Senin, 15 April 2013

Membaca Bismillahirahmanirrahim Ketika Shalat



TIDAK MENGERASKAN
“BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM”


Sebagian kalangan menganggap bahwa “Bismillahirahmanirrahim” harus dibaca sabagaimana dibaca Surat al-Fatihah, bahkan ada yang mengulangi shalatnya jika imamnya tidak mengeraskan “Bismillahirahmanirrahim” karena menganggap salatnya tidak sah. Lalu bagaimana kedudukan “Bismillahirahmanirrahim” dalam Surat al-Fatihah dan dalam shalat?

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum bacaan “Bismillahirahmanirrahim” sebelum al-Fatihah:

Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa “Bismillahirahmanirrahim” tidak dibaca secara total dalam shalat baik shalat jahriyah (dibaca keras) maupun sirriyah (dibaca lirih). Dalilnya hadits Anas ra beliau berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah saw., Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka semua membuka bacaannya dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, mereka semua tidak megucapkan ‘Bismillahirahmanirrahim’ baik di awal atau di akhirnya.” (HR. Muslim)

Imam Syafi’i rahimahullah berpendapat bahwa “Bismillahirahmanirrahim” wajib dibaca setiap kali membaca al-fatihah karena ia termasuk salah satu ayat Surat al-Fatihah, jika shalatnya jahriyah maka dibaca jahriyah, dan jika sirriyah maka dibaca sirriyah, pendapat ini didasari oleh hadits Nu’aim al-Mujmir berkata: “Aku pernah shalat bersama Abu Hurairah ra beliau membaca ‘Bismillahirahmanirrahim’, lalu membaca al-Fatihah ... dan diakhir hadits (Nu’aim berkata), Abu Hurairah berkata, ’Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku orang yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah saw.” (HR. Nasai dan Ibnu Khuzaimah)
Dalil lain adalah hadits Rasulullah saw. beliau bersabda: “Apabila engkau membaca ‘Alhamdulillah’, maka bacalah ‘Bismillahirahmanirrahim’, sesungguhnya ia termasuk dari Ummul Qur’an dan Ummul Kitab dan 7 (ayat) yang diulang-ulang, dan ‘Bismillahirahmanirrahim’ termasuk salah satunya.” (HR. Baihaqi, Daruquthni)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa “Bismillahirahmanirrahim” harus dibaca dalam shalat, hanya saja membacanya lirih tidak dijaharkan. Inilah pendapat yang paling kuat, dengan beberapa alasan, di antaranya:
  1. ·         Anas ra. menjelaskan bahwa Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin ketika menjadi imam, tidak menjaharkannya. Anas ra. berkata: “Sesungguhnya Nabi Muhammad saw., Abu Bakar, dan Umar, mereka membuka bacaan shalatnya dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. ·         Dalam riwayat lain, Anas bin Malik ra menegaskan: “Mereka (Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin) tidak menjaharkan ‘Bismillahirahmanirrahim’.” (HR. Nasai)
  3. ·         Dalam riwayat lain, Anas ra. menegaskan: “Mereka (Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin) melirihkan (Bismillahirahmanirrahim).”  (HR. Ibnu Khuzaimah)
  4. ·         Dalam sebuah hadits qudsi, Allah swt. berfirman: “Aku membagi shalat itu separuh untuk-Ku dan separuh lagi untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku berhak mendapat apa yang ia minta, jika ia (hamba-Ku) mengucapkan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’, jika mengucapkan ‘Arrahmanirrahim’, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku’ ...” (HR. Muslim).  Hadits ini menegaskan bahwa yang dibaca pertama kali adalah “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” bukan “Bismillahirahmanirrahim”.
  5. ·         Adapun peniadaan bacaan “Bismillahirahmanirrahim” dalam tambahan riwayat Muslim maka maksudnya adalah mereka melirihkannya sehingga tidak terdengar oleh makmum. (Demikian disampaikan oleh Ibnu Hajar dalam penjelasan hadits ini)
  6. ·         Adapun hadits Nu’aim al-Mujmir, maka Ibnul Qayyim berkata, “Hadits (Nu’aim) tentang dijaharkannya ‘Bismillahirahmanirrahim’ (oleh Abu Hurairah), maka Nu’aim bersendirian (meriwayatkan dari Abu Hurairah) di antara sekian banyak para sahabat Abu Hurairah ra. yang berjumlah 8 (delapan) perawi dari para sahabat Nabi saw. atau tabi’in (yang tidak meriwayatkan seperti Nu’aim).”
  7. ·         Adapun hadits perintah membaca “Bismillahirahmanirrahim” (HR. Baihaqi, Daruquthni), maka diperselisihkan keabsahannya; jika dianggap shahih maka tidak terdapat di dalamnya perintah menjaharkan “Bismillahirahmanirrahim”, tetapi hanya sekedar membaca dan ini tidak bertentangan dengan melirihkan sebagaimana kebiasaan Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin.


Kesimpulan. Berkata Siddiq Hasan Khan, “Bismillahirahmanirrahim termasuk bagian dari al-Qur'an. Perselisihan masalah ‘Bismillahirahmanirrahim’ sangat panjang sebab perbedaan madzhab.” Lalu beliau menyimpulkan, “Yang lebih dekat kepada kebenaran, yaitu sunnahnya Nabi saw. tentang ‘Bismillahirahmanirrahim’ adalah tidak dijaharkan dalam shalat dengan dasar hadits Bukhari dan Muslim, sedangkan sebagian ulama pentahqiq memilih pendapat bahwa ‘Bismillahirahmanirrahim’ dijaharkan jika shalatnyaa jahriyah dan disamarkan jika shalatnya sirriyah.”

Al-Furqon Ed.12 Th.11, p.28-29


Minggu, 14 April 2013

Berdoa Sebelum Berhubungan Sex (Suami Istri)



KEUTAMAAN BERDO’A
SEBELUM BERHUBUNGAN SUAMI ISTRI


Dari Ibnu ‘Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin mengumpuli istrinya, ia membaca doa:


(Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rizki yang Engkau anugerahkan kepada kami.)

Kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca dzikir/doa ini sebelum berhubungan suami istri, karena selain mendapat pahala dari Allah swt. ini merupakan sebab selamatnya seorang bayi dari bahaya dan keburukan setan.

Faedah Penting dalam Hadits

Iblis dan bala tentaranya selalu berusaha menanamkan benih-benih keburukan kepada manusia sejak baru lahir dan sebelum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya, apalagi setelah ia mengenal semua godaan tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan.” (HR. Muslim)

Rasulullah saw. bersabda: “Allah swt. berfirman, yang artinya, ‘Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (suci dan cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka (agama)’.” (HR. Muslim)

Agungnya petunjuk Allah swt. dan Rasul-Nya saw.  yang mensyariatkan dzikir dan doa untuk kebaikan agama manusia dan perlindungan dari keburukan tipu daya setan.

Arti sabda Rasulullah saw. “... setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”, bahwa setan tidak akan bisa menyesatkan dan mencelakakan anak tersebut dalam diri dan agamanya, tapi bukan berarti menunjukkan bahwa anak tersebut terlindungi dan terjaga dari perbuatan dosa.

Termasuk keburukan yang terjadi akibat tidak menyebut nama Allah sebelum berhubungan intim adalah ikut sertanya syetan dalam hubungan intim tersebut, sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnu Hajar, asy-Syaukani dan as-Sa’di. Na’udzubillahi min dzalik.

Ibnu Hajar rahimahullah dan al-Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa dzikir dan doa ini diucapkan ketika hendak berhubungan sex suami istri dan bukan ketika sudah dimulai hubungan intim.

Anjuran membaca dzikir dan do’a ini juga berlaku bagi pasangan suami istri yang diperkirakan secara medis tidak punya keturunan, karena permohonan dalam do’a atau dzikir ini bersifat umum dan tidak terbatas pada keturunan atau anak saja.

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Sabtu, 13 April 2013

Jujur, Jangan Bohong !



HADITS
JUJUR, JANGAN DUSTA !

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata:
“Rasulullah saw. bersabda, Hendaklah kalian selalu berkata jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan seorang selalu berkata jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong).”
Hadits hasan shahih ini diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dll.

Penjelasan hadits:

“Hendaklah kalian selalu berkata jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan seorang selalu berkata jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.”

Dalam hadits ini Nabi saw. memerintahkan umatnya untuk berlaku jujur dalam perkataan, perbuatan, ibadah dan dalam semua perkara.
Jujur itu berarti selaras antara lahir dan batin, antara ucapan dan perbuatan, serta antara berita dan fakta.
Berlaku jujur akan membawa kepada al-birr (melakukan segala kebaikan), dan kebaikan itu akan membawamu menuju Surga.
Allah swt. meminta para hamba-Nya yang beriman agar jujur dan berpegang teguh pada kebenaran. Tujuannya agar mereka istiqamah di jalan kebenaran (orang-orang yang jujur).

Jujur merupakan sifat terpuji yang dituntut keberadaannya bagi kaum Mukmin baik laki-laki dan perempuan.
Dalam QS. Al Ahzab (33):35 disebutkan “...Laki-laki dan perempuan yang benar (jujur)...”
Allah swt. menjelaskan bahwa kejujuran itu merupakan kebaikan sekaligus penyelamat. Sifat itulah yang merupakan nilai amal perbuatan, karena kejujuran merupakan ruhnya.
QS. Muhammad: 21 yang artinya “...Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.”
Seandainya orang-orang itu benar-benar ikhlas dalam beriman dan berbuat taat, niscaya kejujuran adalah yang terbaik bagi mereka.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menerangkan bahwa sifat as-shidq  (kejujuran), dengan perkataannya, “Yaitu maqam (kedudukan) kaum yang paling agung, kedudukan para salihin”.

Mengapa kita harus mengutamakan KEJUJURAN?

  • ·         Kejujuran sebagai jalan terlurus, barang siapa tidak berjalan di atasnya, maka itulah orang-orang yang binasa.
  • ·         Dengan kejujuran itu pula dibedakan antara orang-orang yang munafik dan orang-orang yang beriman, dibedakan antara para penghuni surga dan penghuni neraka.
  • ·         Kejujuaran ibarat pedang Allah di muka bumi, tidak ada sesuatupun yang diletakkan diatasnya melainkan akan terpotong olehnya.
  • ·         Dan tidaklah kejujuran menghadapi kebatilan melainkan ia akan melawan dan mengalahkannya, dan kejujuran pasti akan menang.
  • ·         Barangsiapa menyeru tentang kejujuran, niscaya kalimatnya akan terdengar keras mengalahkan suara musuh-musuhnya.
  • ·         Kejujuran merupakan ruh amal, penjernih keadaan, penghilang rasa takut, dan pintu bagi orang-orang yang akan menghadap Rabb Yang Mahamulia.
  • ·         Kejujuran merupakan pondasi bangunan agama (Islam) dan tiang penyangga keyakinan.
  • ·         Iman merupakan pondasi kejujuran, dan kemunafikan merupakan pondasi kedustaan.
  • ·         Jujur dan dusta tidak akan berkumpul, karena salah satu dari keduanya pasti memerangi yang lainnya.
  • ·         Diantara tanda kejujuran adalah tenangnya hati, sebaliknya diantara tanda kedustaan adalah hati yang resah, gelisah, bimbang, khawatir, takut, perasaan yang akan menyiksa hati. Nabi saw. bersabda: “ ...Kejujuran itu ketentraman, dan dusta itu keragu-raguan...” (HR. At-Tirmidzi)


Penjelasan hadits:
Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong)

Nabi saw. melarang perbuatan dusta, dusta dalam segala sesuatu. Tidak benar orang yang mengatakan, “Berdusta itu jika tidak menimbulkan bahaya untuk orang lain maka tidak mengapa.” Ini adalah perkataan bathil, karena tidak ada nash yang menunjukkan perkataan tersebut. Sedang yang ada adalah nash tentang larangan perbuatan dusta.
 Bahaya DUSTA!
  • ·         Berdusta akan merusak pengetahuan dan dapat menyesatkan orang lain yang mengikutinya. Para pendusta akan mengatakan yang ada jadi tidak ada, yang benar dikatakan bathil, yang bathil dikatakan benar, baik jadi jahat, jahat jadi baik. Sehingga rusaklah dirinya dan orang lain di sekitarnya.
  • ·         Orang yang mengajarkan dusta kepada orang lain, akan berakibat lebih buruk lagi. Dirinya yang sudah salah, sesat dan menyesatkan pula orang lain. Dia menanggung dosa pada dirinya dan dosa orang lain yang mengikutinya.
  • ·         Seorang pendusta telah berpaling dari kebenaran yang ada, menjadikan condong kepada kebatilan. Jika perbuatan-pebuatan itu telah merusaknya dan kebohongan telah mempengaruhinya, maka hatinya menjadi hati yang dusta dari lisannya. Dia tidak bisa mengambil manfaat dengan lisannya dan juga amal-amalnya.
  • ·         Dusta adalah pokok (biangnya) kejahatan, sebagaimana sabda Nabi saw.: “Sesungguhnya dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka.”
  • ·         Yang pertama kali terpengaruh oleh perbuatan dusta adalah lisan, kemudian akan merusak amal-amal perbuatannya.

Kita harus berlindung kepada Allah swt dari golongan orang-orang yang suka berdusta. Karena seseorang jika sudah terbiasa berdusta, maka ia akan melakukannya dalam berbagai hal, dan celakanya Allah akan mencatanya sebagai golongan kadzdzab (orang yang banyak berdusta).

Amal shalih yang tampak maupun yang tersembunyi asalnya dari kejujuran. Dan semua amal jelek yang tampak maupun tersembunyi asalnya dari perbuatan dusta.

Sumber : As-Sunnah No. 9 Th.XVI p.14-19.

Selasa, 19 Maret 2013

Mengagungkan Kuburan








BISAKAH ORANG MATI MEMBERIKAN MANFAAT?


Pengagungan kubur tidak lepas dari keyakinan bahwa orang yang sudah mati dapat memberikan manfaat kepada orang yang masih hidup, dengan menjadi perantara antara mereka para peziarah dengan Allah swt. Mereka bertawasul kepada penghuni kubur yang dikenal sebagai para wali atau orang yang dekat ketaatannya semasa hidup kepada Allah swt. Para penghuni kubur dapat mendengar doa mereka dan menyampaikannya kepada Allah swt.

Mereka para peziarah rela bersusah payah mengunjungi kuburan hanya untuk berdoa, berzikir, dsb sesuai hajat dan kepentingan mereka masing-masing? Bahkan banyak yang mengagendakan kegiatan ziarah kubur tersebut sebagai kagiatan yang wajib dilakukan oleh mereka dan kelompoknya, sebagai kegiatan rutin pada bulan-bulan tertentu.
Allah SWT telah bersabda:
QS. Az-Zumar (39):3
3. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.
Beribadah di kuburan mereka anggap lebih khusuk, dengan itu sangat diyakini hajatnya akan terkabul dengan perantara kubur para wali, dll. Akhirnya secara tidak langsung mereka meyakini ibadahnya di rumah atau di masjid yang mungkin dilakukan kurang mustajab dan memberikan manfaat bagi hajat mereka sendiri. Mereka memindahkan tempat ibadah mereka dari masjid-masjid ke kuburan.
Cara beribadah mereka ibarat “mengisi gelas yang sudah penuh air terus menerus sehingga disekitar gelas tersebut pun ikut basah terkena luapan air”.

Para wali, dll yang diziarahi dianggap sebagai orang yang sudah banyak amal ibadahnya. Ibarat air dalam gelas, gelas tersebut sudah penuh. Kemudian peziarah beribadah dengan yang mereka sebut hadiah, membaca surah Al Fatihah, surah Yasin, dll, membaca salawat, tahlil dan lain sebagainya. Dengan niat pahalanya dihadiahkan untuk penghuni kubur, meski sudah penuh amalnya ibarat air dalam gelas terus diisi pahala agar meluap, luapan pahala itu diharapkan akan menyebar hingga kepada peziarah sendiri.

Itulah kebohongan yang disampaikan oleh para guru mereka. Yang hakikatnya mereka sesat dan celakanya menyesatkan orang lain, para pengikutnya yang lemah, dan tak tahu apa-apa.

Firman Allah,
QS. Fathir (35):13-14
13. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. yang (berbuat) demikian Itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.
14. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui (Allah s.w.t.)

QS. Fathir (35):22
22. Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar.