitan yang dialaminya.

Kecerdasan Adversity pada diri seseorang adalah bagaimana seseorang mampu mengubah kegagalan menjadi peluang untuk meraih sukses. Ketika sebagian orang berputus asa saat menghadapi kesulitan hidup. Ketika seseorang terus mengurung diri menangisi kegagalan dalam penyesalan yang mendalam. Orang dengan Kecerdasan Adversity tidak pernah berputus asa dan larut dalam penyesalan mendalam. Kegagalan menjadi cambuk baginya agar lebih rajin dan semakin berusaha keras untuk maju, berkembang dan lebih baik. Dalam dirinya ada motivasi yang tinggi untuk mengubah gegagalan menjadi peluang untuk sukses.

Paul G. Stoltz mengatakan bahwa tantangan bisa dirubah menjadi peluang, IQ dan EQ saja tidaklah memadai untuk menjadi sukses. Ada faktor lain yang berupa motivasi, dorongan yang tumbuh dari dalam. Motivasi untuk mengubah kegagalan, kesulitan, dan hambatan menjadi peluang-peluang untuk meraih sukses inilah yang disebut dengan AQ atau Adversity Quotient.

Dalam dunia pendidikan anak harus mengetahui dan memahami bahwa, setiap upaya belajar dalam berbagai ilmu pasti ada yang berhasil dan ada yang gagal. Guru dan orang tua sebagai pembimbing harus bisa mengarahkan agar anak tidak frustasi dalam belajar dan lebih lanjut tidak akan merasa gagal dalam hidupnya.

Terhadap adverse atau permasalahan hidup yang dihadapi sikap seseorang diantaranya:
# gampang putus asa
# merasa cukup puas dengan seberapapun hasil yang dia peroleh
# optimistik terus menerus, melihat peluang, selalu bergairah untuk maju dan lebih baik.
Pemenang dalam mengatasi permasalahan hidup adalah individu type ke-tiga, individu dengan Kecerdasan Adversity tinggi yang akan kerasakan kegembiraan sesungguhnya karena atas jerih payahnya berhasil mencapai puncak keberhasilan yang tertinggi, keberhasilan yang tidak pernah dapat diraih oleh orang dengan type lainnya.


Rabu, 17 April 2013

Spiritual Building Training "SBT"



Refleksi
SPIRITUAL BUILDING TRAINING
Rabu, 17 April 2013  di Aula KanKemenag Kab. Kebumen
oleh
H. Andy Kusuma Brata


Pagi sebelum jam 07.00 saya sampai di Madrasah tempat tugasku MI Sumberadi, pagi itu madrasah tak seramai biasanya, karena sebagian murid libur/belajar di rumah. Hari itu hari terakhir Uji Coba UN Tk. Kabupaten ke-2. Guru yang hadir baru 1 orang Pak Munawar namanya. Pak Kepala Madrasah tak biasanya hari itu belum rawuh, biasanya jam setengah 7 dia sudah rawuh, pikirku mungkin sedang ada kepentingan. Setelah meletakkan tas rangsel hitam berisi peralatan sekolah + laptop yang lumayan berat, aku menuju ruang kelas VI mengecek ruang tempat murid kelas 6 akan berlatih soal UN mapel IPA. Benar saja, petugas piket hari ini belum melaksanakan tugas dengan baik, kelas belur rapi. Buru-buru saya panggil regu piket untuk segera membereskannya.
Setelah itu aku kembali ke kantor, kebetulan Pak Kamad baru rawuh. Baru saja sy duduk di kursi tamu ingin baca Kebumen Ekpress hari itu, Pak Kamad menghampiri, aku diminta mewakili undangan mengikuti Training Motivasi bagi Kepala Madrasah di Aula KanKemenag Kebumen karena hari itu Pak Kepala ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Saya manut saja, undangan jam 08.00 wib, tapi saya menunggu sampai jam 8 saat anak kelas 6 sudah mulai mengerjakan soal Tryout IPA. Setelah saya pencet bel 1 kali tanda mulai mengerjakan tepat jam 8, saya berkemas dan pamit berangkat ikut training motivasi.
Sekitar seperempat jam saya sampai di lokasi, sudah ada yang hadir, tapi masih sepi. Menunggu sambil ngobrol dengan teman-teman, sekitar jam 9 acara baru dimulai. Pak Kasi Mapenda memberikan sambutan, dilanjutkan sambutan dari Tiga Serangkai, dan tim SBT mulai memberikan materi, ternyata training kali ini luar biasa, jarang sekali di Kebumen ada kegiatan Motivasi Spiritual seperti ini, ini pertama kali saya mengikutinya. Begitu banyak manfaat yang insyaAllah saya dapatkan, dan sama sekali tak mampu kuhitung banyaknya, tak bisa pula kutuliskan satu demi satu, kecuali dalam REFLEKSI singkat berikut ini, semoga bermanfaat bagi diri saya pribadi, dan siapapun anda, amin.

Meraih Keberhasilan

Keberhasilan tidaklah dicapai dalam sekejap, tidak mudah seperti membalik telapak tangan, tidak semulus yang dibayangkan.
‘Tapi menuju keberhasilan itu akan selalu menghadapi rintangan’, hambatan, jalan berliku yang melelahkan, mendaki terjal yang memeras keringat, rumit memeras otak untuk memikirkan pemecahannya.
‘Bukankah tangga itu selalu naik?’ Keberhasilan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi, maka kitapun harus naik untuk mencapainya.

Syetan Terus Menghadang

Begitupun upaya kita untuk senantiasa berusaha mendekatkan diri kita kepada Allah swt. Apakah disangka mudah?
Apakah ketaatan kita atas menjalankan perintah-perintahnya, serta menjauhi larang-larangannya itu mudah dilakukan?
Sesungguhnya ‘semakin kita berusaha dekat kepada Allah, maka semakin kuat pula syetan menggoda kita.’
Dan ingatlah pula bahwa ‘syetan itu pantang menyerah!, syetan itu dimana-mana sama, menjerumuskan anak cucu Adam as. hingga akhir zaman. Syetan hidup jutaan/milyaran tahun, pantas saja mereka cerdas, pandai, mereka sudah profesional menjalankan tugasnya menyesatkan umat manusia sejak zaman dahulu kala. Bayangkan, syetan yang dulu menggoda Nabi Adam as, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dll. mereka masih hidup hingga sekarang, dan tak pernah berhenti membisik-bisikkan kesesatan dalam diri kita umat manusia.
Marilah kita berlindung kepada Allah, dari godaan syetan yang terkutuk.


Setiap manusia ingin sukses, ingin meraih keberhasilan

Mungkin di antara kita ada yang sudah merasakan keberhasilan, namun tak jarang keberhasilan itu masih jauh dari harapan, masing menjadi angan-angan, impian. Harapan yang tak pernah henti diperjuangkan.
Faktor kesuksesan itu ada 3:
1.      NASAB
Nasab artinya keturunan. Bahwa kesuksesan itu diraih karena faktor keturunan.
-          Bapak dan ibunya kaya, maka pantas saja anaknya juga jadi orang kaya.
-          Orang tuanya pintar, maka pantaslah anaknya juga pintar, selalu jadi bintang kelas, rengking 1.
-          Orang tuanya atlet hebat (sepakbola, bulu tangkis, karate, atau lainnya), maka pantaslah jika anaknya juga hebat seperti orang tuanya menjadi atlet hebat dan berprestasi.
Kesuksesan faktor NASAB seperti diakui keberadaannya, ada banyak di sekitar kita, tak ada orang yang bisa mempermasalahkannya.
2.      NISAB
Adapun kesuksesan karena NISAB atau kompetensi, keahlian, atau kemampuan yang dimiliki seseorang.
Bapaknya seorang petani, tetapi anaknya menjadi dokter. Ini karena sang anak benar-benar memiliki kompetensi, sehingga bisa menjadi dokter.
Anak tipe seperti ini berbeda dengan anak kebanyakan lainnya.
-          Ketika orang lain sibuk bermain, dia sibuk dengan urusan belajarnya.
-          Ketika teman-temannya sudah pusing, bosan karena membaca 3 halaman buku, dia mampu menghabiskan satu buku bacaan dalam sekali duduk.
-          Ketika anak lain sebayanya sibuk bertanya kesana kemari karena permasalahnya, dia sibuk mencari dan menemukan sendiri pemecahannya. Dll.
Kompetensi yang dimiliki membuat seseorang menjadi hebat, tangguh, kuat, juara. Orang lain pun tak ada yang komplain karena kesuksesan tersebut.
3.      NASIB
Sebenarnya dia berasal dari orang biasa-biasa saja, tidak pintar, tak cakap, tetapi dia bisa SUKSES. Orang-orang biasa mengatakan dia orang BEJO. Sejak dulu ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘orang pinter bisa kalah dengan orang yang bejo’. Sampai-sampai saat ini ada iklan produk di televisi dengan jargon tentang orang bejo ini.
Namun perlu dimengerti bahwa orang bejo ini tidak semuanya tipikal orang tanpa kompetensi. Ada kalanya bahwa orang dengan penampilan biasa, tapi tak disangka sebenarnya dia memiliki bakat luar biasa, bakat terpendam, kemampuan yang belum tergali dengan maksimal, dan baru diketahui kemudian. Lihatlah Kompetisi ajang pencarian bakat yang kini marak di TV dalam dan luar negeri, tak jarang ditemukan bakat-bakat yang luar biasa, bahkan bisa lebih hebat dari para juri yang menilainya.

SUKSES ITU DIRENCANAKAN

Jalan menuju sukses itu ada 3:
1. DISIPLIN, kesuksesan itu tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi butuh konsistensi, usaha terus-menerus, berkesinambungan. Kedisiplinan menjadi modal penting untuk mewujudkan kesuksesan.
2. TEAM WORK, tidak ada sebuah kesuksesan yang dapat diraih sendirian. Semua orang membutuhkan orang lain. Kita harus menjalin kerjasama yang baik dengan orang di sekitar kita. Team work yang solid menunjang terwujudnya keberhasilan.
3. TIDAK MUDAH MENYERAH, Never Give Up. Dibutuhkan semangat yang tinggi, jiwa pantang menyerah, jika jatuh segera bangkit, jatuh lagi bangkit lagi, dst. Karena ‘tidak pernah kalah, bagi orang yang tak mudah menyerah.’

Semua Perlu Kasih Sayang

Kasih sayang yang tulus, murni adalah kasih sayang orang tua pada kita. Ingatlah ketika dulu kita disayangi, maka kasihi dia, sayangi dia.
Jika dulu kita ingat orang tua keras dan kasar dalam mendidik kita, ketahuilah, sesungguhnya marah mereka, pukulan mereka, adalah karena kasih sayang mereka kepada kita.
Menjadi orang tua di masa sekarang mungkin saja berbeda dengan zaman ketika kita kecil dulu. Sekarang ajaran kekerasan menjadi hal yang seharusnya dihindari. Tidak ada kekerasan di rumah, di sekolah, dimanapun serta terhadap siapapun, walaupun itu anak sendiri. Namun adalah bagaimana kasih sayang itu kita wujudkan nyata, menjadikan diri kita para orang tua sebagai sahabat anak-anaknya, yang menyediakan waktu untuk mendengar mereka, mengerti mereka, serta menjadi teladan bagi mereka.
Bagaimanapun pemikiran orang tua akan berbeda dengan anaknya, dan tak perlu dipaksakan untuk sama, karena sudut pandang pun berbeda, namun yang terpenting adalah bagaimana keduanya dapat saling memahami, mengerti, ada keterbukaan, serta kesediaan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semuanya tentu hanya dapat dicapai dengan didasari KASIH SAYANG.

JAUHI PRASANGKA

Jauhilah prasangka, karena prasangka itu ‘menutup kebenaran hakiki.’
Prasangka dilakukan oleh orang yang merasa tahu (sok tahu), walaupun pengetahuannya itu belum tentu benar. Prasangka menimbulkan seseorang ‘sulit mengakui’ kebenaran, pelaku prasangka cenderung ‘sinis’. Yang timbul tentu saja sifat iri, dengki, tak ingin disaingi oleh orang lain.
Ketahuilah bahwa : ‘Untuk menjadi lebih baik, kita tidak perlu menjelekkan orang lain.’


JADI PEMIMPIN ITU BERAT!

Pemimpin itu ibarat payung, ia melindungi, menaungi yang ada dibawahnya. Ketika terik ia yang paling merasakan panasnya, ketika hujan ia pula yang paling merasakan dinginnya air. Sungguh payung penuh dengan pengorbanan.
Seorang pemimpin sejati sudah pasti capek, kuras energi, putar otak, berkorban luar biasa, datang paling pagi pulang paling akhir, dll. Tapi apa yang dikatakan orang lain dan bawahannya: ‘Ah, itu biasa. Pemimpin memang harus begitu, itu sudah tugasnya!.’
Akan tetapi ketika payung itu ada yang bocor, airpun menetes membasahi bawahnya, apa yang terjadi. ‘Satu tetes itu menjadi cela yang terlihat menganga dilihat oleh semua orang, dan kebaikan yang selama ini ada seolah tak terlihat.’ Sabarlah wahai PEMIMPIN. Pemimpin yang adil, termasuk satu dari 7 golongan yang dijamin surga.


BEKERJA ADALAH IBADAH
Lakukan pekerjaan dengan benar
atau
Sibuklah mencari-cari alasan
padahal
Membetulkan kesalahan itu lebih lama, membutuhkan energi yang lebih besar
daripada
membangun yang baru.

Senin, 19 Desember 2011

Perjalananku

PERJALANANKU

S

uara adzan subuh menggema di cakrawala, membangunkan aku dari mimpi indah. Pagi yang cerah dengan suasana hati berbunga-bunga. Aku mengawali hariku dengan bersujud menyebut asma-Nya. Kicau burung liar, suara ayam memberi nuansa pagi yang ceria di taman hati. Cahaya mentari semakin memudar, menyebar ke seluruh jagat raya, alam raya pun menyambutnya dengan penuh suka cita.

Hari ini aku dan teman-teman akan berkunjung ke kampus UGM untuk mengisi waktu liburan semester yang tinggal satu hari, tentunya aku sangat bahagia. Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar di telingaku, lalu aku keluar rumah untuk melihatnya “De Dwi jadi ikut maen ngga’?” tanya mas Ega. “Jadi mas, tungguin Dede bentar ya?” jawabku.

Dengan semangat dan wajah berseri-seri aku bergegas pergi dan tak lupa meminta izin kepada Ibu dan Bapak, “Bu, Pak Dede ajeng teng Jogja nggeh,” pamitku. “Yo, seng ngati-ati yo ndo, ojo telat maem, ojo lali sholat!,” jawab Ibu dan Bapak. “Njeh, Bu, Pak,” jawabku sambil tersenyum manis. Aku sudah membuat janji dengan temanku yang kuliah di UGM untuk jalan-jalan mengelilingi kampus tersebut.

Sesampainya di sana, temanku mas Budi dan mba Tias sudah menungguku, mereka menyambutku dengan wajah ramah tamah “Assamanu’alaikum De Dwi dan teman-teman, selamat datang di kampus UGM,” sapa mba Tias. “Wa’alaikumsalam sudah lama nunggu ya mba?” tanyaku. “Belum lama kita nunggu kalian, kebetulan kita juga belum sholat, mari kita sholat berjama’ah! Nanti setelah sholat kita mengelilingi kampus, gimana?”, saran mba Tias. “Siipp lah, tapi nanti kita ke perpustakaan dulu ya!” kataku.

Setelah selesai sholat aku dan teman-teman makan siang lalu pergi ke perpustakaan, di sana suasananya sangat nyaman, pokoknya asyik banget dech. Tiba-tiba mas Budi memanggilku “De Dwi mau nga’ nemanin mas Budi,” jawabku.

“Oh ya de, de de sekarang kelas berapa sich? IPA atau IPS?” “De de kelas XI.IPS, kalau mas udah semester berapa?”

“Mas Budi semester 4, kalau menurut de de sekolah untuk apa sich?”

“Untuk ngraih cita-cita, harapan, dan keinginan, kalau menurut mas Budi untuk apa?”

“Yo untuk ngraih cita-cita, untuk mendapatkan ilmu, untuk ngraih ridho-Nya, untuk memanfaatkan waktu dan masih banyak manfaat lainnya, emang cita-cita de de pengen jadi apa sich?”

“De de pengen jadi seorang guru, tapi de de merasa kalau semakin lama sekolah semakin sulit, biaya semakin mahal tapi masa depan belu tentu terjamin.”

“Makanya de de belajar yang rajin, jangan samai ngecewain orang tua dan guru, terus berusaha dan jangan lupa berdoa, Allah tidak akan merubah nasib seseorang kecuali dia sendiri yang merubahnya, de de jangan putus asa ya!”

“De de akan terus berusaha sampai titik darah penghabisan, kalau dipikir-pikir hidup ini berat banget ya? Tiap detik pasti ada aja masalah, rasanya kayak dipenjara.”

“Lho hidup ini kan perjuangan kita menuju ke kehidupan abadi, jadi pasti selalu ada ujian dan cobaan yang harus kita lalui, de … setiap kita berjalan satu langkah maka disitu ada satu hikmah yang harus kita petik, yang berguna untuk kehidupan selanjutnya, pandai-pandailah mengambil hikmah dari setiap kejadian baik atau buruk, kata orang bijak kalau kita pengen masuk surga maka kita harus menganggap dunia ini seperti penjara tapi kalau kita menganggap dunia ini adalah surga maka kita akan masuk neraka.”

“Tapi kenapa terkadang Allah ngasih kita cobaan dan ujian yang begitu berat?”

“Allah ngasih kita cobaan dan ujian, itu karena Allah sangat sayang dengan kita, keluarlah dari ujian dan cobaan itu sebagai pemenang, karena Allah tidak akan ngasih kita cobaan dan ujian melebihi batas kemampuan yang kita miliki.”

“Surga itu dimana ya mas? Kenapa banyak orang berlomba-lomba mendapatkannya?”

“Tidak ada satupun orang yang tahu dimana surga dan neraka itu berada, tapi percayalah bahwa keduanya ada, orang ingin berada di surga karena disanalah kehidupan yang sesungguhnya, disana terdapat kenikmatan dan cinta yang sebenarnya, bukan kepalsuan.”

“Gimana ya cara mendapatkannya?”

“Berusahalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.”

“Kalau ketentraman hati dan ketentraman jiwa ada dimana ya? Akhir-akhir ini de de sering merasa gelisah.”

“Ketentraman hati itu berada dalam sholat dan ketentraman jiwa itu ada di atas cinta, kenapa de de gelisah?”

“Entahlah, seringkali kegelisahan itu menghantui jiwa de de.”

“Beribadahlah untuk Allah karena ibadah orang yang cinta kepada Allah untuk taat dan mencari ridho dari-Nya, akan menghilangkan kegelisahan dan mendatangkan ketentraman bagi orang beriman.”

“De de kemarin baca kalimat yang ada kata tadabur, tafakur, ta’amul, dan muraqabah, artinya apa sich mas, de de bingung kalau baca buku nga’ tau arti katanya.”

“Tadabur artinya perenungan, tafakur artinya pemikiran, ta’amul artinya penghayatan, kalau muraqabah artinya pengawasan.”

“Wah … mas Budi pinter banget yach, bisa jadi kamus berjalan nich buat de de, mas Budi udah punya pacar belum sich? Mas budi pasti setia banget ya sama pacarnya?”

“Biasa aja lagi, pacar belum punya. Cinta, rindu, kesetiaan mas Budi seutuhnya dan seluruhnya hanya untuk-Nya, karena semua bersumber dari-Nya.”

“Mas … ada saran dan kritik nga’ buat de de?”

“Mas Cuma ngingetin, kalu emasmu adalah agamamu, perhiasanmu adalah budi pekertimu, dan hartamu adalah sopan santunmu, maka peliharalah itu semua.

“Terima kasih ya mas Budi yang paling baik, senang bisa ngobrol bareng sama mas Budi, kapan pulang ke Kebumen? Jangan lupa mampir ke rumah de de ya?”

“Mungkin satu atau dua bulan lagi, yo nanti kalau sempet insya Allah mas mampir ke rumah de de, terima kasih ya, de de sudah mau menemani mas Budi menjalani kegiatan satu hari ini, salam buat keluarga semua.”

“Terima kasih juga buat semuanya, nanti salamnya de de sampein ke mereka.”

Waktu berjalan dengan begitu cepat hingga aku tak sadar bahwa mentari mulai merangkak, menenggelamkan cahayanya dari sudut kota. Aku dan teman-teman tidak jadi mengelilingi kampus karena aku hanya punya waktu satu hari untuk liburan dan paginya aku harus sudah ada di rumah. Sesampainya di rumah sekitar jam satu malam, sejenak aku melepas lelah, setelah itu aku mengambil air wudhu lalu bermuhasabah dan bermunajat kepada Allah SWT, saat itu aku merasa sangat hina, begitu besar dosa yang selama ini aku perbuat, puing-puing kesalahan yang selalu menghantui perasaanku, saat itu semua kesedihan bercampur menjadi satu dalam rengkuhan cinta-Nya. Saat terdasar adalah saat yang paling nikmat untuk menyadari betapa besar kasih Allah, betapa mahal harga taubat yang menghapus semua kesalahan.

Minggu, 04 Desember 2011

Kisah Lelaki Sejati

Kisah Lelaki Sejati


Aku bertanya pada Bunda, bagaimana memilih lelaki sejati?
Bunda menjawab, Nak...

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang
kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang
disekitarnya....

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang
lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan
kebenaran.....

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat
di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada
generasi muda bangsa ...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia
di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia
dihormati didalam rumah...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya
pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami
persoalan...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang
bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya
wanita yang memuja, tetapi komitmennya terhadap wanita
yang dicintainya...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel
yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi
lika-liku kehidupan...

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya
membaca kitab suci, tetapi dari konsistennya dia
menjalankan apa yang ia baca...