Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2012

Bolehkan Mematikan HP yang Berdering Saat Sedang Shalat?


MEMATIKAN “dering” HP KETIKA SHALAT

Termasuk salah satu nikmat Allah swt. yang harus disyukuri adalah kemajuan teknologi, seperti handphone dan semisalnya. Alat tersebut (handphone) jika digunakan untuk hal yang baik maka berpahala, tetapi jika digunakan untuk keburukan maka merupakan dosa. Akan tetapi tidak jarang kita jumpai alat komunikasi jadi bencana bagi kaum muslimin di masjid.
Ketika sedang shalat tiba-tiba berdering suara handphone dari salah seorang makmum, kadang suara itu berlangsung lama sehingga mengganggu makmum lainnya, kadang suara hanphone tidak sekedar deringan tetapi disertai dengan nyanyian, suara wanita, dan lain sebagainya, yang sangat tidak layak didengar apalagi ketika sedang shalat.
Semua ini mengharuskan kita untuk untuk segera mengingatkan diri kita dan orang di sekitar kita supaya tidak terus menerus terjadi gangguan dalam shalat sehingga mengurangi kekhusyukan, bahkan menghilangkannya.
Oleh karena itu wajib bagi setiap yang hendak shalat untuk menyiapkan diri supaya menyempurnakan kekhusyukkannya, menghindarkan segala perkara yang mengganggunya, dengan mematikan alat komunikasinya secara total sebelum shalat.
Akan tetapi jika lupa lalu berdering di tengah shalat, maka wajib baginyan untuk menggerakkan tangannya dan segera mematikan alat komunikasinya.
Gerakan yang ia lakukan tidaklah membatalkan shalatnya sebab Rasulullah saw. pun pernah melakukan gerakan-gerakan lain dalam shalahnya. Gerakan mematikan handphone ini tergolong sangat sedikit dibandingkan dengan gerakan yang dilakukan Rasulullah saw. ketika menggendong Umamah cucunya, dan dibandingkan gerakan beliau ketika memutar Ibnu Abbas yang berdiri di samping kiri beliau menjadi di sebelah kanannya, apalagi gerakan tersebut dilakukan untuk kemaslahatan shalat dirinya dan kaum muslimin.

Perhatian. Membiarkan alat komunikasi berdering, tidak dimatikan saat sedang shalat adalah kerusakan demi kerusakan semata,
Pertama; akan merusak shalat dirinya sendiri, karena menjawab seruan alat komunikasi dengan sapaan atau jawaban adalah mustahil dalam shalat sebab hal itu membatalkan shalatnya, sedangkan jika dibiarkan berdering maka dia terus dalam keadaan tidak tenang, goncang, dan tidak khusyuk.
Kedua; akan merusak shalat kaum muslimin atau paling tidak mengganggu mereka, sedangkan Allah swt. berfirman:
“Dan orang-orang yang menggganggu kaum mukminin dan mukminat dengan tanpa sebab kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka memikul kebohongan dan dosa yang nyata” QS. Al-Ahzab (33): 58.

Demikianlah pembahasan masalah gangguan dering handphone dalam shalat, semoga bermanfaat. Amin.

Sumber: Al Furqon Edisi 9 Th. ke-11, p.41

Minggu, 11 Desember 2011

Memuji Pertanyaan yang Bagus

RASULULLAH SAW. MEMUJI PERTANYAAN YANG BAGUS

“Bertanya perihal obyek yang penting-penting saja (kepada ahlinya) termasuk seni dalam melontarkan pertanyaan”

Pertanyaan yang memiliki urgensilah yang seharusnya menjadi perhatian orang-orang yang bertanya kepada Ulama ataupun guru. Bukan asal bertanya yang terkadang tentang pertanyaan yang sepele, hanya sekedar menguji ustadz, guru atau orang lain, atau untuk menunjukkan keakuannya.

Fakta menunjukkan bahwa Rasulullah saw. memuji pertanyaan-pertanyaan yang baik dan menyanjungnya, serta mengungkapkan rasa kegembiraannya terhadap penanya. Bebarapa riwayat membenarkan keterangan di atas.

Nabi saw. pernah menyanjung Sahabat Muadz bin Jabal r.a. dikarenakan pertanyaan pentingnya berbunyi, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga?”.

Sebelum menjawab beliau memujinya dengan bersabda:

“Bakh-bakh, sungguh engkau telah menanyakan perkara yang besar”.

“Bakh” merupakan kalimat ungkapan pujian dan persetujuan akan sesuatu. Di sini diulang sampai dua kali guna menguatkan pujian.

“Sesungguhnya itu mudah bagi orang yang Allah mudahkan untuk melakukannya. Kerjakanlah sholat wajib dan bayarlah zakat,” kata Rasullah saw. meneruskan perkataannya. (HR. Abu Dawud ath-Thayalisi no. 561)

Sementara Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Ayyub r.a., ada seorang Arab Badui mencegat jalan Rasulullah saw. saat beliau dalam perjalanan. Lelaki itu kemudian memegangi kendali onta beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku (amalan) yang mendekatkan diriku kepada surga dan menjauhkan diriku dari neraka?”

Sabi saw. terdiam. Kemudian melihat kepada para sahabat seraya bersabda: “Sungguh ia (si penanya) telah mendapatkan taufik atau (limpahan hidayah)”.

Nabi saw. berkata (untuk menarik perhatian Sahabat lain), “Apa yang kamu katakan (tadi)?”

Lelaki itupun mengulangi ucapannya.

Selanjutnya Nabi saw. menjawab, “Engkau beribadah hanya kepada Allah, tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, menyambung silaturahmi”. Dan akhirnya, beliau berkata, “(Sudah) lepaskan (kendali) ontanya”.

Dalam contoh yang lain, berdasarkan riwayat Imam al-Bukhari rahimahullah, Abu Hurairah r.a. melontarkan pertanyaan kepada Rasulullah saw. yang berbunyi: “Siapakah orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatmu pada hari kiamat (kelak)?”

Sebelum menjawab, Rasulullah saw. memuji penanya dengan berkata , “Sungguh wahai Abu Hurairah, aku telah yakin tidak ada orang yang menanyakan ini kepadaku lebih dahulu daripada dirimu, lantaran aku melihat semangatmu dalam mendapatkan hadits. Orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatku pada hari kiamat ialah orang yang berkata Laa Illaaha Illallaah dengan ikhlas dari hati atau jiwanya”. (HR. al-Bukhari no. 99)

Tentu pujian terhadap penanya (Sahabat Abu Hurairah) hasil dari pengamatan kontinyu beliau terhadap Sahabat ini yang bersemangat terhadap sabda-sabda Nabi saw. Rasullah membuat gembira sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits ini melalui dua jalan; pertama dengan menyebutkan sebab keyakinannya kalau Abu Hurairahlah yang akan menanyakannya pertama kali yaitu semangatnya dalam menerima hadits Nabi saw. Kedua, nabi saw. menyebut namanya langsung sebelum menjawab pertanyaannya. Tentu ini akan sangat bersuka-cita lantaran yang menyebut namanya adalah insan kecintaan Rabbul ‘alamin.

Ringkasnya, Nabi saw. menyukai pertanyaan-pertanyaan yang bagus dan memujinya. Jelas, ini pelajaran penting bagi umat saat mengajarkan ilmu, maupun saat menempuh perjalanan mencari ilmu. Dengan memuji orang yang bertanya akan merasa dihargai dan diperhatikan oleh ustadz atau guru. Rasa takut, malu ataupun sungkan orang yang bertanya akan hilang, dan tumbuh rasa keberanian untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dipahami maupun mengkonfirmasi tentang suatu permasalahan.

Sumber: Uswah Nabi : As-Sunnah no.07 thn. XV