Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juli 2013

Shalat Tarawih 11 Raka'at atau 23 Raka'at

SHALAT TARAWIH 11 ATAU 23 RAKAAT




Sebagian kaum muslimin berpendapat bahwa shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat. Sedangkan sebagian lainnya berpendapat bahwa shalat tarawih tidak boleh lebih dari 11 rakaat atau 13 rakaat. Anggapan seperti ini adalah persangkaan yang bukan pada tempatnya.

Hadits-hadits shahih dari Rasulullah saw. menunjukkan bahwa masalah rakaat qiyamul-lail itu muwassa (bebas). Artinya tidak ada ketentuan batasan jumlah rakaat. Bahkan yang shahih, terkadang Rasulullah saw. melaksanakan 11 rakaat, terkadang 13 rakaat, atau terkadang kurang dari itu, baik pada bulan Ramadhan maupun di luar bulan itu.

Ketika Rasulullah saw. ditanya tentang qiyamul-lail,beliau saw. menjawab:
“Dua rakaat, dua rakaat. Jika salah seorang diantara kalian khawatir (tidak bisa melaksanakan shalat) Subuh, maka ia bisa shalat satu rakaat sebagai witir dari shalat yang sudah dikerjakan.” (Mutafaqun’alaih)

Beliau saw. tidak menentukan jumlah rakaat tertentu, tidak di bulan Ramadhan tidak pula di bulan lainnya. Oleh karena itu, para sahabat Rasulullah saw. pada zaman Khalifah Umar bin Khatab ra. terkadang mengerjakan shalat tarawih sebanyak 23 rakaat, pada saat yang lain 11 rakaat. Semua riwayat itu shahih dari Umar bin Khattab ra.

Sebagian ulama shalaf juga ada yang melakukannya 36 rakaat dengan 3 rakaat witir, dan sebagian lagi melakukan 41 rakaat. Itu disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan ahli ilmu lainnya. Beliau Rahimahullah menyebutkan masalah ini wasi’ (bebas).
Dalam hal ini beliau rahimahullah menyebutkan bahwa orang yang melakukannya dengan memperpanjang bacaannya, ruku’nya dan sujudnya maka sebaiknya ia memperkecil jumlah rakaat.
Dan barang siapa yang memperingan bacaannya, ruku’nya, dan sujudnya maka sebaiknya ia memperbanyak jumlah rakaat.
Ini makna perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Barangsiapa merenungi sunnah Rasulullah saw.,ia pasti akan mengetahui bahwa yang terbaik baginya adalah shalat 11 (sebelas) rakaat atau 13 (tigabelas) rakaat, baik saat Ramadhan maupun pada bulan-bulan lainnya, karena pengamalan yang seperti itu sama dengan yang sering dilakukan oleh Rasulullah saw. Juga karena itu lebih ringan bagi yang melakukan dan lebih dekat kepada kekhusyu’an dan thuma’ninah.  Namun jika ada yang mau menambah jumlah rakaat, maka itu tidak apa-apa.

Sumber: Booklet As-Sunnah No.03-04/Thn.XVII, Bekal Mengarungi Ramadhan, p.19-20


Senin, 15 April 2013

Membaca Bismillahirahmanirrahim Ketika Shalat



TIDAK MENGERASKAN
“BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM”


Sebagian kalangan menganggap bahwa “Bismillahirahmanirrahim” harus dibaca sabagaimana dibaca Surat al-Fatihah, bahkan ada yang mengulangi shalatnya jika imamnya tidak mengeraskan “Bismillahirahmanirrahim” karena menganggap salatnya tidak sah. Lalu bagaimana kedudukan “Bismillahirahmanirrahim” dalam Surat al-Fatihah dan dalam shalat?

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum bacaan “Bismillahirahmanirrahim” sebelum al-Fatihah:

Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa “Bismillahirahmanirrahim” tidak dibaca secara total dalam shalat baik shalat jahriyah (dibaca keras) maupun sirriyah (dibaca lirih). Dalilnya hadits Anas ra beliau berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah saw., Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka semua membuka bacaannya dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, mereka semua tidak megucapkan ‘Bismillahirahmanirrahim’ baik di awal atau di akhirnya.” (HR. Muslim)

Imam Syafi’i rahimahullah berpendapat bahwa “Bismillahirahmanirrahim” wajib dibaca setiap kali membaca al-fatihah karena ia termasuk salah satu ayat Surat al-Fatihah, jika shalatnya jahriyah maka dibaca jahriyah, dan jika sirriyah maka dibaca sirriyah, pendapat ini didasari oleh hadits Nu’aim al-Mujmir berkata: “Aku pernah shalat bersama Abu Hurairah ra beliau membaca ‘Bismillahirahmanirrahim’, lalu membaca al-Fatihah ... dan diakhir hadits (Nu’aim berkata), Abu Hurairah berkata, ’Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku orang yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah saw.” (HR. Nasai dan Ibnu Khuzaimah)
Dalil lain adalah hadits Rasulullah saw. beliau bersabda: “Apabila engkau membaca ‘Alhamdulillah’, maka bacalah ‘Bismillahirahmanirrahim’, sesungguhnya ia termasuk dari Ummul Qur’an dan Ummul Kitab dan 7 (ayat) yang diulang-ulang, dan ‘Bismillahirahmanirrahim’ termasuk salah satunya.” (HR. Baihaqi, Daruquthni)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa “Bismillahirahmanirrahim” harus dibaca dalam shalat, hanya saja membacanya lirih tidak dijaharkan. Inilah pendapat yang paling kuat, dengan beberapa alasan, di antaranya:
  1. ·         Anas ra. menjelaskan bahwa Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin ketika menjadi imam, tidak menjaharkannya. Anas ra. berkata: “Sesungguhnya Nabi Muhammad saw., Abu Bakar, dan Umar, mereka membuka bacaan shalatnya dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. ·         Dalam riwayat lain, Anas bin Malik ra menegaskan: “Mereka (Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin) tidak menjaharkan ‘Bismillahirahmanirrahim’.” (HR. Nasai)
  3. ·         Dalam riwayat lain, Anas ra. menegaskan: “Mereka (Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin) melirihkan (Bismillahirahmanirrahim).”  (HR. Ibnu Khuzaimah)
  4. ·         Dalam sebuah hadits qudsi, Allah swt. berfirman: “Aku membagi shalat itu separuh untuk-Ku dan separuh lagi untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku berhak mendapat apa yang ia minta, jika ia (hamba-Ku) mengucapkan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’, jika mengucapkan ‘Arrahmanirrahim’, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku’ ...” (HR. Muslim).  Hadits ini menegaskan bahwa yang dibaca pertama kali adalah “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” bukan “Bismillahirahmanirrahim”.
  5. ·         Adapun peniadaan bacaan “Bismillahirahmanirrahim” dalam tambahan riwayat Muslim maka maksudnya adalah mereka melirihkannya sehingga tidak terdengar oleh makmum. (Demikian disampaikan oleh Ibnu Hajar dalam penjelasan hadits ini)
  6. ·         Adapun hadits Nu’aim al-Mujmir, maka Ibnul Qayyim berkata, “Hadits (Nu’aim) tentang dijaharkannya ‘Bismillahirahmanirrahim’ (oleh Abu Hurairah), maka Nu’aim bersendirian (meriwayatkan dari Abu Hurairah) di antara sekian banyak para sahabat Abu Hurairah ra. yang berjumlah 8 (delapan) perawi dari para sahabat Nabi saw. atau tabi’in (yang tidak meriwayatkan seperti Nu’aim).”
  7. ·         Adapun hadits perintah membaca “Bismillahirahmanirrahim” (HR. Baihaqi, Daruquthni), maka diperselisihkan keabsahannya; jika dianggap shahih maka tidak terdapat di dalamnya perintah menjaharkan “Bismillahirahmanirrahim”, tetapi hanya sekedar membaca dan ini tidak bertentangan dengan melirihkan sebagaimana kebiasaan Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin.


Kesimpulan. Berkata Siddiq Hasan Khan, “Bismillahirahmanirrahim termasuk bagian dari al-Qur'an. Perselisihan masalah ‘Bismillahirahmanirrahim’ sangat panjang sebab perbedaan madzhab.” Lalu beliau menyimpulkan, “Yang lebih dekat kepada kebenaran, yaitu sunnahnya Nabi saw. tentang ‘Bismillahirahmanirrahim’ adalah tidak dijaharkan dalam shalat dengan dasar hadits Bukhari dan Muslim, sedangkan sebagian ulama pentahqiq memilih pendapat bahwa ‘Bismillahirahmanirrahim’ dijaharkan jika shalatnyaa jahriyah dan disamarkan jika shalatnya sirriyah.”

Al-Furqon Ed.12 Th.11, p.28-29


Kamis, 14 Juni 2012

Bolehkah Imam Berbeda Niat dengan Makmum?



BOLEHKAH BERBEDA NIAT ANTARA IMAM DAN MAKMUM DALAM SHALAT BERJAMAAH?

Perbedaan niat antara imam dan makmum diperbolehkan dalam shalat. Misalnya imam berniat shalat sunnah sedang makmum niat shalat wajib atau sebaliknya. Sahabat Mu’adz bin Jabal r.a. shalat Isya’ bersama Rasulullah saw. di Masjid Nabawi, lalu beliau mengimami kaumnya diawali shalat Isya’.

Rasulullah saw. juga pernah shalat Khauf dua kali masing-masing untuk sekelompok sahabat dan sekali yang lain untuk sekelompok sahabat yang lain yang tadinya menjaga musuh.

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Tirmidzi: 219 yang artinya:

“Jika kamu telah shalat di tempatmu, lalu kamu mendatangi masjid yang kamu jumpai sedang ditegakkan shalat berjama’ah, maka shalatlah kamu bersama mereka, dan shalatmu (yang kedua) bagimu sunnah.”

Bagi seseorang yang telah menunaikan shalat fardu, lalu menjumpai di suatu masjid shalat berjamaah sedang ditegakkan, maka boleh baginya bahkan dianjurkan untuk mengikuti shalat berjamaah lagi, hukum shalat yang dilakukan kedua adalah sunnah.

Dalam pelaksanaan shalat ini menunjukkan bahwa Imam shalat wajib sedang makmum shalat sunnah. Perbedaan niat shalat antara imam dan ma’mum diperbolehkan dan tidak membatalkan shalat masing-masing. Wallahua'lam.

Baca: Al Furqon Edisi 12 Th ke-11, p.30

Jumat, 13 Januari 2012

Menjaga Diri dari TIPUAN SYAITAN


Tipuan Syaitan Terhadap Mereka Yang Beribadat

Adapun tipuan serta ajakan syaitan terhadap manusia agar meninggalkan beribadah kepada Allah Taala ada 7 macam jalan;

1. Syaitan melarang manusia, agar jangan taat kepada Allah. Orang-orang yang dipelihara Allah, akan menolak ajakan itu dan akan berkata:
Aku sangat memerlukan sekali kepada pahala dari Allah, kerana aku harus mempunyai bekal dari dunia untuk akhirat yang kekal abadi.

2. Bila pujukan pertama tidak berhasil, maka syaitan mengajak manusia untuk mengakhiri taat; nanti saja atau kalau sudah tua, dan sebagainya. Orang-orang yang terpelihara akan menolak ajakan itu dan akan berkata:
Ajalku bukan pada tanganku; jika aku menunda-nunda amal hari ini untuk esok, maka amal hari esok bila akan aku kerjakan, padahal tiap-tiap hari dan waktu mempunyai amal tersendiri dan hak hukum waktunya.

3. Kadang-kadang syaitan akan mendorong manusia supaya terburu-buru mengerjakan amal baik dengan amat segera dan katanya: Ayuh' cepat-cepat beramal supaya engkau dapat memburu lagi amal lainnya. Orang-orang yang selamat tentu menolak dan berkata:
Amal yang sedikit tapi sempurna lebih baik daripada amal banyak tetapi tidak sempurna. Dalam hal Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda dengan maksud:
"Tergopoh-gopoh itu pembawaan dari syaitan, kecuali dalam lima perkara;
1. Mengkahwinkan anak perawan jika telah sampai waktunya.
2. Membayar hutang jika sudah sampai janjinya.
3. Menguruskan mayat bila datang ajalnya.
4. Menghormati tetamu di kala ia datang bertandang.
5. Bertaubat setelah mengerjakan dosa.

4. Syaitan itu lalu menyuruh manusia supaya mengerjakan amal baik dengan sempurna sebab kalau tidak sempurna nanti dicela oleh orang lain. Orang-orang yang terpelihara tentu menolaknya dan akan berkata;
Untuk saya cukup dinilai oleh Allah sahaja dan tidak ada faedahnya beramal kerana manusia. Ini adalah isyarat supaya manusia Riya' dalam amalnya.

5. Setelah itu syaitan menancapkan perasaan dalam hati orang yang beramal dengan mengatakan; Betapa tingginya darjatmu dapat beramal sholeh dan betapa pula cerdikmu dan kesempurnaanmu. Orang-orang yang baik akan menjawab

bahawa semua keagungan dan kesempurnaann itu kepunyaan Allah, bukan kekuatan atau kekuasaan aku. Allahlah yang memberi taufiq kepadaku untuk mengerjakan amal yang Ia redhoi, dan memberikan ganjaran yang besar dengan anugerah kurniaNya. Jika sekiranya tanpa kurnia Allah, maka apalah harganya amalku ini dibandingkan dengan banyaknya nikmat Allah kepadaku, di samping dosaku yang banyak pula.
Tidak dapat berkata-kata dan mengamalkan begini melainkan mereka yang mempunyai ilmu pengetahuan tentang Ilmu Tasauf atau Ilmu Makrifat.

6. Setelah jalan kelima gagal, maka syaitan mengajukan jalan yang keenam. Jalan ini lebih hebat dari yang disebut tadi, dan tidak akan bisa selamat terhadapnya kecuali orang yang cerdik dan hidup fikirannya. Syaitan itu berkata, membisikkan di hati manusia: "Bersungguh-sungguhlah engkau beramal dengan Sir, jangan diketahui oleh manusia sebab Allah jualah yang akan menzhohirkan amalmu nanti terhadap manusia dan akan mengatakan bahawa engkau adalah seorang hamba Allah yang ikhlas". Syaitan itu mencampur-baurkan terhadap setiap orang yang beramal dengan amal tipuannya yang lemah sekali. Dengan ucapannya itu, syaitan bermaksud untuk memasukkan sebahagian daripada penyakit Riya'. Orang yang terpelihara oleh Allah akan menolak ajakan syaitan itu dengan mengatakan;

Hai Malaun (yang dilaknat) tiada henti-henti engkau menggodakaku untuk merosakkan amal dan ibadatku dengan berbagai-bagai jalan dan sekarang engkau berpura-pura seolah-olah akan memperbaiki amalku, padahal maksudmu untuk merosakkannya. Aku ini hamba Allah dan Allahlah jua yang menjadikan aku. Kalau Allah SWT. berkehendak menzhohirkan amalku atau menyembunyikannya; dan kalau berkehendak menjadikan aku mulia atau hina, ini adalah urusan Allah. Aku tidak gelisah apakah amalku itu diperlihatkan oleh Allah kepada manusia atau tidak kerana itu bukan urusan aku sebagai seorang hamba Allah.

7. Setelah gagal syaitan itu menggoda dengan jalan keenam, maka ia menggoda lagi dengan jalan ketujuh dengan mengatakan; "Hai manusia..tidak perlu engkau menyusahkan dirimu untuk beramal ibadah, kerana jika engkau telah ditetapkan oleh Allah pada masa azali dan dijadikan makhluk yang bahagia, maka tidak menjadi mudorat apa-apa bagi engkau untuk meninggalkan amal, engkau akan tetap menjadi seorang yang bahagia. Sebaliknya jika engkau dikehendaki Allah menjadi orang yang celaka, maka tidak ada gunanya lagi engkau beramal dan tetaplah engkau celaka".Orang-orang yang terpelihara oleh Allah tentu akan menolak godaan ini dengan mengatakan:

Aku ini seorang hamba, berkewajipan menurut perintah Tuhanku. Tuhan Maha Mengetahui , menetapkan sekehendakNya dan berbuat apa saja yang dikehendakiNya. Amalku tetap akan bermanfaat, walau bagaimanapun keadaanku. Jika aku dijadikan seorang yang seorang yang berbahgia, aku tetap perlu beribadah untuk menambah pahala, dan jika aku dijadikan seorang yang celaka, aku tetap harus beramal ibadah, supaya tidak menjadi penyesalan bagi diriku meninggalkan amal itu.

Jika sekiranya aku dimasukkan neraka, padahal aku taat, aku lebih senang daripada jika dimasukkan neraka kerana aku maksiat. Tetapi tidak akan demikian keadaannya kerana janji Allah pasti terjadi dan sabdaNya pasti benar. Allah telah menjanjikan kepada siapa yang beramal taat kepadaNya akan diberi ganjaran. Siapa-siapa yang meninggal dunia dalam keadaan beriman dan taat kepada Allah, tidak akan dimasukkan ke dalam neraka dan pasti akan dimasukkan ke Syorga. Jadi masuknya, seseorang ke Syurga bukanlah kerana kekuatan amalnya, tetapi kerana janji Allah semata yang pasti dan suci.

Oleh kerana itu, sedarlah wahai hamba Allah, semoga Allah memberi rahmat kepadamu, sesungguhnya urusan taat kepada Allah seperti yang engkau lihat dan dengar bahawa banyak sekali godaan dan tipuan syaitan untuk menggagalkannya. Qiyaslah segala urusan dan tingkah laku kepada keadaan tersebut, dan bermohonlah pertolongan kepada Allah agar engkau dilindungi dan dipelihara dari kejahatan syaitan ini, kerana sega sesuatu benda di bawah kekuasaan Allah dan kepada Allah kita mohon Taufiq untuk mendapatkan keridhoaanNya.

TIDAK ADA DAYA UNTUK MENINGGALKAN MAKSIAT DAN TIDAK ADA KEKUATAN UNTUK MENGERJAKAN TAAT, KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH YANG MAHA LUHUR DAN MAHA AGUNG



Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan

Questions & suggestion or problems regarding this web site should be directed to webmaster

Copyright © Sep 2002 - swaramuslim - power with Pmachine All right reserved

in association with Muslim Netters Association

best viewed with IE Resoluton 800 X 600

Rabu, 11 Januari 2012

Doa Sujud Tilawah

DOA SUJUD TILAWAH


(òÅÎø´ø»Bòbô»A óÅònôYC óÉ÷¼»A òºòiBòJòNò¯) óÊòjòvòIòË óÉò¨ôÀòm úµòqòË óÊòiúÌòuòË óÉò´ô¼òa Ðøhú¼ø» ÏøÈôUòË òfòVòm

“Wajahkubersujud kepada Rabb yang telah menciptakannya, yang telah membelah pendengarannya dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya, maka Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.”

Sujud Tilawah dipandang sunat oleh jumhur ulama. Sujud ini boleh dilakukan kapan saja, siang atau malam, dalam keadaan sudah berwudhu ataupun belum, dengan menghadap kiblat atau tidak. Baik dalam keadaan shalat ataupun tidak. Namun tentu, jika dilakukan dalam keadaan suci dan dengan menghadap kiblat tentu akan lebih baik. Jika dilakukan dalam keadaan shalat, maka tentu wajib dalam keadaan suci dan menghadap qiblat.

Sujud ini dilakukan dengan sekali sujud saja, tanpa takbiratul ihram dan tanpa salam. Sujud ini disunahkan ketika membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah yang tersebar di lima belas tempat dalam al-Qur'an. Diantaranya dalam surat:

Al-A’raf (7): 206

Ar-Rad (13): 15

An-Nahl (16): 49

Al-Isra (17): 107-109

Al-Maryam (19): 58

Al-Furqon (25): 60

Al-Hajj (22): 18

Dll.