Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juli 2013

Shalat Tarawih 11 Raka'at atau 23 Raka'at

SHALAT TARAWIH 11 ATAU 23 RAKAAT




Sebagian kaum muslimin berpendapat bahwa shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat. Sedangkan sebagian lainnya berpendapat bahwa shalat tarawih tidak boleh lebih dari 11 rakaat atau 13 rakaat. Anggapan seperti ini adalah persangkaan yang bukan pada tempatnya.

Hadits-hadits shahih dari Rasulullah saw. menunjukkan bahwa masalah rakaat qiyamul-lail itu muwassa (bebas). Artinya tidak ada ketentuan batasan jumlah rakaat. Bahkan yang shahih, terkadang Rasulullah saw. melaksanakan 11 rakaat, terkadang 13 rakaat, atau terkadang kurang dari itu, baik pada bulan Ramadhan maupun di luar bulan itu.

Ketika Rasulullah saw. ditanya tentang qiyamul-lail,beliau saw. menjawab:
“Dua rakaat, dua rakaat. Jika salah seorang diantara kalian khawatir (tidak bisa melaksanakan shalat) Subuh, maka ia bisa shalat satu rakaat sebagai witir dari shalat yang sudah dikerjakan.” (Mutafaqun’alaih)

Beliau saw. tidak menentukan jumlah rakaat tertentu, tidak di bulan Ramadhan tidak pula di bulan lainnya. Oleh karena itu, para sahabat Rasulullah saw. pada zaman Khalifah Umar bin Khatab ra. terkadang mengerjakan shalat tarawih sebanyak 23 rakaat, pada saat yang lain 11 rakaat. Semua riwayat itu shahih dari Umar bin Khattab ra.

Sebagian ulama shalaf juga ada yang melakukannya 36 rakaat dengan 3 rakaat witir, dan sebagian lagi melakukan 41 rakaat. Itu disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan ahli ilmu lainnya. Beliau Rahimahullah menyebutkan masalah ini wasi’ (bebas).
Dalam hal ini beliau rahimahullah menyebutkan bahwa orang yang melakukannya dengan memperpanjang bacaannya, ruku’nya dan sujudnya maka sebaiknya ia memperkecil jumlah rakaat.
Dan barang siapa yang memperingan bacaannya, ruku’nya, dan sujudnya maka sebaiknya ia memperbanyak jumlah rakaat.
Ini makna perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Barangsiapa merenungi sunnah Rasulullah saw.,ia pasti akan mengetahui bahwa yang terbaik baginya adalah shalat 11 (sebelas) rakaat atau 13 (tigabelas) rakaat, baik saat Ramadhan maupun pada bulan-bulan lainnya, karena pengamalan yang seperti itu sama dengan yang sering dilakukan oleh Rasulullah saw. Juga karena itu lebih ringan bagi yang melakukan dan lebih dekat kepada kekhusyu’an dan thuma’ninah.  Namun jika ada yang mau menambah jumlah rakaat, maka itu tidak apa-apa.

Sumber: Booklet As-Sunnah No.03-04/Thn.XVII, Bekal Mengarungi Ramadhan, p.19-20


Minggu, 08 Juli 2012

Pendapat Ulama Tentang Kembang Api dan Petasan



KEMBANG API & PETASAN

Kembang api dan petasan sangat disukai anak-anak dan remaja. Di malam bulan Ramadhan, permainan ini biasanya bertambah marak hingga Hari Raya Idul Fitri. Apakah ia seperti permainan yang lain? Mari kita simak pendapat para ulama di zaman ini.
Ahli fiqih abad ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jika ada orang hobi petasan,membeli dan meledakkannya, maka orang seperti ini tergolong safih (bodoh, tidak bisa mengelola hartanya dengan baik) dan harus dihajr (dilarang bertransaksi).”
Menteri Agama Kerajaan Arab Saudi yang juga ulama terkemuka, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Ula Syaikh hafizhullah mengatakan, “Tentang petasan yang menyebabkan gangguan kesehatan atau masalah ekonomi untuk pembelinya, maka hukumnya tidak boleh.”
Permainan ini memiliki banyak unsur negatif seperti membahayakan tubuh dan kesehatannya, merusak lingkungan dan mengganggu ketenangan masyarakat, dan membuang-buang harta secara percuma. Sudah banyak korban yang jatuh dari permainan ini; tangan anak-anak yang hancur karena ledakannya, rumah dan bangunan yang terbakar, mobil yang meledak saat mengangkutnya, dan sebagainya. Karenanya bukan hanya ulama yang melarang permainan ini, pada umumnya orang-orang yang berakal sepakat akan bahayanya, sehingga bisnis ini dilarang secara resmi di banyak negara. Bahkan pedagang petasan yang memperoleh keuntungan banyak dari bisnis ini pun tidak memungkiri bahayanya.
Perlu diketahui juga bahwa para ulama tidak membedakan antara petasan dan kembang api dalam hukum, dan keduanya setali tiga uang dalam berbagai bahaya tersebut di atas.

Kamis, 28 Juni 2012

Pembiasaan Anak-Anak Dalam Islam


PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM ( 3 )
oleh : Yusuf Muhammad Al-Hasan
 
MEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA ENAM TAHUN PERTAMA
Periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periede ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengannyata pada kepribadiannya ketika menjadi dewasa. (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah.)
Karena itu, para pendidik perlu memberikan banyak perhatian pada pendidikan anak dalam periode ini.
Aspek-aspek yang wajib  diperhatikan oleh kedua orangtua dapat kami ringkaskan sebagai berikut:

 
1. Memberikan kasih sayang yang diperlukan anak dari pihak kedua orangtua, terutama ibu.
Ini perlu sekali, agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini,maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. "Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak, jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini, yang dikaruniakan Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya dalam diri ibu, yang memancar dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan anak." (Muhammad Quthub,Manhaiut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2.)
Maka sang ibu hendaklah senantiasa memperhatikan hal ini dan tidak sibuk dengan kegiatan karir di luar rumah, perselisihan dengan suami atau kesibukan lainnya.

 
2. Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan pertama dari awal kehidupannya.
Kami kira, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Telah terbukti bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap, sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini.
Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak, sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang.

 
3. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik bagi anak dari permulaan kehidupannya.
Yaitu dengan menetapi manhaj Islam dalam perilaku mereka secara umum dan dalam pergaulannya dengan anak secara khusus. Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang tejadi di sekitarnya, sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. "Karena kemampuan anak untuk menangkap, dengan sadar atau tidak, adalah besar sekali.  Terkadang  melebihi apa yang kita duga. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. Memang, sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya, itu semua berpengaruh baginya. Sebab, di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru, meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak.
Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. Anak akan menangkap secara tidak sadar,  atau tanpa kesadaran puma, dan akan meniru secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran purna, segala yang dilihat atau didengar di sekitamya." (Ibid.)
 
4. Anak dibiasakan  dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya.
Antara lain:  (Silahkan lihat Ahmad Iuuddin Al  Bayanuni, Minhaj At Tarbiyah Ash Shalihah.)
  • Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus.
  • Dibiasakan  mendahulukan  bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.
  • Dilarang tidur tertelungkup dan dibiasakan tidur dengan miring ke kanan.
  • Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.
  • Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya.
  • Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus.
  • Dilarang bermain dengan hidungnya.
  • Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan.
  • Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain.
  • Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan.
  • Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.
  • Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.
  • Dibiasakan kebersihan mulut dengan menggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan, sebelum tidur, dan sehabis bangun tidur.
  • Dididik untuk mendahulukan  orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil, dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan.
  • Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari.
  • Dibiasakan membaca "Alhamdulillah" jika bersin, dan mengatakan "Yarhamukallah" kepada orang yang bersin jika membaca "Alhamdulillah".
  • Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai bersuara.
  • Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.
  • Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi atau Ibu, dan Abi atau Bapak.
  • Ketika  berjalan  jangan mendahului kedua orang tua atau siapa yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.
  • Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar, bukan di tengah jalan.
  • Tidak membuang sampah di jalanan, bahkan menjauhkan kotoran darinya.
  • Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan "Assalamu 'Alaikum" serta membalas salam orang yang mengucapkannya.
  • Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.
  • Dibiasakan menuruti perintah orang tua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan.
  • Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela, jika memungkinkan. Tapi kalau tidak, dipaksa untuk menerima kebenaran, karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel.
  • Hendaknya kedua orang tua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.
  • Tidak dilarang bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.
  • Ditanamkan kepada anak agar senang pada alat permainan yang dibolehkan seperti bola, mobil-mobilan, miniatur pesawat terbang, dan lain-lainnya. Dan ditanamkan kepadanya agar membenci alat permainan yang mempunyai bentuk terlarang seperti manusia dan hewan.
  • Dibiasakan menghormati milik orang lain, dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain, sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri.

Kamis, 14 Juni 2012

Bolehkah Imam Berbeda Niat dengan Makmum?



BOLEHKAH BERBEDA NIAT ANTARA IMAM DAN MAKMUM DALAM SHALAT BERJAMAAH?

Perbedaan niat antara imam dan makmum diperbolehkan dalam shalat. Misalnya imam berniat shalat sunnah sedang makmum niat shalat wajib atau sebaliknya. Sahabat Mu’adz bin Jabal r.a. shalat Isya’ bersama Rasulullah saw. di Masjid Nabawi, lalu beliau mengimami kaumnya diawali shalat Isya’.

Rasulullah saw. juga pernah shalat Khauf dua kali masing-masing untuk sekelompok sahabat dan sekali yang lain untuk sekelompok sahabat yang lain yang tadinya menjaga musuh.

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Tirmidzi: 219 yang artinya:

Jika kamu telah shalat di tempatmu, lalu kamu mendatangi masjid yang kamu jumpai sedang ditegakkan shalat berjama’ah, maka shalatlah kamu bersama mereka, dan shalatmu (yang kedua) bagimu sunnah.”

Bagi seseorang yang telah menunaikan shalat fardu, lalu menjumpai di suatu masjid shalat berjamaah sedang ditegakkan, maka boleh baginya bahkan dianjurkan untuk mengikuti shalat berjamaah lagi, hukum shalat yang dilakukan kedua adalah sunnah.

Dalam pelaksanaan shalat ini menunjukkan bahwa Imam shalat wajib sedang makmum shalat sunnah. Perbedaan niat shalat antara imam dan ma’mum diperbolehkan dan tidak membatalkan shalat masing-masing. Wallahua'lam.

Baca: Al Furqon Edisi 12 Th ke-11, p.30

Untuk Kita Renungkan




MUTIARA TELADAN
Sunnah vs Bid’ah

Sunnah adalah seperti kapal Nabi Nuh a.s. yang siapa saja mau menumpanginya, berlayar di atasnya maka ia akan terselamatkan dari tsunami syubhat dan syahwat, sesungguhnya hati adalah lemah sedangkan syubhat menyambar bagaikan petir.
Bila anda adalah orang yang kuat maka lawanlah syubhat tersebut sekuat tenaga dan yakinilah bahwa kebenaran akan menang dan kebatilan akan hancur.
Namun bila anda merasa diri anda lemah maka berlarilah dari syubhat dan kebid’ahan sejauh-jauhnya, lebih jauh dari pada berlari dari serigala lapar, karena serigala hanya merusak jasad sedangkan syubhat merusak dan menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat.
Dahulu Sufyan ats-Tsaauri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya kebid’ahan lebih dicintai Iblis ketimbang maksiat, yang demikian itu karena pelaku maksiyat masih menyadari bahwa dirinya berada di atas kesalahan sehingga ia bertaubat darinya. NAMUN PELAKU BID’AH TIDAK AKAN BERTAUBAT KARENA IA MERASA BERADA DI ATAS KEBENARAN.”
Semoga Allah swt. merahmati sahabat Abdullah bin Mas’ud r.a. tatkala mengatakan, “SEDERHANA DI ATAS SUNNAH JAUH LEBIH BAIK DARIPADA BERSUNGGUH-SUNGGUH TETAPI DI ATAS KEBID’AHAN.”
Semoga kita semua ditunjukkan jalan kebenaran dan diberikan taufiq oleh Allah swt. untuk mengikutinya dan semoga kita ditunjukkan jalan kebatilan dan diberi kekuatan untuk meninggalkannya, Amin.

Sumber: Al Furqon Edisi 11 Th. Ke-11, p. 73.

Rabu, 13 Juni 2012

Penyakit 'UJUB" bagi YANG MERASA dirinya: 'ALIM, HEBAT, PINTAR, KAYA...!!!!



PENYAKIT UJUB TERHADAP DIRI SENDIRI DAN AMAL
 
Salah seorang ulama salaf pernah berkata: "Seorang yang ujub akan tertimpa dua kehinaan, akan terbongkar kesalahan-kesalahannya dan akan jatuh martabatnya di mata manusia."
Salah seorang ahli hikmah berkata: "Ada seorang yang terkena penyakit ujub, akhirnya ia tergelincir dalam kesalahan karena saking ujubnya terhadap diri sendiri. Ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari orang itu, ketika ia berusaha jual mahal dengan kemampuan dirinya, maka Imam Syafi'i pun memban-tahnya seraya berseru di hadapan khalayak ramai: "Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri sendiri seca-ra berlebihan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menjatuhkan mar-tabatnya."
 
Defenisi Ujub
Orang yang terkena penyakit ujub akan meman-dang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan mengang-gapnya bagai angin lalu. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits:

"Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya."
(HR. Al-Bukhari)
Bisyr Al-Hafi mendefenisikan ujub sebagai berikut: "Yaitu menganggap hanya amalanmu saja yang banyak dan memandang remeh amalan orang lain."
Barangkali gejala paling dominan yang tampak pada orang yang terkena penyakit ujub adalah sikap suka melanggar hak dan menyepelekan orang lain. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah meringkas defenisi ujub sebagai berikut: "Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara' dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya!"
Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam dengan salah satu dari tiga perkara ini: ujub terhadap diri sendiri, menganggap amalnya sudah banyak dan lupa terhadap dosa-dosanya. Dia berkata: "Saya tidak akan mencari cara lain." Semua perkara di atas adalah sumber kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam karena tiupan angin? Berapa banyak ibadah yang rusak karena penyakit ujub? Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa seorang lelaki berkata: "Allah tidak akan mengampuni si Fulan! Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala pun berkata:

"Siapakah yang lancang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni Fulan?! Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapus amalan-mu!"
(HR. Muslim)
Amal shalih itu ibarat sinar dan cahaya yang terka-dang padam bila dihembus angin ujub!
 
Sebab-Sebab Ujub
1. Faktor Lingkungan dan Keturunan
Yaitu keluarga dan lingkungan tempat seseorang itu tumbuh. Seorang insan biasanya tumbuh sesuai dengan polesan tangan kedua orang tuanya. Ia akan menyerap kebiasaan-kebiasaan keduanya atau salah satunya yang positif maupun negatif, seperti sikap senang dipuji, selalu menganggap diri suci dll.
2. Sanjungan dan Pujian yang Berlebihan
Sanjungan berlebihan tanpa memperhatikan etika agama dapat diidentikkan dengan penyembelihan, seba-gaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits. Sering kita temui sebagian orang yang terlalu berlebihan dalam memuji hingga seringkali membuat yang dipuji lupa diri. Masalah ini akan kami bahas lebih lanjut pada bab berikut.
3. Bergaul Dengan Orang yang Terkena Penyakit Ujub
Tidak syak lagi bahwa setiap orang akan melatahi tingkah laku temannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri bersabda:

"Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Teman akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang.
4. Kufur Nikmat dan Lupa Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
Begitu banyak nikmat yang diterima seorang hamba, tetapi ia lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberinya nikmat itu. Sehingga hal itu menggiringnya kepada penyakit ujub, ia membanggakan dirinya yang sebenarnya tidak pantas untuk dibanggakan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menceritakan kepada kita kisah Qarun;
"Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". (Al-Qashash: 78)
5. Menangani Suatu Pekerjaan Sebelum Matang Dalam Menguasainya dan
    Belum Terbina Dengan Sempurna

Demi Allah, pada hari ini kita banyak mengeluhkan problematika ini, yang telah banyak menimbulkan berbagai pelanggaran. Sekarang ini banyak kita temui orang-orang yang berlagak pintar persis seperti kata pepatah 'sudah dipetik sebelum matang'. Berapa banyak orang yang menjadi korban dalam hal ini! Dan itu termasuk perbuatan sia-sia. Yang lebih parah lagi adalah seorang yang mencuat sebagai seorang ulama padahal ia tidak memiliki ilmu sama sekali. Lalu ia berkomentar tentang banyak permasalahan, yang terkadang ia sendiri jahil tentang hal itu. Namun ironinya terkadang kita turut menyokong hal seperti ini. Yaitu dengan memperkenalkannya kepada khalayak umum. Padahal sekarang ini, masyarakat umum itu ibaratnya seperti orang yang menganggap emas seluruh yang berwarna kuning. Kadangkala mereka melihat seorang qari yang merdu bacaannya, atau seorang sastrawan yang lihai berpuisi atau yang lainnya, lalu secara membabi buta mereka mengambil segala sesuatu dari orang itu tanpa terkecuali meskipun orang itu mengelak seraya berkata: "Aku tidak tahu!"
Perlu diketahui bahwa bermain-main dengan sebuah pemikiran lebih berbahaya daripada bermain-main dengan api. Misalnya beberapa orang yang berse-pakat untuk memunculkan salah satu di antara mereka menjadi tokoh yang terpandang di tengah-tengah kaumnya, kemudian mengadakan acara penobatannya dan membuat-buat gelar yang tiada terpikul oleh siapa pun. Niscaya pada suatu hari akan tersingkap kebobrok-annya. Mengapa!? Sebab perbuatan seperti itu berarti bermain-main dengan pemikiran. Sepintas lalu apa yang mereka ucapkan mungkin benar, namun lambat laun masyarakat akan tahu bahwa mereka telah tertipu!
6. Jahil dan Mengabaikan Hakikat Diri (Lupa Daratan)
Sekiranya seorang insan benar-benar merenungi dirinya, asal-muasal penciptaannya sampai tumbuh men-jadi manusia sempurna, niscaya ia tidak akan terkena penyakit ujub. Ia pasti meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dihindarkan dari penyakit ujub sejauh-jauhnya. Salah seorang penyair bertutur dalam sebuah syair yang dituju-kan kepada orang-orang yang terbelenggu penyakit ujub:
Hai orang yang pongah dalam keangkuhannya.
Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina.
Sekiranya manusia merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua.
Apakah ada anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala?
Namun demikian, lima macam kotoranlah yang keluar darinya!
Hidung beringus sementara telinga baunya tengik.
Tahi mata berselemak sementara dari mulut mengalir air liur.
Hai bani Adam yang berasal dari tanah, dan bakal dilahap tanah,tahanlah dirimu (dari kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak.
Penyair ini mengingatkan kita pada asal muasal penciptaan manusia dan keadaan diri mereka serta kesu-dahan hidup mereka. Maka apakah yang mendorong mereka berlagak sombong? Pada awalnya ia berasal dari setetes mani hina, kemudian akan menjadi bangkai yang kotor sedangkan semasa hidupnya ke sana ke mari membawa kotoran.
7. Berbangga-bangga Dengan Nasab dan Keturunan
Seorang insan terkadang memandang mulia diri-nya karena darah biru yang mengalir di tubuhnya. Ia menganggap dirinya lebih utama dari si Fulan dan Fulan. Ia tidak mau mendatangi si Fulan sekalipun ber-kepentingan. Dan tidak mau mendengarkan ucapan si Fulan. Tidak syak lagi, ini merupakan penyebab utama datangnya penyakit ujub.
Dalam sebuah kisah pada zaman kekhalifahan Umar radhiyallahu 'anhu disebutkan bahwa ketika Jabalah bin Al-Aiham memeluk Islam, ia mengunjungi Baitullah Al-Haram. Sewaktu tengah melakukan thawaf, tanpa sengaja se-orang Arab badui menginjak kainnya. Tatkala mengetahui seorang Arab badui telah menginjak kainnya, Jabalah langsung melayangkan tangannya memukul si Arab badui tadi hingga terluka hidungnya. Si Arab badui itu pun melapor kepada Umar radhiyallahu 'anhu mengadukan tindakan Jabalah tadi. Umar radhiyallahu 'anhu pun memanggil Jabalah lalu ber-kata kepadanya: "Engkau harus diqishash wahai Jabalah!" Jabalah membalas: "Apakah engkau menjatuhkan hukum qishash atasku? Aku ini seorang bangsawan se-dangkan ia (Arab badui) orang pasaran!" Umar radhiyallahu 'anhu menjawab: "Islam telah menyamaratakan antara kalian berdua di hadapan hukum!"
Tidakkah engkau ketahui bahwa:
Islam telah meninggikan derajat Salman seorang pemuda Parsi
Dan menghinakan kedudukan Abu Lahab ka-rena syirik yang dilakukannya.
Ketika Jabalah tidak mendapatkan dalih untuk melepaskan diri dari hukuman, ia pun berkata: "Berikan aku waktu untuk berpikir!" Ternyata Jabalah melarikan diri pada malam hari. Diriwayatkan bahwa Jabalah ini akhirnya murtad dari agama Islam, lalu ia menyesali perbuatannya itu. Wal 'iyadzubillah
8. Berlebih-lebihan Dalam Memuliakan dan Menghormati
Barangkali inilah hikmahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang sahabat-sahabat beliau untuk berdiri menyambut beliau. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri menyambutnya, maka bersiaplah dia untuk menempati tempatnya di Neraka."
(HR. At-Tirmidzi, beliau katakan: hadits ini hasan)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Janganlah kamu berdiri menyambut seseorang seperti yang dilakukan orang Ajam (non Arab) sesama mereka."
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu)
9. Lengah Terhadap Akibat yang Timbul dari Penyakit Ujub
Sekiranya seorang insan menyadari bahwa ia hanya menuai dosa dari penyakit ujub yang menjangkiti dirinya dan menyadari bahwa ujub itu adalah sebuah pelanggaran, sedikitpun ia tidak akan kuasa bersikap ujub. Apalagi jika ia merenungi sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

"Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang diinjak-injak manusia." Ada seseorang yang bertanya: "Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?" Rasulullah menjawab: "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain." (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, awal hadits berbunyi: "Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya).

 
Dampak ujub
1. Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.
2. Dijauhkan dari pertolongan ilahi. Allah shallallahu 'alaihi wasallam berfirman:
"Orang-orang yang berjihad (untuk mencari keri-dhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (Al-Ankabut: 69)
3. Terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan.
Bila cobaan dan musibah datang menerpa, orang-orang yang terjangkiti penyakit ujub akan berteriak: 'Oii teman-teman, carilah keselamatan masing-masing!' Berbeda halnya dengan orang-orang yang teguh di atas perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala , mereka tidak akan melanggar rambu-rambu, sebagaimana yang dituturkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.
Siapakah yang mampu lari dari hari kematian?
Bukankah hari kematian hari yang telah ditetap-kan?
Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya.
Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?
4. Dibenci dan dijauhi orang-orang. Tentu saja, seseorang akan diperlakukan sebagaimana ia memperla-kukan orang lain. Jika ia memperlakukan orang lain dengan baik, niscaya orang lain akan membalas lebih baik kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghor-matan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)." (An-Nisa': 86)
Namun seseorang kerap kali meremehkan orang lain, ia menganggap orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Tentu saja tidak ada orang yang senang kepadanya. Sebagaimana kata pepatah 'Jika engkau menyepelekan orang lain, ingatlah! Orang lain juga akan menyepelekanmu'
5. Azab dan pembalasan cepat ataupun lambat. Se-orang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan pembalasan atas sikapnya itu. Dalam sebuah hadits dise-butkan:

"Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat."
(HR. Al-Bukhari)
Hukuman ini dirasakannya di dunia akibat sifat ujub. Seandainya ia lolos dari hukuman tersebut di du-nia, yang jelas amalnya pasti terhapus. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan tentang seorang yang bersumpah atas nama Allah bahwa si Fulan tidak akan diampuni, ternyata Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni si Fulan dan menghapus amalnya sendiri.
Dengan begitu kita harus berhati-hati dari sifat ujub ini, dan hendaknya kita memberikan nasihat kepada orang-orang yang terkena penyakit ujub ini, yaitu orang-orang yang menganggap hebat amal mereka dan menyepelekan amal orang lain./


Senin, 23 April 2012

STOP ! ..... SETAN DILARANG MASUK !

AGAR RUMAH TIDAK DIMASUKI SETAN DAN SIHIR

Setan musuh utama bagi anak Adam. Bukanlah bapak kita Adam as. tergoda oleh iblis juga, anak yang baru lahir menangis karena disentuh oleh setan, maka bagaimana diri kita yang sudah dewasa. Lalu bagaimana agar rumah kita tidak didiami oleh setan?

§ Jangan lupa setiap hendak makan dan minum, dan setiap masuk rumah selalu membaca basmalah

Rasulullah saw. bersabda:

“Apabila seseorang masuk ke dalam rumah-nya, lalu ia membaca bismillah ketika masuk dan ketika menghadapi makanannya, maka setan akan berkata kepada teman-temannya, ‘Tidak ada tempat bermalan dan tidak ada pula makan malam untuk kalian.’ “ HR. Muslim 6/108 no. 1302

§ Hendaknya rumah dimakmurkan dengan membaca al-Qur'an terutama pada waktu malam, karena umumnya sihir datang pada malam hari.

Rasulullah saw. bersabda:

“Bacalah surah al-Baqarah, karena ada keberkahan dengan membacanya dan terdapat penyesalan jika tidak membacanya! selain itu, Surah al-Baqarah juga tidak dapat tertandingi oleh para bathalah (tukang sihir).” HR. Muslim 2/197 no. 2104

§ Tutuplah bejana dan hindari anak kecil keluar pada saat terbenam matahari.

Rasulullah saw. bersabda:

“Apabila hari mulai malam atau malam telah tiba, maka tahanlah anak-anak kalian, karena saat itu setan berkeliaran, apabila malam sudah mulai larut maka lepaskanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumah kalian dan bacalah basmalah, karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup, dan tutuplah tempat air minum kalian sambil membaca basmalah dan tutup pula wadah-wadah kalian sambil baca basmalah walaupun hanya dengan sesuatu yang dapat menutupinya.” HR. Bukhari no. 5192

§ Jauhkanlah rumah dari suara nyanyian dan peralatan yang membuat penghuninya lupa ibadah.

Rasulullah saw., bersabda:

“Genta (lonceng gereja) itu adalah seruling setan”. HR. Muslim 6/163

§ Jangan lupa sebelum tidur membaca:

*) Surat al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas tiga kali,

*) Ayat Kursi, dan

*) doa sebelum tidur.

Insya Allah kita dijaga oleh Allah swt.

Wallahu a’lam.

Sumber: Al Furqon, Edisi 9 Th. Ke-11, p. 9-10

MUNAFIQ


MUNAFIQ: “Orang-Orang Munafiq”



Q.S. Al Hadid (57) : 13
“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah Kami supaya Kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa”.
Salah satu ciri munafiqin adalah ketika berkumpul dengan orang beriman, ia mengatakan bahwa ia adalah teman, ia masuk dalam golongan orang beriman tersebut. Padahal setelah ia pergi, kembali ia berkumpul dengan golongan mereka yang sebenarnya, berbuat dosa dan kemungkaran. Tingkah lakunya yang seperti bunglon adalah untuk melindungi dirinya supaya dia dikatakan orang yang baik.
Orang-orang munafiq menyangka bahwa tingkah lakunya tidak diketahui, padahal Allah Maha Mengetahui keadaan hambanya, apa-apa yang tersembunyi di hatinya sekalipun.
Kelak di hari kiamat, di Padang Mahsyar, ketika manusia mengikuti Sesembahannya. Yang dahulu di dunia menyembah salib, gunung, matahari, berhala, dan lainnya, maka di Padang Mahsyar dia akan mencari sesembahannya tersebut, mengikutinya, kemudian merekapun akan berjatuhan di neraka jahanan untuk selama-lamanya. Maka tinggallah di Mahsyar 2 golongan yaitu Kaum Muslimin dan Orang-orang munafiq.
Orang-orang munafiq memohon kepada kaum muslimin, agar mau menunggu, agar mereka mendapatkan cahaya dari kaum muslimin. Artinya Kaum muslimin akan mendapatkan cahaya yang terang-bendarang, sedangkan orang-orang munafik akan diliputi kegelapan, gelap gulita.
Kaum muslimin tidak mau menunggu kaum munafiqin kemudian menyuruh mereka untuk kembali dan mencari cahayanya sendiri. Lalu diantara mereka ada dinding pemisah kaum muslimin berada di bagian yang penuh kenikmatan yaitu surga, sedangkan orang-orang munafiq disiksa di neraka.

Q.S. Al Baqarah (2) : 8 – 20
“8. Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian[22]," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”.
“9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”.
Sesungguhnya dalam hati munafiqin ada penyakit, mereka berada dalam kesesatan tapi Allah menjerumuskan mereka sehingga semakin berada dalam kesesatan.
“10. Dalam hati mereka ada penyakit[23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
11. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan."
12. Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”.
“13. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." mereka menjawab: "Akan berimankah Kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu”.
Ketika ada yang mengingatkan mereka, maka justru mengatakan bahwa perbuatannya untuk kebaikan. Mereka tidak mendasarkan perbuatannya dengan Al Qur’an dan As Sunnah, melainkan berdasarkan akal pikiran dan perasaan semata. Mengapa di Mahsyar dia tetap berada bersama kaum muslimin, tidak mengikuti salib atau berhala, karena mereka merasa menyembah Allah, padahal sebenarnya tidak demikian. Mereka telah berbuat kerusakan tetapi tidak menyadarinya karena Allah telah menyesatkan mereka.
“14. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka[25], mereka mengatakan: "Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok."
15. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.
16. Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”.
Ketika bergaul dengan orang-orang beriman yang shalat, puasa dan ibadah lainnya, mereka mengatakan bahwa dia shalat, puasa, dll, tetapi setelah itu dia kembali kepada kelompoknya sambil mengatakan sebenarnya kami adalah kelompok kalian.
Ketahuilah bahwa Allah akan membiarkan mereka terombang-ambing, mereka akan diliputi kecemasan, was-was, seberapa besarpun keuntungan yang mereka dapatkan, hakikatnya tak berarti dan tak bermanfaat bagi mereka, karena hatinya tak akan pernah tenang.
“17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api[26], Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
18. Mereka tuli, bisu dan buta[27], Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
19. Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati[28]. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir[29].
20. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”.
Apa yang diperolehnya di dunia hanyalah kenikmatan semu belaka, kalaupun hartanya melimpah, tapi tak pernah ia rasakan kenikmatan, ketenangan, dan kebahagiaan. Semuanya karena kejahilan diri mereka sendiri yang jauh dari rahmat dan petunjuk Allah SWT.
[22] Hari kemudian Ialah: mulai dari waktu mahluk dikumpulkan di padang mahsyar sampai waktu yang tak ada batasnya.
[23] Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.
[24] Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
[25] Maksudnya: pemimpin-pemimpin mereka.
[26] Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.
[27] Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh karena tidak dapat menerima kebenaran.
[28] Keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan, adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. mereka menyumbat telinganya karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Quran itu.
[29] Maksudnya pengetahuan dan kekuasaan Allah meliputi orang-orang kafir.
67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang Munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648]. mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.
68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.
Ciri orang munafiq lainnya yaitu :
1. menyuruh berbuat munkar
2. melarang berbuat ma’ruf
3. berlaku kikir
4. melupakan Allah
Allah menggolongkan mereka termasuk orang-orang yang fasik, kelak balasan bagi mereka adalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mengapa mereka dapat kekal di neraka, karena mereka melupakan Allah, berbuat sirik, menyekutukan-Nya.
[648] Maksudnya: Berlaku kikir

Rabu, 11 Januari 2012

Doa Sujud Tilawah

DOA SUJUD TILAWAH


(òÅÎø´ø»Bòbô»A óÅònôYC óÉ÷¼»A òºòiBòJòNò¯) óÊòjòvòIòË óÉò¨ôÀòm úµòqòË óÊòiúÌòuòË óÉò´ô¼òa Ðøhú¼ø» ÏøÈôUòË òfòVòm

“Wajahkubersujud kepada Rabb yang telah menciptakannya, yang telah membelah pendengarannya dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya, maka Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.”

Sujud Tilawah dipandang sunat oleh jumhur ulama. Sujud ini boleh dilakukan kapan saja, siang atau malam, dalam keadaan sudah berwudhu ataupun belum, dengan menghadap kiblat atau tidak. Baik dalam keadaan shalat ataupun tidak. Namun tentu, jika dilakukan dalam keadaan suci dan dengan menghadap kiblat tentu akan lebih baik. Jika dilakukan dalam keadaan shalat, maka tentu wajib dalam keadaan suci dan menghadap qiblat.

Sujud ini dilakukan dengan sekali sujud saja, tanpa takbiratul ihram dan tanpa salam. Sujud ini disunahkan ketika membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah yang tersebar di lima belas tempat dalam al-Qur'an. Diantaranya dalam surat:

Al-A’raf (7): 206

Ar-Rad (13): 15

An-Nahl (16): 49

Al-Isra (17): 107-109

Al-Maryam (19): 58

Al-Furqon (25): 60

Al-Hajj (22): 18

Dll.

Minggu, 18 Desember 2011

Sejarah Islam

SEJARAH TIMBULNYA PERMASALAHAN-PERMASALAHAN

TEOLOGI DALAM ISLAM

Agak aneh kiranya kalau dikatakan bahwa dalam Islam, sebagai agama, persoalan yang pertama-tama timbul adalah dalam bidang politik dan bukan dalam bidang teologi. Tetapi persoalan politik ini segera meningkat menjadi persoalan teologi. Agar hal ini menjadi jelas perlulah kita terlebih dahulu kembali sejenak kedalam sejarah Islam, tegasnya ke dalam fase perkembangannya yang pertama.

Ketika Nabi Muhammad saw mulai menyiarkan ajaran-ajaran Islam yang beliau terima dari Allah swt di Mekkah, kota ini mempunyai system kemasyarakatan yang terletak di bawah pimpinan suku bangsa Quraisy.

Di pertengahan ke dua dari abad ke-enam Masehi, jalan dagang Timur – Barat berpindah ke Teluk Persia – Euphrat di Utara dan Laut Merah – Perlembahan Nil di Selatan, ke Yaman – Hijaz – Syria. Peperangan yang senantiasa terjadi antara kerajaan Byzantin dan Persia membuat jalan Utara tak selamat dan tak menguntungkan bagi dagang. Mesir, mungkin juga sebagai akibat dari peperangan Byzantin dan Persia, berada dalam kekacauan yang mengakibatkan perjalanan dagang melalui Perlembahan Nil tidak menguntungkan pula. Selengkapnya di sini........