Rabu, 17 April 2013

Spiritual Building Training "SBT"



Refleksi
SPIRITUAL BUILDING TRAINING
Rabu, 17 April 2013  di Aula KanKemenag Kab. Kebumen
oleh
H. Andy Kusuma Brata


Pagi sebelum jam 07.00 saya sampai di Madrasah tempat tugasku MI Sumberadi, pagi itu madrasah tak seramai biasanya, karena sebagian murid libur/belajar di rumah. Hari itu hari terakhir Uji Coba UN Tk. Kabupaten ke-2. Guru yang hadir baru 1 orang Pak Munawar namanya. Pak Kepala Madrasah tak biasanya hari itu belum rawuh, biasanya jam setengah 7 dia sudah rawuh, pikirku mungkin sedang ada kepentingan. Setelah meletakkan tas rangsel hitam berisi peralatan sekolah + laptop yang lumayan berat, aku menuju ruang kelas VI mengecek ruang tempat murid kelas 6 akan berlatih soal UN mapel IPA. Benar saja, petugas piket hari ini belum melaksanakan tugas dengan baik, kelas belur rapi. Buru-buru saya panggil regu piket untuk segera membereskannya.
Setelah itu aku kembali ke kantor, kebetulan Pak Kamad baru rawuh. Baru saja sy duduk di kursi tamu ingin baca Kebumen Ekpress hari itu, Pak Kamad menghampiri, aku diminta mewakili undangan mengikuti Training Motivasi bagi Kepala Madrasah di Aula KanKemenag Kebumen karena hari itu Pak Kepala ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Saya manut saja, undangan jam 08.00 wib, tapi saya menunggu sampai jam 8 saat anak kelas 6 sudah mulai mengerjakan soal Tryout IPA. Setelah saya pencet bel 1 kali tanda mulai mengerjakan tepat jam 8, saya berkemas dan pamit berangkat ikut training motivasi.
Sekitar seperempat jam saya sampai di lokasi, sudah ada yang hadir, tapi masih sepi. Menunggu sambil ngobrol dengan teman-teman, sekitar jam 9 acara baru dimulai. Pak Kasi Mapenda memberikan sambutan, dilanjutkan sambutan dari Tiga Serangkai, dan tim SBT mulai memberikan materi, ternyata training kali ini luar biasa, jarang sekali di Kebumen ada kegiatan Motivasi Spiritual seperti ini, ini pertama kali saya mengikutinya. Begitu banyak manfaat yang insyaAllah saya dapatkan, dan sama sekali tak mampu kuhitung banyaknya, tak bisa pula kutuliskan satu demi satu, kecuali dalam REFLEKSI singkat berikut ini, semoga bermanfaat bagi diri saya pribadi, dan siapapun anda, amin.

Meraih Keberhasilan

Keberhasilan tidaklah dicapai dalam sekejap, tidak mudah seperti membalik telapak tangan, tidak semulus yang dibayangkan.
‘Tapi menuju keberhasilan itu akan selalu menghadapi rintangan’, hambatan, jalan berliku yang melelahkan, mendaki terjal yang memeras keringat, rumit memeras otak untuk memikirkan pemecahannya.
‘Bukankah tangga itu selalu naik?’ Keberhasilan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi, maka kitapun harus naik untuk mencapainya.

Syetan Terus Menghadang

Begitupun upaya kita untuk senantiasa berusaha mendekatkan diri kita kepada Allah swt. Apakah disangka mudah?
Apakah ketaatan kita atas menjalankan perintah-perintahnya, serta menjauhi larang-larangannya itu mudah dilakukan?
Sesungguhnya ‘semakin kita berusaha dekat kepada Allah, maka semakin kuat pula syetan menggoda kita.’
Dan ingatlah pula bahwa ‘syetan itu pantang menyerah!, syetan itu dimana-mana sama, menjerumuskan anak cucu Adam as. hingga akhir zaman. Syetan hidup jutaan/milyaran tahun, pantas saja mereka cerdas, pandai, mereka sudah profesional menjalankan tugasnya menyesatkan umat manusia sejak zaman dahulu kala. Bayangkan, syetan yang dulu menggoda Nabi Adam as, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dll. mereka masih hidup hingga sekarang, dan tak pernah berhenti membisik-bisikkan kesesatan dalam diri kita umat manusia.
Marilah kita berlindung kepada Allah, dari godaan syetan yang terkutuk.


Setiap manusia ingin sukses, ingin meraih keberhasilan

Mungkin di antara kita ada yang sudah merasakan keberhasilan, namun tak jarang keberhasilan itu masih jauh dari harapan, masing menjadi angan-angan, impian. Harapan yang tak pernah henti diperjuangkan.
Faktor kesuksesan itu ada 3:
1.      NASAB
Nasab artinya keturunan. Bahwa kesuksesan itu diraih karena faktor keturunan.
-          Bapak dan ibunya kaya, maka pantas saja anaknya juga jadi orang kaya.
-          Orang tuanya pintar, maka pantaslah anaknya juga pintar, selalu jadi bintang kelas, rengking 1.
-          Orang tuanya atlet hebat (sepakbola, bulu tangkis, karate, atau lainnya), maka pantaslah jika anaknya juga hebat seperti orang tuanya menjadi atlet hebat dan berprestasi.
Kesuksesan faktor NASAB seperti diakui keberadaannya, ada banyak di sekitar kita, tak ada orang yang bisa mempermasalahkannya.
2.      NISAB
Adapun kesuksesan karena NISAB atau kompetensi, keahlian, atau kemampuan yang dimiliki seseorang.
Bapaknya seorang petani, tetapi anaknya menjadi dokter. Ini karena sang anak benar-benar memiliki kompetensi, sehingga bisa menjadi dokter.
Anak tipe seperti ini berbeda dengan anak kebanyakan lainnya.
-          Ketika orang lain sibuk bermain, dia sibuk dengan urusan belajarnya.
-          Ketika teman-temannya sudah pusing, bosan karena membaca 3 halaman buku, dia mampu menghabiskan satu buku bacaan dalam sekali duduk.
-          Ketika anak lain sebayanya sibuk bertanya kesana kemari karena permasalahnya, dia sibuk mencari dan menemukan sendiri pemecahannya. Dll.
Kompetensi yang dimiliki membuat seseorang menjadi hebat, tangguh, kuat, juara. Orang lain pun tak ada yang komplain karena kesuksesan tersebut.
3.      NASIB
Sebenarnya dia berasal dari orang biasa-biasa saja, tidak pintar, tak cakap, tetapi dia bisa SUKSES. Orang-orang biasa mengatakan dia orang BEJO. Sejak dulu ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘orang pinter bisa kalah dengan orang yang bejo’. Sampai-sampai saat ini ada iklan produk di televisi dengan jargon tentang orang bejo ini.
Namun perlu dimengerti bahwa orang bejo ini tidak semuanya tipikal orang tanpa kompetensi. Ada kalanya bahwa orang dengan penampilan biasa, tapi tak disangka sebenarnya dia memiliki bakat luar biasa, bakat terpendam, kemampuan yang belum tergali dengan maksimal, dan baru diketahui kemudian. Lihatlah Kompetisi ajang pencarian bakat yang kini marak di TV dalam dan luar negeri, tak jarang ditemukan bakat-bakat yang luar biasa, bahkan bisa lebih hebat dari para juri yang menilainya.

SUKSES ITU DIRENCANAKAN

Jalan menuju sukses itu ada 3:
1. DISIPLIN, kesuksesan itu tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi butuh konsistensi, usaha terus-menerus, berkesinambungan. Kedisiplinan menjadi modal penting untuk mewujudkan kesuksesan.
2. TEAM WORK, tidak ada sebuah kesuksesan yang dapat diraih sendirian. Semua orang membutuhkan orang lain. Kita harus menjalin kerjasama yang baik dengan orang di sekitar kita. Team work yang solid menunjang terwujudnya keberhasilan.
3. TIDAK MUDAH MENYERAH, Never Give Up. Dibutuhkan semangat yang tinggi, jiwa pantang menyerah, jika jatuh segera bangkit, jatuh lagi bangkit lagi, dst. Karena ‘tidak pernah kalah, bagi orang yang tak mudah menyerah.’

Semua Perlu Kasih Sayang

Kasih sayang yang tulus, murni adalah kasih sayang orang tua pada kita. Ingatlah ketika dulu kita disayangi, maka kasihi dia, sayangi dia.
Jika dulu kita ingat orang tua keras dan kasar dalam mendidik kita, ketahuilah, sesungguhnya marah mereka, pukulan mereka, adalah karena kasih sayang mereka kepada kita.
Menjadi orang tua di masa sekarang mungkin saja berbeda dengan zaman ketika kita kecil dulu. Sekarang ajaran kekerasan menjadi hal yang seharusnya dihindari. Tidak ada kekerasan di rumah, di sekolah, dimanapun serta terhadap siapapun, walaupun itu anak sendiri. Namun adalah bagaimana kasih sayang itu kita wujudkan nyata, menjadikan diri kita para orang tua sebagai sahabat anak-anaknya, yang menyediakan waktu untuk mendengar mereka, mengerti mereka, serta menjadi teladan bagi mereka.
Bagaimanapun pemikiran orang tua akan berbeda dengan anaknya, dan tak perlu dipaksakan untuk sama, karena sudut pandang pun berbeda, namun yang terpenting adalah bagaimana keduanya dapat saling memahami, mengerti, ada keterbukaan, serta kesediaan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semuanya tentu hanya dapat dicapai dengan didasari KASIH SAYANG.

JAUHI PRASANGKA

Jauhilah prasangka, karena prasangka itu ‘menutup kebenaran hakiki.’
Prasangka dilakukan oleh orang yang merasa tahu (sok tahu), walaupun pengetahuannya itu belum tentu benar. Prasangka menimbulkan seseorang ‘sulit mengakui’ kebenaran, pelaku prasangka cenderung ‘sinis’. Yang timbul tentu saja sifat iri, dengki, tak ingin disaingi oleh orang lain.
Ketahuilah bahwa : ‘Untuk menjadi lebih baik, kita tidak perlu menjelekkan orang lain.’


JADI PEMIMPIN ITU BERAT!

Pemimpin itu ibarat payung, ia melindungi, menaungi yang ada dibawahnya. Ketika terik ia yang paling merasakan panasnya, ketika hujan ia pula yang paling merasakan dinginnya air. Sungguh payung penuh dengan pengorbanan.
Seorang pemimpin sejati sudah pasti capek, kuras energi, putar otak, berkorban luar biasa, datang paling pagi pulang paling akhir, dll. Tapi apa yang dikatakan orang lain dan bawahannya: ‘Ah, itu biasa. Pemimpin memang harus begitu, itu sudah tugasnya!.’
Akan tetapi ketika payung itu ada yang bocor, airpun menetes membasahi bawahnya, apa yang terjadi. ‘Satu tetes itu menjadi cela yang terlihat menganga dilihat oleh semua orang, dan kebaikan yang selama ini ada seolah tak terlihat.’ Sabarlah wahai PEMIMPIN. Pemimpin yang adil, termasuk satu dari 7 golongan yang dijamin surga.


BEKERJA ADALAH IBADAH
Lakukan pekerjaan dengan benar
atau
Sibuklah mencari-cari alasan
padahal
Membetulkan kesalahan itu lebih lama, membutuhkan energi yang lebih besar
daripada
membangun yang baru.

Senin, 15 April 2013

Membaca Bismillahirahmanirrahim Ketika Shalat



TIDAK MENGERASKAN
“BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM”


Sebagian kalangan menganggap bahwa “Bismillahirahmanirrahim” harus dibaca sabagaimana dibaca Surat al-Fatihah, bahkan ada yang mengulangi shalatnya jika imamnya tidak mengeraskan “Bismillahirahmanirrahim” karena menganggap salatnya tidak sah. Lalu bagaimana kedudukan “Bismillahirahmanirrahim” dalam Surat al-Fatihah dan dalam shalat?

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum bacaan “Bismillahirahmanirrahim” sebelum al-Fatihah:

Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa “Bismillahirahmanirrahim” tidak dibaca secara total dalam shalat baik shalat jahriyah (dibaca keras) maupun sirriyah (dibaca lirih). Dalilnya hadits Anas ra beliau berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah saw., Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka semua membuka bacaannya dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, mereka semua tidak megucapkan ‘Bismillahirahmanirrahim’ baik di awal atau di akhirnya.” (HR. Muslim)

Imam Syafi’i rahimahullah berpendapat bahwa “Bismillahirahmanirrahim” wajib dibaca setiap kali membaca al-fatihah karena ia termasuk salah satu ayat Surat al-Fatihah, jika shalatnya jahriyah maka dibaca jahriyah, dan jika sirriyah maka dibaca sirriyah, pendapat ini didasari oleh hadits Nu’aim al-Mujmir berkata: “Aku pernah shalat bersama Abu Hurairah ra beliau membaca ‘Bismillahirahmanirrahim’, lalu membaca al-Fatihah ... dan diakhir hadits (Nu’aim berkata), Abu Hurairah berkata, ’Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku orang yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah saw.” (HR. Nasai dan Ibnu Khuzaimah)
Dalil lain adalah hadits Rasulullah saw. beliau bersabda: “Apabila engkau membaca ‘Alhamdulillah’, maka bacalah ‘Bismillahirahmanirrahim’, sesungguhnya ia termasuk dari Ummul Qur’an dan Ummul Kitab dan 7 (ayat) yang diulang-ulang, dan ‘Bismillahirahmanirrahim’ termasuk salah satunya.” (HR. Baihaqi, Daruquthni)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa “Bismillahirahmanirrahim” harus dibaca dalam shalat, hanya saja membacanya lirih tidak dijaharkan. Inilah pendapat yang paling kuat, dengan beberapa alasan, di antaranya:
  1. ·         Anas ra. menjelaskan bahwa Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin ketika menjadi imam, tidak menjaharkannya. Anas ra. berkata: “Sesungguhnya Nabi Muhammad saw., Abu Bakar, dan Umar, mereka membuka bacaan shalatnya dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. ·         Dalam riwayat lain, Anas bin Malik ra menegaskan: “Mereka (Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin) tidak menjaharkan ‘Bismillahirahmanirrahim’.” (HR. Nasai)
  3. ·         Dalam riwayat lain, Anas ra. menegaskan: “Mereka (Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin) melirihkan (Bismillahirahmanirrahim).”  (HR. Ibnu Khuzaimah)
  4. ·         Dalam sebuah hadits qudsi, Allah swt. berfirman: “Aku membagi shalat itu separuh untuk-Ku dan separuh lagi untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku berhak mendapat apa yang ia minta, jika ia (hamba-Ku) mengucapkan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’, jika mengucapkan ‘Arrahmanirrahim’, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku’ ...” (HR. Muslim).  Hadits ini menegaskan bahwa yang dibaca pertama kali adalah “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” bukan “Bismillahirahmanirrahim”.
  5. ·         Adapun peniadaan bacaan “Bismillahirahmanirrahim” dalam tambahan riwayat Muslim maka maksudnya adalah mereka melirihkannya sehingga tidak terdengar oleh makmum. (Demikian disampaikan oleh Ibnu Hajar dalam penjelasan hadits ini)
  6. ·         Adapun hadits Nu’aim al-Mujmir, maka Ibnul Qayyim berkata, “Hadits (Nu’aim) tentang dijaharkannya ‘Bismillahirahmanirrahim’ (oleh Abu Hurairah), maka Nu’aim bersendirian (meriwayatkan dari Abu Hurairah) di antara sekian banyak para sahabat Abu Hurairah ra. yang berjumlah 8 (delapan) perawi dari para sahabat Nabi saw. atau tabi’in (yang tidak meriwayatkan seperti Nu’aim).”
  7. ·         Adapun hadits perintah membaca “Bismillahirahmanirrahim” (HR. Baihaqi, Daruquthni), maka diperselisihkan keabsahannya; jika dianggap shahih maka tidak terdapat di dalamnya perintah menjaharkan “Bismillahirahmanirrahim”, tetapi hanya sekedar membaca dan ini tidak bertentangan dengan melirihkan sebagaimana kebiasaan Nabi saw. dan para Khulafaur Rasyidin.


Kesimpulan. Berkata Siddiq Hasan Khan, “Bismillahirahmanirrahim termasuk bagian dari al-Qur'an. Perselisihan masalah ‘Bismillahirahmanirrahim’ sangat panjang sebab perbedaan madzhab.” Lalu beliau menyimpulkan, “Yang lebih dekat kepada kebenaran, yaitu sunnahnya Nabi saw. tentang ‘Bismillahirahmanirrahim’ adalah tidak dijaharkan dalam shalat dengan dasar hadits Bukhari dan Muslim, sedangkan sebagian ulama pentahqiq memilih pendapat bahwa ‘Bismillahirahmanirrahim’ dijaharkan jika shalatnyaa jahriyah dan disamarkan jika shalatnya sirriyah.”

Al-Furqon Ed.12 Th.11, p.28-29


Minggu, 14 April 2013

Berdoa Sebelum Berhubungan Sex (Suami Istri)



KEUTAMAAN BERDO’A
SEBELUM BERHUBUNGAN SUAMI ISTRI


Dari Ibnu ‘Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin mengumpuli istrinya, ia membaca doa:


(Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rizki yang Engkau anugerahkan kepada kami.)

Kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca dzikir/doa ini sebelum berhubungan suami istri, karena selain mendapat pahala dari Allah swt. ini merupakan sebab selamatnya seorang bayi dari bahaya dan keburukan setan.

Faedah Penting dalam Hadits

Iblis dan bala tentaranya selalu berusaha menanamkan benih-benih keburukan kepada manusia sejak baru lahir dan sebelum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya, apalagi setelah ia mengenal semua godaan tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan.” (HR. Muslim)

Rasulullah saw. bersabda: “Allah swt. berfirman, yang artinya, ‘Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (suci dan cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka (agama)’.” (HR. Muslim)

Agungnya petunjuk Allah swt. dan Rasul-Nya saw.  yang mensyariatkan dzikir dan doa untuk kebaikan agama manusia dan perlindungan dari keburukan tipu daya setan.

Arti sabda Rasulullah saw. “... setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”, bahwa setan tidak akan bisa menyesatkan dan mencelakakan anak tersebut dalam diri dan agamanya, tapi bukan berarti menunjukkan bahwa anak tersebut terlindungi dan terjaga dari perbuatan dosa.

Termasuk keburukan yang terjadi akibat tidak menyebut nama Allah sebelum berhubungan intim adalah ikut sertanya syetan dalam hubungan intim tersebut, sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnu Hajar, asy-Syaukani dan as-Sa’di. Na’udzubillahi min dzalik.

Ibnu Hajar rahimahullah dan al-Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa dzikir dan doa ini diucapkan ketika hendak berhubungan sex suami istri dan bukan ketika sudah dimulai hubungan intim.

Anjuran membaca dzikir dan do’a ini juga berlaku bagi pasangan suami istri yang diperkirakan secara medis tidak punya keturunan, karena permohonan dalam do’a atau dzikir ini bersifat umum dan tidak terbatas pada keturunan atau anak saja.

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Sabtu, 13 April 2013

Jujur, Jangan Bohong !



HADITS
JUJUR, JANGAN DUSTA !

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata:
“Rasulullah saw. bersabda, Hendaklah kalian selalu berkata jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan seorang selalu berkata jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong).”
Hadits hasan shahih ini diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dll.

Penjelasan hadits:

“Hendaklah kalian selalu berkata jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan seorang selalu berkata jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.”

Dalam hadits ini Nabi saw. memerintahkan umatnya untuk berlaku jujur dalam perkataan, perbuatan, ibadah dan dalam semua perkara.
Jujur itu berarti selaras antara lahir dan batin, antara ucapan dan perbuatan, serta antara berita dan fakta.
Berlaku jujur akan membawa kepada al-birr (melakukan segala kebaikan), dan kebaikan itu akan membawamu menuju Surga.
Allah swt. meminta para hamba-Nya yang beriman agar jujur dan berpegang teguh pada kebenaran. Tujuannya agar mereka istiqamah di jalan kebenaran (orang-orang yang jujur).

Jujur merupakan sifat terpuji yang dituntut keberadaannya bagi kaum Mukmin baik laki-laki dan perempuan.
Dalam QS. Al Ahzab (33):35 disebutkan “...Laki-laki dan perempuan yang benar (jujur)...”
Allah swt. menjelaskan bahwa kejujuran itu merupakan kebaikan sekaligus penyelamat. Sifat itulah yang merupakan nilai amal perbuatan, karena kejujuran merupakan ruhnya.
QS. Muhammad: 21 yang artinya “...Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.”
Seandainya orang-orang itu benar-benar ikhlas dalam beriman dan berbuat taat, niscaya kejujuran adalah yang terbaik bagi mereka.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menerangkan bahwa sifat as-shidq  (kejujuran), dengan perkataannya, “Yaitu maqam (kedudukan) kaum yang paling agung, kedudukan para salihin”.

Mengapa kita harus mengutamakan KEJUJURAN?

  • ·         Kejujuran sebagai jalan terlurus, barang siapa tidak berjalan di atasnya, maka itulah orang-orang yang binasa.
  • ·         Dengan kejujuran itu pula dibedakan antara orang-orang yang munafik dan orang-orang yang beriman, dibedakan antara para penghuni surga dan penghuni neraka.
  • ·         Kejujuaran ibarat pedang Allah di muka bumi, tidak ada sesuatupun yang diletakkan diatasnya melainkan akan terpotong olehnya.
  • ·         Dan tidaklah kejujuran menghadapi kebatilan melainkan ia akan melawan dan mengalahkannya, dan kejujuran pasti akan menang.
  • ·         Barangsiapa menyeru tentang kejujuran, niscaya kalimatnya akan terdengar keras mengalahkan suara musuh-musuhnya.
  • ·         Kejujuran merupakan ruh amal, penjernih keadaan, penghilang rasa takut, dan pintu bagi orang-orang yang akan menghadap Rabb Yang Mahamulia.
  • ·         Kejujuran merupakan pondasi bangunan agama (Islam) dan tiang penyangga keyakinan.
  • ·         Iman merupakan pondasi kejujuran, dan kemunafikan merupakan pondasi kedustaan.
  • ·         Jujur dan dusta tidak akan berkumpul, karena salah satu dari keduanya pasti memerangi yang lainnya.
  • ·         Diantara tanda kejujuran adalah tenangnya hati, sebaliknya diantara tanda kedustaan adalah hati yang resah, gelisah, bimbang, khawatir, takut, perasaan yang akan menyiksa hati. Nabi saw. bersabda: “ ...Kejujuran itu ketentraman, dan dusta itu keragu-raguan...” (HR. At-Tirmidzi)


Penjelasan hadits:
Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong)

Nabi saw. melarang perbuatan dusta, dusta dalam segala sesuatu. Tidak benar orang yang mengatakan, “Berdusta itu jika tidak menimbulkan bahaya untuk orang lain maka tidak mengapa.” Ini adalah perkataan bathil, karena tidak ada nash yang menunjukkan perkataan tersebut. Sedang yang ada adalah nash tentang larangan perbuatan dusta.
 Bahaya DUSTA!
  • ·         Berdusta akan merusak pengetahuan dan dapat menyesatkan orang lain yang mengikutinya. Para pendusta akan mengatakan yang ada jadi tidak ada, yang benar dikatakan bathil, yang bathil dikatakan benar, baik jadi jahat, jahat jadi baik. Sehingga rusaklah dirinya dan orang lain di sekitarnya.
  • ·         Orang yang mengajarkan dusta kepada orang lain, akan berakibat lebih buruk lagi. Dirinya yang sudah salah, sesat dan menyesatkan pula orang lain. Dia menanggung dosa pada dirinya dan dosa orang lain yang mengikutinya.
  • ·         Seorang pendusta telah berpaling dari kebenaran yang ada, menjadikan condong kepada kebatilan. Jika perbuatan-pebuatan itu telah merusaknya dan kebohongan telah mempengaruhinya, maka hatinya menjadi hati yang dusta dari lisannya. Dia tidak bisa mengambil manfaat dengan lisannya dan juga amal-amalnya.
  • ·         Dusta adalah pokok (biangnya) kejahatan, sebagaimana sabda Nabi saw.: “Sesungguhnya dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka.”
  • ·         Yang pertama kali terpengaruh oleh perbuatan dusta adalah lisan, kemudian akan merusak amal-amal perbuatannya.

Kita harus berlindung kepada Allah swt dari golongan orang-orang yang suka berdusta. Karena seseorang jika sudah terbiasa berdusta, maka ia akan melakukannya dalam berbagai hal, dan celakanya Allah akan mencatanya sebagai golongan kadzdzab (orang yang banyak berdusta).

Amal shalih yang tampak maupun yang tersembunyi asalnya dari kejujuran. Dan semua amal jelek yang tampak maupun tersembunyi asalnya dari perbuatan dusta.

Sumber : As-Sunnah No. 9 Th.XVI p.14-19.