Senin, 06 Februari 2012

MENJADI WALI NIKAH BAGI ANAK HASIL ZINA?????


MENJADI WALI NIKAH BAGI ANAK HASIL ZINA?????


#Bolehkah seorang bapak menjadi wali bagi anak perempuannya, yang merupakan hasil zina dengan istrinya sebelum menikah, kemudian hamil, dan anak tersebut lahir setelah mereka menikah?#

Ulama berbeda pendapat tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan yang tidak bersuami, kemudian dia hamil dan melahirkan anak. Jika laki-laki yang berzina tersebut mengakui anak itu sebagai anaknya, apakah anak tersebut bisa dinasabkan kepadanya atau tidak? Sebagian Ulama’ berpendapat bisa dinasabkan, karena dia benar-benar anaknya.

Namun jumhur (mayoritas) Ulama’, yaitu mazhab empat, Zhahiriyyah, dan lainnya, berpendapat tidak bisa dinasabkan. Pendapat jumhur inilah yang lebih kuat, dengan dalil antara lain:

Sabda Nabi saw.:

ójòVòZô»A øjøÇBò¨ô¼ø» òË øtAòjø°ô¼ø» ófò»òÌô»òA

“Anak itu milih suami pemilik istri (suami yang sah), sedangkan lelaki yang berzina mendapat kerugian (tidak mendapatkan apa-apa).” (HR. Bukhari no 6760 dan Muslim no 1457 dari Aisyah).

Dalam hadits ini Nabi saw. menjadikan anak menjadi milik laki-laki yang beristri, sedangkan lelaki yang berzina tidaklah memiliki hak atas anak tersebut sehingga dikatakan lelaki yang berzina mendapat kerugian. Maka jika anak dinasabkan kepada lelaki yang berzina, hal itu bertentangan dengan hadits ini.

Berdasarkan hadits tersebut maka anak dinasabkan kepada suami yang sah. Jika tidak ada suami yang sah maka anak tersebut dinasabkan kepada ibunya. Oleh karena itu, anak yang lahir dari hasil perzinaan tidak di nasabkan kepada bapak biologisnya namun kepada ibunya.

Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra berkata: “Ketika kota mekah ditaklukkan di zaman Rasulullah saw., seorang lelaki berdiri dan berkata, Wahai Rasulullah, Sesungguhnya si Fulan itu anakku, dahulu aku berzina dengan ibunya di zaman jahiliyyah!” Maka Rasulullah saw. bersabda:

•jòVòZô»A øjøÇBò¨ô¼ø»òË øtAòjø°ô¼ø» ófò»òÌô»A øÒúÎø¼øÇBòVô»A ójô¿ŒC òKòÇòg øÂòÝôm˜âA ôÏø¯ òÑòÌô§øe òÜ

“Tidak ada pengakuan anak dari hasil zina dalam Islam, urusan jahiliyah sudah sirna. Anak itu milik suami pemilik istri, sedangkan lelaki yang berzina mendapat kerugian. (HR. Abu Dawud)

Oleh karena itu bapak tersebut tidak boleh menjadi wali bagi anak perempuan itu, karena nasab terhadap bapaknya ditiadakan dengan sebab perzinaan tersebut.

Hal ini disebabkan nabi mengatakan bahwa laki-laki yang berzina tidak memiliki hak apa-apa pun terhadap hak nasab, perwalian dalam nikah, mewarisi, kemahraman ataupun kewajiban memberikan nafkah kepada anak, semuanya tidaklah dimiliki oleh laki-laki yang berzina (baca: bapak biologis). Akan tetapi bapak biologis ini tidak diperbolehkan menikahi anak hasil zinanya menurut pendapat mayoritas ulama dan inilah pendapat yang benar.

Adapun wali anak perempuan tersebut bisa dengan wali hakim (KUA).

فَالسُّلْطَانُ وَلِىُّ مَنْ لاَ وَلِىَّ لَهُ

“Penguasa adalah wali nikah bagi perempuan yang tidak memiliki wali nikah” (HR. Abu Daud no 2083 dan dinilai shahih oleh al Albani).

Wallahu a’lam.

Sumber: As-Sunnah No. 10 Th.XV p. 5-6; http://ustadzaris.com

Kamis, 02 Februari 2012

Peduli Kesehatan


50 TIPS DIET SEHAT


Langsing dan cantik impian semua wanita. Walaupun tidak mudah untuk dilakukan akan tetapi banyak wanita rela menahan lapar dan berolahraga berjam-jam. Diet yang baik bukanlah dengan cara berpuasa tapi juga pengaturan makanan berdasarkan umur dan aktivitas. Berikut beberapa tips yang dijamin membuat diet Anda lebih baik dan sehat.

  1. Hindari pemikiran semua atau tidak sama sekali. Berpuasa bukanlah cara terbaik untuk menurunkan berat badan. Makanlah secukupnya dan atur asupan kalori secara bijaksana.
  2. Potonglah buah-buahan yang Anda suka dalam potongan kecil untuk menggantikan snack yang tidak sehat.
  3. Hindari memakan cemilan dari toples, anda akan tidak sadar berapa banyak yang telah masuk ke dalam mulut Anda. Taruhlah didalam piring atau cukup ambil segenggam.
  4. Jika Anda termasuk orang yang menyukai roti, pilihlah yang wholegrain.
  5. Hindari makanan yang mengandung lemak lebih dari 10 persen. Baca label informasi nutrisi di dalam kardus makanan. SELENGKAPNYA klik DISINI...........
Jika anda ingin tahu tentang program DIET secara online, silahkan klik http://www.widy.diet-sehat.com/node/27
Waduh BB, punya masalah dengan BAU BADAN? Klik tips-nya disini.....

Senin, 23 Januari 2012

Hidup Sehat Dambaan Semua Orang

TIPS HIDUP SEHAT DENGAN BIAYA MURAH


v Udara Bersih

Ø Pastikan kita menghirup udara bersih, jauhi radikal bebas yang berbahaya, khususnya dari udara tercemar (Asap rokok, asap kendaraan, pabrik, debu, dsb.).


v Makanan Seimbang

Ø Pastikan makanan yang kita konsumsi memenuhi syarat halal dan thayib (baik). Juga jangan berlebihan. Perbanyak mengkonsumsi makanan kaya serat, seperti sayuran dan buah-buahan. Hindari pula makanan cepat saji seperti: Mie instant, Sarimie, Sajiku, dsb. Makanan sehat disini.....

v Banyak Minum

Ø Usahakan minum air putih minimal: 7 – 10 gelas atau 2 liter sehari, sangat baik bila ditambah suplement alami, seperti: madu, teh hijau atau jus buah-buahan.

v Olah Raga Teratur

Ø Lakukan olah raga secara teratur, minimal tiga kali seminggu dan sesuaikan dengan kondisi fisik. Olah raga teratur akan menambah vitalitas dan memperkuat pertahanan tubuh, jalan-jalan di pagi hari. Olahraga ala Rasulullah disini....

v Istirahat Cukup

Ø Rasulullah SAW mengajarkan agar kita cepat tidur (setelah shalat Isya) dan cepat bangun (sepertiga malam terakhir) istirahat yang cukup berperan dalam meregenerasi sel-sel tubuh.

v Menghindari Stress

Ø Stress menguras energi sehingga menjadikan tubuh lemah dan rentan terhadap penyakit. Maka ciptakan suasana ceria dan amalkan 5 (lima) S : senyum, salam, sapa, sopan dan santun.

v Perbaiki Kualitas Ibadah

Ø Perbanyak melakukan ibadah, ada beberapa ibadah utama, selain ibadah wajib, yang layak kita lakukan, seperti shaum/ puasa hari Senin dan Kamis, sholat Tahajud, Dhuha dan Tilawah Kitab Suci Al Qur'an.

Tips sehat ala Rasulullah saw

Jumat, 13 Januari 2012

Menjaga Diri dari TIPUAN SYAITAN


Tipuan Syaitan Terhadap Mereka Yang Beribadat

Adapun tipuan serta ajakan syaitan terhadap manusia agar meninggalkan beribadah kepada Allah Taala ada 7 macam jalan;

1. Syaitan melarang manusia, agar jangan taat kepada Allah. Orang-orang yang dipelihara Allah, akan menolak ajakan itu dan akan berkata:
Aku sangat memerlukan sekali kepada pahala dari Allah, kerana aku harus mempunyai bekal dari dunia untuk akhirat yang kekal abadi.

2. Bila pujukan pertama tidak berhasil, maka syaitan mengajak manusia untuk mengakhiri taat; nanti saja atau kalau sudah tua, dan sebagainya. Orang-orang yang terpelihara akan menolak ajakan itu dan akan berkata:
Ajalku bukan pada tanganku; jika aku menunda-nunda amal hari ini untuk esok, maka amal hari esok bila akan aku kerjakan, padahal tiap-tiap hari dan waktu mempunyai amal tersendiri dan hak hukum waktunya.

3. Kadang-kadang syaitan akan mendorong manusia supaya terburu-buru mengerjakan amal baik dengan amat segera dan katanya: Ayuh' cepat-cepat beramal supaya engkau dapat memburu lagi amal lainnya. Orang-orang yang selamat tentu menolak dan berkata:
Amal yang sedikit tapi sempurna lebih baik daripada amal banyak tetapi tidak sempurna. Dalam hal Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda dengan maksud:
"Tergopoh-gopoh itu pembawaan dari syaitan, kecuali dalam lima perkara;
1. Mengkahwinkan anak perawan jika telah sampai waktunya.
2. Membayar hutang jika sudah sampai janjinya.
3. Menguruskan mayat bila datang ajalnya.
4. Menghormati tetamu di kala ia datang bertandang.
5. Bertaubat setelah mengerjakan dosa.

4. Syaitan itu lalu menyuruh manusia supaya mengerjakan amal baik dengan sempurna sebab kalau tidak sempurna nanti dicela oleh orang lain. Orang-orang yang terpelihara tentu menolaknya dan akan berkata;
Untuk saya cukup dinilai oleh Allah sahaja dan tidak ada faedahnya beramal kerana manusia. Ini adalah isyarat supaya manusia Riya' dalam amalnya.

5. Setelah itu syaitan menancapkan perasaan dalam hati orang yang beramal dengan mengatakan; Betapa tingginya darjatmu dapat beramal sholeh dan betapa pula cerdikmu dan kesempurnaanmu. Orang-orang yang baik akan menjawab

bahawa semua keagungan dan kesempurnaann itu kepunyaan Allah, bukan kekuatan atau kekuasaan aku. Allahlah yang memberi taufiq kepadaku untuk mengerjakan amal yang Ia redhoi, dan memberikan ganjaran yang besar dengan anugerah kurniaNya. Jika sekiranya tanpa kurnia Allah, maka apalah harganya amalku ini dibandingkan dengan banyaknya nikmat Allah kepadaku, di samping dosaku yang banyak pula.
Tidak dapat berkata-kata dan mengamalkan begini melainkan mereka yang mempunyai ilmu pengetahuan tentang Ilmu Tasauf atau Ilmu Makrifat.

6. Setelah jalan kelima gagal, maka syaitan mengajukan jalan yang keenam. Jalan ini lebih hebat dari yang disebut tadi, dan tidak akan bisa selamat terhadapnya kecuali orang yang cerdik dan hidup fikirannya. Syaitan itu berkata, membisikkan di hati manusia: "Bersungguh-sungguhlah engkau beramal dengan Sir, jangan diketahui oleh manusia sebab Allah jualah yang akan menzhohirkan amalmu nanti terhadap manusia dan akan mengatakan bahawa engkau adalah seorang hamba Allah yang ikhlas". Syaitan itu mencampur-baurkan terhadap setiap orang yang beramal dengan amal tipuannya yang lemah sekali. Dengan ucapannya itu, syaitan bermaksud untuk memasukkan sebahagian daripada penyakit Riya'. Orang yang terpelihara oleh Allah akan menolak ajakan syaitan itu dengan mengatakan;

Hai Malaun (yang dilaknat) tiada henti-henti engkau menggodakaku untuk merosakkan amal dan ibadatku dengan berbagai-bagai jalan dan sekarang engkau berpura-pura seolah-olah akan memperbaiki amalku, padahal maksudmu untuk merosakkannya. Aku ini hamba Allah dan Allahlah jua yang menjadikan aku. Kalau Allah SWT. berkehendak menzhohirkan amalku atau menyembunyikannya; dan kalau berkehendak menjadikan aku mulia atau hina, ini adalah urusan Allah. Aku tidak gelisah apakah amalku itu diperlihatkan oleh Allah kepada manusia atau tidak kerana itu bukan urusan aku sebagai seorang hamba Allah.

7. Setelah gagal syaitan itu menggoda dengan jalan keenam, maka ia menggoda lagi dengan jalan ketujuh dengan mengatakan; "Hai manusia..tidak perlu engkau menyusahkan dirimu untuk beramal ibadah, kerana jika engkau telah ditetapkan oleh Allah pada masa azali dan dijadikan makhluk yang bahagia, maka tidak menjadi mudorat apa-apa bagi engkau untuk meninggalkan amal, engkau akan tetap menjadi seorang yang bahagia. Sebaliknya jika engkau dikehendaki Allah menjadi orang yang celaka, maka tidak ada gunanya lagi engkau beramal dan tetaplah engkau celaka".Orang-orang yang terpelihara oleh Allah tentu akan menolak godaan ini dengan mengatakan:

Aku ini seorang hamba, berkewajipan menurut perintah Tuhanku. Tuhan Maha Mengetahui , menetapkan sekehendakNya dan berbuat apa saja yang dikehendakiNya. Amalku tetap akan bermanfaat, walau bagaimanapun keadaanku. Jika aku dijadikan seorang yang seorang yang berbahgia, aku tetap perlu beribadah untuk menambah pahala, dan jika aku dijadikan seorang yang celaka, aku tetap harus beramal ibadah, supaya tidak menjadi penyesalan bagi diriku meninggalkan amal itu.

Jika sekiranya aku dimasukkan neraka, padahal aku taat, aku lebih senang daripada jika dimasukkan neraka kerana aku maksiat. Tetapi tidak akan demikian keadaannya kerana janji Allah pasti terjadi dan sabdaNya pasti benar. Allah telah menjanjikan kepada siapa yang beramal taat kepadaNya akan diberi ganjaran. Siapa-siapa yang meninggal dunia dalam keadaan beriman dan taat kepada Allah, tidak akan dimasukkan ke dalam neraka dan pasti akan dimasukkan ke Syorga. Jadi masuknya, seseorang ke Syurga bukanlah kerana kekuatan amalnya, tetapi kerana janji Allah semata yang pasti dan suci.

Oleh kerana itu, sedarlah wahai hamba Allah, semoga Allah memberi rahmat kepadamu, sesungguhnya urusan taat kepada Allah seperti yang engkau lihat dan dengar bahawa banyak sekali godaan dan tipuan syaitan untuk menggagalkannya. Qiyaslah segala urusan dan tingkah laku kepada keadaan tersebut, dan bermohonlah pertolongan kepada Allah agar engkau dilindungi dan dipelihara dari kejahatan syaitan ini, kerana sega sesuatu benda di bawah kekuasaan Allah dan kepada Allah kita mohon Taufiq untuk mendapatkan keridhoaanNya.

TIDAK ADA DAYA UNTUK MENINGGALKAN MAKSIAT DAN TIDAK ADA KEKUATAN UNTUK MENGERJAKAN TAAT, KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH YANG MAHA LUHUR DAN MAHA AGUNG



Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan

Questions & suggestion or problems regarding this web site should be directed to webmaster

Copyright © Sep 2002 - swaramuslim - power with Pmachine All right reserved

in association with Muslim Netters Association

best viewed with IE Resoluton 800 X 600

JIMAT: Terjerumus kepada Kesyirikan


Bahaya Tama'im (Jimat)

Suatu ketika, datang rombongan yang terdiri atas 10 orang menghadap Nabi

Muhammad SAW untuk berbaiat (menyatakan masuk Islam). Lalu Rasulullah SAW membaiat yang sembilan orang dan menahan yang seorang lainnya. Para sahabat ber

tanya, ''Mengapa engkau menahan yang seorang lagi ya Rasulullah.'' Beliau menjawab, ''Sesungguhynya di pundaknya terdapat jimat.''


Akhirnya, laki-laki itu membuang jimat yang ada di tubuhnya. Setelah itu ba

ru Rasulullah SAW membaiatnya seraya bersabda, ''Barangsiapa yang menggantungkan jimat, sesungguhnya dia telah melakukan perbuatan syirik.'' (HR Ahmad, Al-Hakim, dan Abu Ya'la dengan isnad jayyid).

Hadis tersebut menyiratkan larangan kepada kaum Muslimin untuk melakukan hal-hal yang berbau klenik. Memasang jimat untuk menolak bala, mengandalkan jampi-jampi untuk menolak penyakit, dan memakai guna-guna untuk mencelakakan orang lain adalah bagian dari hal yang berbau klenik. Tindakan seperti ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Istilah yang sering kita kenal sebagai jimat, dalam Islam dinamakan tama'im (tamimah), yaitu sesuatu yang mereka gantungkan pada anak-anak mereka untuk mengusir jin, penyakit mata, dan lain-lain. Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan tiwalah (guna-guna yang dipakai wanita untuk menjadikan suaminya cinta kepadanya) adalah syirik.'' (HR Ahmad, Abu Daud, Baihaqi, dan Hakim).

Para sahabat dan tabi'in juga sangat membenci jimat-jimat. Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki yang menggantungkan benang sebagai jimat, lalu beliau membacakan ayat yang terdapat dalam surat Yunus ayat 106, ''Dan jangan engkau seru sesuatu dari selain Allah apa yang tidak memberi manfaat maupun madharat kepada kamu ....''

Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha'i, salah seorang pembesar tabi'in, berkata, ''Mereka (para sahabat) membenci semua bentuk jimat, baik yang dari Alquran maupun bukan dari Alquran. Berdasarkan dalil-dalil yang mu'tabar pelarangan terhadap semua bentuk jimat, jampi-jampi, dan guna-guna bagi orang mukmin itu dilatari beberapa alasan.

Pertama, Nabi Muhammad SAW mengingkari orang yang memakai tamimah (jimat), baik tamimah itu dari ayat Alquran maupun bukan. Kedua, untuk mengantisipasi kemungkinan makin meluasnya penggunaan jimat. Orang yang menggantungkan Alquran menjadi jimat, suatu ketika akan menggantungkan hal yang lain untuk kepentingan yang sama.

Ketiga, perbuatan semacam itu sama dengan merendahkan dan menghina Alquran. Orang yang memakainya akan membawanya ke tempat-tempat najis, buang air, istinja', kadang-kadang janabah atau digunakan oleh wanita yang sedang haid.

Karena itu, sangat tepat pendapat yang mengatakan bahwa semua jimat, jampi-jampi, dan guna-guna itu terlarang. Bahkan, Rasulullah SAW telah mendoakan orang-orang yang memakainya dengan doa, ''Barangsiapa yang menggantungkan jimat, mudah-mudahan Allah tidak menyempurnakan urusannya. Dan barangsiapa yang menggantungkan benda keramat (sebagai penangkal), mudah-mudahan Allah tidak memberi perlindungan kepadanya.'' Wallahu a'lam. (Suprianto/RioL )



Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan

Questions & suggestion or problems regarding this web site should be directed to webmaster

Copyright © Sep 2002 - swaramuslim - power with Pmachine All right reserved

in association with Muslim Netters Association

best viewed with IE Resoluton 800 X 600

SIHIR, PARANORMAL, DUKUN


SIHIR, PARANORMAL DAN PRAKTEK PERDUKUNAN DALAM ISLAM

Indonesia adalah tempat yang subur untuk perdukunan. Negara ini seolah terbelenggu dengan perdukunan. Jual tanah saja harus pergi ke dukun, mau usahanya lancar, mau jabatannya bertahan, mau punya wibawa dan ditakuti bawahan harus pergi ke dukun. Walaupun mungkin sebutan dukun sekarang kalah populer dengan paranormal atau pensehat sp
iritual, ditambah lagi oleh mitos-mitos yang berkembang di nusantara ini, seperti orang hamil harus membawa gunting, angka 13 adalah angka sial, diperparah lagi oleh tayangan mistik dan klenik yang berkembang pesat di dunia pertelevisian kita, dan ironinya mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Dari data yang ada, sekitar 149 tayangan misteri di TV kita. Di kantor terkumpul jimat dari harga yang terendah Rp 100 dan termahal Rp 1 milyar.

Dunia sihir dan perdukunan erat kaitannya dengan dunia jin dan setan, karenanya pada kesempatan ini perlu kiranya kita menyimak pandangan Islam tentang dunia jin.

Prinsip-prinsip Islam Mengenai Jin dan Setan


1. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber kita dalam mengenal masalah ghaib. Setiap informasi tentang yang ghaib selain dari keduanya harus kita tolak, kecuali yang selaras dengan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah Swt berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 49:1)

2. Allah menciptakan jin dan manusia untuk satu tujuan yakni mengabdi kepada Allah Swt.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56)

3. Jin diciptakan dari percikan api neraka sebelum manusia diciptakan.

“Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. 55:15)

4. Iblis adalah keturunan jin yang membangkang dari perintah Allah, Dia bukan golongan malaikat.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:"Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS. 18:50)

5. Syetan adalah sebutan bagi pembangkang dari golongan jin dan manusia, sebagai musuh dari setiap orang beriman.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. 6:112)

6. Jin adalah ummat seperti manusia, ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang mukmin dan ada yang kafir, agama mereka berbeda-beda, tetapi mereka harus tetap mengikuti syariat.

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. 72:11)

7. Jin bisa melihat manusia, sedangkan manusia tidak bisa melihat jin.

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. 7:27)

8. Jin tidak dapat menampakkan diri kepada manusia, tetapi jika yang muncul sejenis sesuatu yang menakutkan seperti kuntilanak, genderuwo, dsb maka itu adalah setan yang ingin menakut-nakuti manusia tapi bukan asli jin.

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72:27)

9. Setiap manusia diikuti oleh dua qarin dari jin dan dari malaikat. Qarin dari malaikat selalu membisikkan kebaikan, sebaliknya qarin dari jin selalu membisikkan kejelakan dan kejahatan. Sedangkan qarin dari jin yang mendampingi Rasulullah Saw telah masuk Islam.

Tidaklah salah seorang dari kalian, kecuali telah didampingi oleh qarinnya dari golongan jin dan malaikat. Para sahabat bertanya, “Dan engkau juga ya Rasulullah/” Rasulullah menjawab, “Demikian juga dengan saya. Tetapi Allah telah membantu saya atasnya. Maka dia masuk Islam. Dan ia tidak memerintahkan saya kecuali dalam kebaikan” (HR. Muslim)

10. Memohon perlindungan kepada jin adalah haram, seperti minta perlindungan terhadap dirinya, kesehatannya, keselamatannya, hartanya, rumahnya, kantornya, kebunnya, kenadaraannya, jabatannya, usahanya, agamanya, dsb.

Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. 72:6)

11. Jin bisa merasuk ke dalam jasad manusia dan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw:

“Sesungguhnya syaitan itu mengalir dari tubuh manusia melalui jalan darah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

12. Syetan atau jin pembangkang tidak akan mampu menguasai orang yang beriman dan selalu bertawal kepada Allah.

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. 16:99)

13. Orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan syirik, mereka mendapat jaminan keamanan dan jaminan petunjuk dari Allah.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:82)

14. Gangguan jin terhadap manusia dengan merasuk ke dalam jasadnya adalah tindakan zhalim. Terapinya adalah dengan cara membersihkan keimanannya, meluruskan ibadahnya dengan memperbanyak dzikir.

15. Terapi secara syar’i adalah bagian dari jihad fi sabilillah melawan syaitan maka kita haruslah tetap istiqamah di atas jalan yang haq.

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. 35:6)

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. 4:76)

Demikianlah makalah yang sederhana ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua dalam rangka menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar dan menjaga kemurnian aqidah kita. (ikadi)






Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan

Questions & suggestion or problems regarding this web site should be directed to webmaster

Copyright © Sep 2002 - swaramuslim - power with Pmachine All right reserved

in association with Muslim Netters Association

best viewed with IE Resoluton 800 X 600

Rabu, 11 Januari 2012

MENCARI ILMU ITU WAJIB .... !!! #3

5. ADAB-ADAB MENUNTUT ILMU DAN BEBERAPA SIFAT YANG HARUS DIJAUHI.

a. ADAB-ADAB MENUNTUT ILMU

1) Ikhlas

Seorang yang hendak menuntut ilmu harus berniat melakukan kegiatannya itu karena Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Jika seseorang berniat menuntut ilmu untuk mendapatkan ijasah agar mendapatkan kedudukan atau status dalam masyarakat maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mengancam dalam sebuah hadits :

من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله عز وجل لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة يعني ريحها (حم, د 3179, جه 248)

Namun jika seseorang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan ijasah bukan karena kepentingan (keuntungan) dunia tetapi karena peraturan dan sistem yang ada mengharuskan ijasah dan menjadi standar internasional, Syekh Utsaimin mengatakan : Jika niatnya mendapatkan ijasah untuk memberi manfaat bagi manusia dengan mengajar, memegang sebuah jabatan tertentu atau yang lainnya, maka niat ini tidak mengapa karena ini niat yang benar. (Kitabul Ilmi, hal 25-26)

إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه رجل استشهد فأتي به …… ورجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن فأتي به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها قال تعلمت العلم وعلمته وقرأت فيك القرآن قال كذبت ولكنك تعلمت العلم ليقال عالم وقرأت القرآن ليقال هو قارئ فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار …. (م/3527)

Sengaja ikhlas disebutkan di awal pembahasan adab karena ikhlas merupakan pondasi.

2) Diniatkan untuk menghilangkan ketidaktahuan (kebodohan) diri dan orang di lingkungannya. Karena pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman :

و الله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع و الأبصار و الأفئدة لعلكم تشكرون(النحل: 78)

Menuntut ilmu dengan niat menghilangkan ketidaktahuan (kebodohan) dari diri sendiri karena pada dasarnya setiap kita tidak tahu apa-apa sebelum belajar. Jika kita belajar dan menjadi orang yang berilmu maka ketidaktahuan (kebodohan) akan hilang. Demikian pula berniat menghilangkan ketidaktahuan dari umat ini. Ini bisa dilakukan dengan belajar dan berbagai usaha yang menyebabkan orang lain mendapat ilmu.

Untuk mendapatkan ilmu tidak hanya dengan duduk di pengajian, tetapi bisa dengan berbagai cara dan dalam berbagai keadaan. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda :

بلغوا عني ولو آية (خ, كتاب الأنبياء)

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Ilmu itu tidak bisa ditandingi jika niat (belajar)nya benar.” Murid-murid beliau bertanya: “Bagaimana caranya?” Beliau menjawab: “Berniat menghilangkan ketidaktahuan dari diri sendiri dan orang lain.”

3) Menjaga syari’at Islam.

Hendaknya orang yang menuntut ilmu berniat menjaga dan membela syari’at karena buku-buku tidak mungkin membela syari’at. Seandainya seorang ahlu bid’ah mendatangi sebuah perpustakaan yang sangat penuh dengan buku-buku agama, kemudian berbicara dan menetapkan suatu bid’ah, tidak ada satu bukupun yang sanggup membantahnya. Berbeda jika dia berbicara dan menetapkan sebuah bid’ah di hadapan seorang ahlul ‘ilmi, maka ahlul ilmi tersebut akan dapat menolak dan membantahnya dengan al Qur`an dan as Sunnah.

Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban thalibul ilmi untuk menuntut ilmu dengan niat menjaga syari’at, karena melindungi syari’at hanya bisa dilakukan oleh pasukannya. Hal ini seperti senjata. Sandainya kita memiliki berbagai senjata yang penuh dalam gudang, tentu harus ada orang-orang yang menggunakan senjata-senjata tersebut. Karena senjata-senjata tersebut tidak bisa menembak dengan sendirinya.

Kemudian bid’ah juga terus berkembang. Kadang ada bid’ah yang tidak terdapat dalam buku para ulama salaf tetapi sekarang muncul.

Oleh karena itu, orang-orang sangat membutuhkan ulama yang sanggup membantah usaha para ahlul bid’ah dan seluruh musuh Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan ilmu syar’i yang bersumber dari al Qur`an dan as Sunnah.

4) Lapang dada dalam perbedaan pendapat (yang mungkin terjadi).

Masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para ulama ada beberapa jenis :

(1) Masalah yang sudah jelas dan tidak membuka kesempatan bagi siapa saja untuk ijtihad; maka tidak boleh ada perbedaan.

(2) Masalah yang masih terbuka kesempatan untuk berijtihad, maka perbedaan pendapat di sini masih bisa ditolerir. Pendapat anda tidak bisa menjadi argumen (hujjah) yang harus dipaksakan terhadap orang lain. Sebab kalau kita katakan bisa, maka akan berlaku pula sebaliknya, pendapat orang lain menjadi argumen (hujjah) yang harus dipaksakan kepada anda. Tentu ini untuk masalah-masalah yang banyak menggunakan logika (dan tidak ada nash secara tegas yang menjelaskannya) serta masih terbuka kesempatan untuk berbeda pendapat. Tetapi perbedaan pendapat ini tidak boleh kita jadikan alasan untuk mencela dan mencaci maki orang lain dan tidak boleh menjadi sebab permusuhan. Para sahabat dahulu pernah berbeda pendapat dalam beberapa masalah ijtihadiyah, tetapi hal itu tidak menjadikan mereka bermusuhan satu sama lain.

Berbeda halnya dengan orang yang menentang dan tidak mau mengikuti jalan para ulama salaf (dari kalangan para sahabat Nabi, tabi’in dan yang mengikuti jalan mereka), seperti masalah-masalah ‘aqidah, maka semua pendapat yang bertentangan dengan para ulama salaf tidak bisa diterima.

5) Mengamalkan ilmu

Thalibul ilmi berkewajiban mengamalkan ilmunya, baik dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak, adab dan mu’amalah. Amal adalah buah hasil ilmu. Orang yang berilmu seperti pembawa senjata. Senjatanya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya ataupun sebaliknya. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda :

القرآن حجة لك أو عليك * (م/328)

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن عمره فيما أفناه وعن علمه فيم فعل وعن ماله من أين اكتسبه و فيم أنفقه وعن جسمه فيم أبلاه * (ت /2341)

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : "من علم منكم علما فليقل به ومن لم يعلم فليقل لما لا يعلم الله أعلم فإن العالم إذا سئل عما لا يعلم قال الله أعلم وقد قال الله لرسوله ( قل لا أسألكم عليه من أجر وما أنا من المتكلفين ) * (د/175)

Abud Darda` berkata : “Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di hadapan Allah pada hari Qiamat adalah orang ‘alim yang tidak mengambil manfaat dari ilmunya.” (HR Ad Darimi no 264)

Kalau ada perintah dari Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan rasul Nya, maka percaya dan yakinilah kebenarannya kemudian amalkan, tanpa harus bertanya: Untuk apa ? Bagaimana ? Karena kebiasaan seperti ini bukan cara-cara orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa :

وما كان لمؤمن ولامؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا (سورة الأحزاب : 36)

Para sahabat dahulu, jika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berbicara dengan mereka dan memerintahkan mereka dengan barbagai hal yang kadangterasa aneh dan asing menurut pemahaman mereka, tetapi mereka menerimanya (secara langsung) tanpa bertanya : Untuk apa ? Bagaimana ? Berbeda dengan orang-orang sekarang, yang jika diajak dengan sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kemudian terasa asing di fikirannya, langsung mengajukan berbagai pertanyaan yang sebenarnya ingin menolak perintah itu, bukan ingin tahu. Oleh karena itu mereka (orang-orang sekarang) terhalang untuk mendapat taufik.

6) Mengajak ke jalan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Thalibul ilmi hendaklah menjadi da’i yang menyeru ke jalan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam berbagai kesempatan, di masjid, pertemuan-pertemuan, pasar dan sebagainya. Kita lihat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam setelah menerima wahyu menjadi nabi dan rasul, beliau tidak tinggal diam di rumahnya, beliau berda’wah dan terus berusaha. Kita tidak ingin bahwa para thalibul ilmi hanya menjadi orang-orang yang menukil dari buku, tetapi menjadi ulama yang senantiasa beramal.

7) Hikmah dalam bertindak.

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman :

يؤتي الحكمة من يشاء و من يؤتى الحكمة فقد أوتي خيرا كثيرا (البقرة : 269)

Termasuk sikap hikmah bahwa thalibul ilmi mendidik orang dengan akhlak yang menjadi perilakunya dan mengajak kepada agama Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, dengan menghadapi dan mensikapi setiap orang dengan cara yang sesuai dengan kondisinya.

Al Hakim (orang yang berhikmah) adalah orang yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Hendaknya setiap thalibul ilmi memilih cara dakwah yang paling mudah diterima. Kalau kita lihat banyak diantara da’i sekarang, karena semangatnya yang berlebihan akhirnya membuat orang lari dari da’wahnya. Kalau ada orang yang melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, anda akan lihat ia (da’i)mensikapinya dengan keras, yang membuat orang-orang lari dari da’wahnya.

8) Sabar ketika belajar.

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman :

تلك من أنباء الغيب نوحيها إليك ما كنت تعلمها أنت و لا قومك من قبل هذا فاصبر إن العاقبة للمتقين (هود :49)

“Itu adalah diantara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Huud ayat 49)

9) Menghargai dan memuliakan ulama`.

Thalibul ilmi harus menghormati dan menghargai ulama`, punya sikap lapang dada terhadap perbedaan pendapat para ulama, bersedia memaafkan kesalahan orang yang keliru dalam aqidah. Ini point yang penting sekali. Karena ada sebagian orang yang mencari-cari kesalahan orang lain, agar bisa melakukan perbuatan yang tidak layak terhadap mereka dan merusak wibawa mereka. Ini termasuk kesalahan yang paling besar. Kalau ghibah terhadap orang awam termasuk dosa besar, maka ghibah terhadap orang ‘alim jauh lebih besar, karena ghibah terhadap orang ‘alim akibatnya bukan hanya terhadap dirinya sendiri tetapi juga terhadap ilmu syari’ah yang dibawanya.

ليس من أمتي من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا (مسند أحمد ج: 5 ص: 323, عن عبادة بن الصامت)

10) Berpegang teguh kepada Al Qur`an dan As Sunnah.

11) Teliti dengan sumber dan isi ilmu yang akan dipelajari

12) Bersemangat untuk memahami ayat dan hadits sesuai dengan yang dikehendaki Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan rasul Nya shallallaahu 'alaihi wa sallam.

b. SIFAT-SIFAT YANG HARUS DIJAUHI OLEH PENUNTUT ILMU.

a. Hasad (iri dan dengki)

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahawa hasad adalah suatu sifat yang tercela, ia senantiasa menjangkiti hati setiap manusia. Dimana hal itu timbul karena adanya persaingan dengan orang lain untuk mendapatkan suatu maksud yang sama – sama diinginkan, sehingga merekapun saling membenci. Sebagaimana telah diriwayatkan dari Zubair bin Al Awwam -semoga Allah meridloinya- dia berkata : Rosulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berkata: “ Kalian akan terkena suatu penyakit umat – umat sebelum kalian yaitu dengki dan kebencian.”(HR. Tirmidzi dan Ahmad).

“ Janganlah kalian saling membenci, saling memutuskan hubungan, saling mendengki, saling bermusuhan, jadilah kalian hamba – hamba Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang bersaudara.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim )

Karena itu orang yang berilmu mendengki orang yang berilmu lainnya dan bukan kepada ahli ibadah. Dan sebaliknya ahli ibadah akan mendengki ahli ibadah lainnya dan bukan kepada ahli ilmu, tukang sepatu mendengki tukang sepatu lainnya dan tidak mendengki pedagang kain kecuali jika ada sebab – sebab tertentu. Dimana pangkal semua ini adalah cinta dunia. Dunia inilah yang membuat dua pesaing merasa tempat berpijaknya menjadi sempit, berbeda dengan urusan akhirat yang tidak akan membuat seseorang merasa sempit.sebab siapa yang mengetahui Allah ta’ala, malaikat , para nabi Nya, kekuasaan langit dan bumi, tidak akan mendengki orang lain. Bahkan jika ada pengetahuan diketahui orang lain atau banyak maka dia akan merasa gembira. Oleh karena itu semua ulama tidak ada yang saling mendengki. Sebab tujuan mereka adalah mengetahui Allah ta’ala.

Adapun sifat dengki tidak semua dilarang , sebagaimana sabda Rosulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam didalam Ash Shohihain disebutkan dari hadits Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma :” Tidak ada dengki kecuali dakam dua perkara : Orang yang diberi Al - Qur’an oleh Allah ta’ala lalu dia membacanya menjelang malam dan menjelang siang, dan seseorang yang diberi harta oleh Allah ta’ala lalu dia menafkahkannya dalam kebenaran menjelang malam dan menjelang siang.” ( HR. Bukhori dan Muslim ).[4].

b. Ta’ashub

Kata Ta’ashub secara bahasa berasal dari kata al - ‘ashabiah yang berarti semangat golongan, sedangkan kata ta’ashoba artinya mengencangkan pembalut atau perkumpulan atau ikatan .Dan ta’ashub bisy – syai artinya radhia bihi (rela terhadapnya )

“Apabila engkau menjadikan apayang datamg dari seseorang yang berupa pendapat atau apa yang diriwayatkannya berupa ijtihad sebagai hujjah bagimu dan bagi ssetiap orang.” (Asy Syaukani, dinukil dr kitab Wujub Luzumil Jama’ah)

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah telah berkata dalam kitabnya Iqtidho Shirathal Mustaqim:

“Barang siapa mewajibkan untuk bertaqlid kepada seorang imam tertentu ( dengan disertai tidak boleh mengikutipendapat imam yang lain ) maka ia diminta untuk bertaubat, kalau tidak maka dibunuh , karena sesungguhnya penetapan kewajiban ini merupakan kemusyrikan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam hal pen syariatan, padahal perkara ini merupakan kekhususan Allah ta’ala dalam rububiah.

Dampak Negatif :

Adapun dampak negatifnya adalah :

1. Timbulnya perselisihan diantara umat Islam ( Qs Al Anfal : 46 )

2. Pengagungan terhadap selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan Rasul Nya. Ini merupakan kesesatan. (Qs An Nur: 63 ,Al Hujurat:1 ,An Nur: 51 –52 )

Al Imam Asy Syathibi telah berkata dalam kitabnya Al I’tishom II/355: “ Sesungguhnya berhukum kepada seseorang dengan tidak memperhatikan bahwa dia itu adalah wasilah untuk suatu hukum syar’I yang diinginkan secara syari’at adalah suatu kesesatan.”

3. Timbulnya al wala’ (loyalitas) al baro’ ( berlepas diri ) yang tidak benar.

4. Menolak kebenaran / al Haq.

5. Tersebarnya berbagai bid’ah ditengah umat Islam.(Dinukil dari Bundel majalah as Sunnah hal.19 – 23 )

c. Menjauhi ma’shiat.

d. Sombong.

e. Malas.

f. Sifat mudah putus asa.



[1] Syarah ushul tsalatsah, Syaikh Al ‘Utsaimin hal.27

[2] (lihat Manhajul anbiya fii tazkiyatun nufus hal.110

[3] Kitabul’ilmi, Syaikh Utsaimin hal. 67

[4] (Minhajul Qoshidin, Ibnu Qudamah hal. 234 – 236