Kamis, 14 Juni 2012
Untuk Kita Renungkan
Rabu, 13 Juni 2012
Penyakit 'UJUB" bagi YANG MERASA dirinya: 'ALIM, HEBAT, PINTAR, KAYA...!!!!
PENYAKIT UJUB TERHADAP DIRI SENDIRI DAN AMAL
Salah seorang ahli hikmah berkata: "Ada seorang yang terkena penyakit ujub, akhirnya ia tergelincir dalam kesalahan karena saking ujubnya terhadap diri sendiri. Ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari orang itu, ketika ia berusaha jual mahal dengan kemampuan dirinya, maka Imam Syafi'i pun memban-tahnya seraya berseru di hadapan khalayak ramai: "Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri sendiri seca-ra berlebihan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menjatuhkan mar-tabatnya."
Defenisi Ujub
Orang yang terkena penyakit ujub akan meman-dang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan mengang-gapnya bagai angin lalu. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits:
"Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya." (HR. Al-Bukhari)
Barangkali gejala paling dominan yang tampak pada orang yang terkena penyakit ujub adalah sikap suka melanggar hak dan menyepelekan orang lain. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah meringkas defenisi ujub sebagai berikut: "Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara' dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya!"
Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam dengan salah satu dari tiga perkara ini: ujub terhadap diri sendiri, menganggap amalnya sudah banyak dan lupa terhadap dosa-dosanya. Dia berkata: "Saya tidak akan mencari cara lain." Semua perkara di atas adalah sumber kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam karena tiupan angin? Berapa banyak ibadah yang rusak karena penyakit ujub? Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa seorang lelaki berkata: "Allah tidak akan mengampuni si Fulan! Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala pun berkata:
"Siapakah yang lancang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni Fulan?! Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapus amalan-mu!" (HR. Muslim)
Sebab-Sebab Ujub
1. Faktor Lingkungan dan Keturunan
Yaitu keluarga dan lingkungan tempat seseorang itu tumbuh. Seorang insan biasanya tumbuh sesuai dengan polesan tangan kedua orang tuanya. Ia akan menyerap kebiasaan-kebiasaan keduanya atau salah satunya yang positif maupun negatif, seperti sikap senang dipuji, selalu menganggap diri suci dll.
2. Sanjungan dan Pujian yang Berlebihan
Sanjungan berlebihan tanpa memperhatikan etika agama dapat diidentikkan dengan penyembelihan, seba-gaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits. Sering kita temui sebagian orang yang terlalu berlebihan dalam memuji hingga seringkali membuat yang dipuji lupa diri. Masalah ini akan kami bahas lebih lanjut pada bab berikut.
3. Bergaul Dengan Orang yang Terkena Penyakit Ujub
Tidak syak lagi bahwa setiap orang akan melatahi tingkah laku temannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri bersabda:
"Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
4. Kufur Nikmat dan Lupa Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
Begitu banyak nikmat yang diterima seorang hamba, tetapi ia lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberinya nikmat itu. Sehingga hal itu menggiringnya kepada penyakit ujub, ia membanggakan dirinya yang sebenarnya tidak pantas untuk dibanggakan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menceritakan kepada kita kisah Qarun;
Belum Terbina Dengan Sempurna
Demi Allah, pada hari ini kita banyak mengeluhkan problematika ini, yang telah banyak menimbulkan berbagai pelanggaran. Sekarang ini banyak kita temui orang-orang yang berlagak pintar persis seperti kata pepatah 'sudah dipetik sebelum matang'. Berapa banyak orang yang menjadi korban dalam hal ini! Dan itu termasuk perbuatan sia-sia. Yang lebih parah lagi adalah seorang yang mencuat sebagai seorang ulama padahal ia tidak memiliki ilmu sama sekali. Lalu ia berkomentar tentang banyak permasalahan, yang terkadang ia sendiri jahil tentang hal itu. Namun ironinya terkadang kita turut menyokong hal seperti ini. Yaitu dengan memperkenalkannya kepada khalayak umum. Padahal sekarang ini, masyarakat umum itu ibaratnya seperti orang yang menganggap emas seluruh yang berwarna kuning. Kadangkala mereka melihat seorang qari yang merdu bacaannya, atau seorang sastrawan yang lihai berpuisi atau yang lainnya, lalu secara membabi buta mereka mengambil segala sesuatu dari orang itu tanpa terkecuali meskipun orang itu mengelak seraya berkata: "Aku tidak tahu!"
Perlu diketahui bahwa bermain-main dengan sebuah pemikiran lebih berbahaya daripada bermain-main dengan api. Misalnya beberapa orang yang berse-pakat untuk memunculkan salah satu di antara mereka menjadi tokoh yang terpandang di tengah-tengah kaumnya, kemudian mengadakan acara penobatannya dan membuat-buat gelar yang tiada terpikul oleh siapa pun. Niscaya pada suatu hari akan tersingkap kebobrok-annya. Mengapa!? Sebab perbuatan seperti itu berarti bermain-main dengan pemikiran. Sepintas lalu apa yang mereka ucapkan mungkin benar, namun lambat laun masyarakat akan tahu bahwa mereka telah tertipu!
6. Jahil dan Mengabaikan Hakikat Diri (Lupa Daratan)
Sekiranya seorang insan benar-benar merenungi dirinya, asal-muasal penciptaannya sampai tumbuh men-jadi manusia sempurna, niscaya ia tidak akan terkena penyakit ujub. Ia pasti meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dihindarkan dari penyakit ujub sejauh-jauhnya. Salah seorang penyair bertutur dalam sebuah syair yang dituju-kan kepada orang-orang yang terbelenggu penyakit ujub:
Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina.
Sekiranya manusia merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua.
Apakah ada anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala?
Namun demikian, lima macam kotoranlah yang keluar darinya!
Hidung beringus sementara telinga baunya tengik.
Tahi mata berselemak sementara dari mulut mengalir air liur.
Hai bani Adam yang berasal dari tanah, dan bakal dilahap tanah,tahanlah dirimu (dari kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak.
7. Berbangga-bangga Dengan Nasab dan Keturunan
Seorang insan terkadang memandang mulia diri-nya karena darah biru yang mengalir di tubuhnya. Ia menganggap dirinya lebih utama dari si Fulan dan Fulan. Ia tidak mau mendatangi si Fulan sekalipun ber-kepentingan. Dan tidak mau mendengarkan ucapan si Fulan. Tidak syak lagi, ini merupakan penyebab utama datangnya penyakit ujub.
Dalam sebuah kisah pada zaman kekhalifahan Umar radhiyallahu 'anhu disebutkan bahwa ketika Jabalah bin Al-Aiham memeluk Islam, ia mengunjungi Baitullah Al-Haram. Sewaktu tengah melakukan thawaf, tanpa sengaja se-orang Arab badui menginjak kainnya. Tatkala mengetahui seorang Arab badui telah menginjak kainnya, Jabalah langsung melayangkan tangannya memukul si Arab badui tadi hingga terluka hidungnya. Si Arab badui itu pun melapor kepada Umar radhiyallahu 'anhu mengadukan tindakan Jabalah tadi. Umar radhiyallahu 'anhu pun memanggil Jabalah lalu ber-kata kepadanya: "Engkau harus diqishash wahai Jabalah!" Jabalah membalas: "Apakah engkau menjatuhkan hukum qishash atasku? Aku ini seorang bangsawan se-dangkan ia (Arab badui) orang pasaran!" Umar radhiyallahu 'anhu menjawab: "Islam telah menyamaratakan antara kalian berdua di hadapan hukum!"
Tidakkah engkau ketahui bahwa:
Dan menghinakan kedudukan Abu Lahab ka-rena syirik yang dilakukannya.
8. Berlebih-lebihan Dalam Memuliakan dan Menghormati
Barangkali inilah hikmahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang sahabat-sahabat beliau untuk berdiri menyambut beliau. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri menyambutnya, maka bersiaplah dia untuk menempati tempatnya di Neraka." (HR. At-Tirmidzi, beliau katakan: hadits ini hasan)
"Janganlah kamu berdiri menyambut seseorang seperti yang dilakukan orang Ajam (non Arab) sesama mereka." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu)
Sekiranya seorang insan menyadari bahwa ia hanya menuai dosa dari penyakit ujub yang menjangkiti dirinya dan menyadari bahwa ujub itu adalah sebuah pelanggaran, sedikitpun ia tidak akan kuasa bersikap ujub. Apalagi jika ia merenungi sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
"Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang diinjak-injak manusia." Ada seseorang yang bertanya: "Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?" Rasulullah menjawab: "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain." (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, awal hadits berbunyi: "Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya).
Dampak ujub
1. Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.
2. Dijauhkan dari pertolongan ilahi. Allah shallallahu 'alaihi wasallam berfirman:
Bila cobaan dan musibah datang menerpa, orang-orang yang terjangkiti penyakit ujub akan berteriak: 'Oii teman-teman, carilah keselamatan masing-masing!' Berbeda halnya dengan orang-orang yang teguh di atas perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala , mereka tidak akan melanggar rambu-rambu, sebagaimana yang dituturkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.
Bukankah hari kematian hari yang telah ditetap-kan?
Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya.
Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?
5. Azab dan pembalasan cepat ataupun lambat. Se-orang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan pembalasan atas sikapnya itu. Dalam sebuah hadits dise-butkan:
"Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat." (HR. Al-Bukhari)
Dengan begitu kita harus berhati-hati dari sifat ujub ini, dan hendaknya kita memberikan nasihat kepada orang-orang yang terkena penyakit ujub ini, yaitu orang-orang yang menganggap hebat amal mereka dan menyepelekan amal orang lain./
Bahaya "CINTA BUTA"
|
BUTA CINTA : Sesat Di Dunia, Merana Di Akhirat
|
|
Oleh : Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhani
|
|
|
|
Di Sebuah Taman Kota Metropolitan......
Para pekerja yang sibuk membersihkan kawasan taman rekreasi gempar.
Raungan bunyi ambulan begitu mengejutkan ketika pagi yang masih terlalu awal
ini. Kelihatan beberapa petugas kesehatan begitu sibuk memberi pertolongan
kepada sepasang muda-mudi yang terperangkap di dalam sebuah Rel Kereta API di
Kota tersebut. Naas bagi pasangan merpati dua sejoli itu, malaikat maut telah
mencabut nyawa mereka dalam keadaan yang sungguh tragis dan memilukan.
Apa
yang terjadi sebenarnya? Ternyata sepasang muda-mudi itu nekad membunuh diri
dengan menutup Jalan Kereta API,pada saat itu mereka mengikat diri di rel
tersebut. Akibatnya mereka mati dalam keadaan berpelukan dan saling berciuman
dengan kondisi tubuh hancur di lindas Kereta api, sehingga begitu sukar pihak
bertanggung jawab memisahkan antara dua jasad tersebut. Begitu ‘mengharukan’!. Didalam rel kereta tersebut ditemui selembar kertas
yang telah mereka tanda tangani. Antara isi kandungannya; tolong jangan
pisahkan mayat kami dan terus dikebumikan untuk membuktikan cinta abadi kami
sehidup semati. Dan di bagian akhir surat tersebut tercatat bahwa mereka
melakukan ini demi menyelamatkan cinta ‘sejati’ yang ‘suci’ ini karena orang
tua mereka tidak merestui hubungan cinta mereka. Astaghfirullah…!
Di sebuah rumah di Jazirah Arab 1400 tahun yang lampau…
Abdullah bin Abu Bakar RA baru saja melangsungkan pernikahan dengan
Atikah binti Zaid, seorang wanita cantik rupawan dan berbudi luhur. Dia
seorang wanita berakhlak mulia, berfikiran cemerlang dan berkedudukan tinggi.
Sudah tentu Abdullah amat mencintai istri yang sangat sempurna menurut
pandangan manusia.
Pada
suatu hari, ayahnya Abu Bakar RA lewat di rumah Abdullah untuk pergi
bersama-sama untuk sholat berjamaah di masjid. Namun apabila beliau
mendapati anaknya sedang bermesraan dengan Atikah dengan lembut dan romantis
sekali, beliau membatalkan niatnya dan meneruskan perjalanan ke masjid.
Setelah selesai menunaikan sholat Abu Bakar RA sekali lagi melalui jalan
di rumah anaknya. Alangkah kesalnya Abu Bakar RA apabila beliau mendapati
anaknya masih bersenda gurau dengan istrinya sebagaimana sebelum beliau
menunaikan sholat di masjid. Kemudian Abu Bakar RA segera memanggil Abdullah,
seterusnya bertanya : " Wahai Abdullah, adakah kamu sholat berjemaah?
" Tanpa berhujjah panjang Abu Bakar berkata : "Wahai Abdullah,
Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup malah dia juga
telah melupakan kamu dari sholat fardhu, ceraikanlah dia!" Demikianlah
perintah Abu Bakar kepada Abdullah. Suatu perintah ketika Abu bakar mendapati
anaknya melalaikan hak Allah. Ketika beliau mendapati Abdullah mulai sibuk
dengan istrinya yang cantik. Ketika beliau melihat Abdullah terpesona
keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juangnya semakin luntur.
Lalu bagaimana tanggapan Abdullah? Tanpa membuat dalih apatah lagi
mencoba membunuh diri, Abdullah terus mengikuti perintah ayahandanya dan
menceraikan istri yang cantik dan amat dicintainya. Subhanallah!!!
Dari dua petikan kisah di atas, marilah kita sama-sama bertafakkur
tentang hakikat dan bagaimana cinta sejati, tulus dan suci itu sebenarnya.
Sesungguhnya perjalanan hidup manusia akan sentiasa dipenuhi dengan
warna-warna cinta. Bahkan kita dapat ungkapkan bahwa kehadiran manusia di
muka bumi ini disebabkan Allah SWT meletakkan sebuah perasaan di dalam jiwa
manusia, dan dia adalah cinta.
Membicarakan tentang cinta ibarat menguras air lautan dalam yang kaya
dengan pelbagai khazanah alam. Tak kan pernah habis dan kita akan sentiasa
menemui berjuta macam benda. Dari sekecil-kecil ikan hingga ikan paus yang
terbesar. Dari kerang sampai mutiara malah jika diizinkan Allah, kita mungkin
menemui bangkai kapal dan bangkai manusia!!!
Usia sejarah cinta seumur dengan sejarah manusia itu sendiri. Jika di
suatu tempat ada 1000 manusia maka di situ ada 1000 kisah cinta. Dan jika di
muka bumi ini ada lebih 5 million manusia, maka sejumlah itu pulalah kisah
cinta akan hadir.
Walau berapa banyak pun nuansa cinta yang menjelma menjadi sebuah syair,
drama, film,Sinetron, lagu dan berbagai bentuk hasil seni lain, namun pada
hakikatnya cinta itu hanya ada dua buah versi saja. Versi cinta nafsu
(syahwat) dan cinta Rabbani.
Yang menjadi persoalan sekarang adalah mampukah kita membedakan yang mana
cinta syahwat dan mana cinta Rabbani? Derasnya arus ghazwul fikr (serangan
pemikiran) dalam kesenian terutamanya, telah mampu membungkus cinta syahwat
sehingga ia tampil sebagai cinta "suci" yang mesti diperjuangkan,
dimenangkan dan diraih seterusnya untuk dinikmati.
Manusia seakan lupa pada sejarah. Lupa pada kisah-kisah tragis yang
berakhir di hujung pisau atau dalam segelas racun. Mereka semua rela diseret
dan dijeremuskan ke dalam lubang ‘neraka’ hanya untuk mengejar salah satu
rasa dari sekian banyak rasa yang ada disudut hati manusia, itulah cinta.
Cinta memiliki kekuatan luar biasa. Dan kekuatan cinta (the power of
love) mampu menjadikan manusia pribadi yang sangat nekad atau sangat taat.
Nekad dalam konteks sangat berani dalam melanggar peraturan-peraturan Allah
seperti berkhalwat (berdua-duaan dengan bukan mahram), berkasih-kasihan
lelaki dan perempuan, berpegangan tangan, mempertontonkan adegan birahi percuma
di khalayak ramai apatah lagi dalam sembunyi. Atau jika cinta tak mendapat
restu dari orang tua, pasangan akan nekad, terus lari dari rumah atau berzina
(na’udzubillah min dzalik). Dan tidak sedikit pula yang begitu nekad sanggup
melakukan perbuatan yang dilaknat Allah yaitu membunuh diri demi cinta.
Pribadi-pribadi nekad seperti ini menjadikan cinta sebagai tujuan bukan
sebagai sarana mencapai tujuan. Oleh itu tidaklah mengherankan jika kita
banyak menemui berbagai perilaku aneh para pencari cinta yang tak masuk akal.
Sebab apa yang mereka tuju adalah suatu yang abstrak, tidak jelas dan bukan
perkara yang pokok. Mereka sibuk mencari dan mengartikan makna cinta
sementara lalai terhadap Dzat yang menganugerahkan cinta. Dzat yang menumbuh
suburkan rasa cinta. Dzat yang memberikan kekuatan cinta. Dzat yang paling
layak dicintai, kerana Dia juga Empunya nikmat cinta. Allah Rabbul ‘Alamin.
Kisah tragis di awal tulisan ini memberikan gambaran jelas sikap manusia
yang rela mengorbankan diri demi sepotong cinta. Muda-mudi yang nekad bunuh
diri dengan berbagai cara ini pada dasarnya belum mengenali hakikat cinta.
Cinta yang mereka kenal selama ini adalah cinta yang ditunggangi oleh nafsu
syahwat. Dan joki penunggangnya adalah syaitan laknatulllah. Pada momen ini
syaitan berteriak keriangan sambil mengibar-ngibarkan bendera kemenangan
kerana berhasil menjerumuskan anak cucu Nabi Adam dalam neraka jahannam
dengan dalih cinta yang begitu murah nilainya.
Cinta memang tak kenal warna. Cinta tak kenal baik-buruk. Cinta tak kenal
rupa dan pertalian darah. Memang begitulah adanya. Kerana yang mampu mengenal
warna dan baik-buruk adalah pelaku-pelaku cinta yang menggunakan akal
fikirannya.
Sebaliknya cinta juga mampu melahirkan pribadi-pribadi yang mengagumkan.
Pribadi yang tak takut kehilangan suatu apa pun walau ia amat cinta pada
sesuatu. Namun kerena cinta yang hadir dipenuhi dengan nuansa keimanan, maka
mereka rela mengorbankan apa saja yang mereka amat cintai demi memperolehi
keridhaan Dzat Pemberi cinta. Jiwa mereka tidak gundah gulana hanya kerena
kehilangan cinta duniawi karena Allah sebagai Dzat pemberi ketenteraman
Pribadi-pribadi taat ini amat menyadari bahawa cinta hanyalah sebagai sarana
mencapai tujuan. Mereka yakin kenikmatan cinta tak ada artinya tanpa ada
restu Allah sebagai Pemberi cinta. Maka yang mereka cari adalah ridha dan
cinta kasih Allah, bukan cinta yang bersifat sementara.
Kisah Abdullah putera Abu Bakar RA menjadi contoh kematangan pemuda yang
mengenal arti cinta. Bayangkan!! Dia memiliki isteri yang amat cantik,
berakhlak mulia, berkedudukan tinggi dan berharta. Namun apabila ayahandanya
memerintahkan untuk menceraikan isterinya, dengan alasan isterinya telah
melalaikan Abdullah dalam menunaikan hak Allah seterusnya akan membuat
Abdullah lalai dari berjihad di jalan Allah. Maka apa reaksi Abdullah?
Tidak!! Abdullah tidak marah langsung pada ayahnya. Atau berusaha mengambil
pedang dan ingin memenggal kepala si ayah yang berusaha memisahkan jalinan
cinta yang memang sudah sah itu. Sekali lagi tidak!! Pemuda yang bernama
Abdullah melihat perintah itu dengan kacamata cinta yang diberikan Allah. Ia
rela menceraikan isteri yang dicintainya demi mempererat hubungan cinta
dengan Allah. Subhanallah… Masih adakah pemuda-pemuda seperti peribadi Abdullah
di zaman globalisasi kini?
Begitulah cinta. Ia mampu melambungkan manusia pada derajat kemuliaan
yang tak terhingga. Manakala frekuensi atau gelombang cintanya juga sudah
selaras dengan frekuensi atau gelombang cinta yang Allah kehendaki. Semuanya
akan senada seirama. Tak ada dengung sumbang, tak ada nada ternoda. Demikian
indah dan asli irama cinta sejati.Wallahu ‘Alam
Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan (Adi Supriadi)
ASSYARKHAN Conseling Centre Biro Konseling Keluarga dan Remaja Indonesia Jln. Maleer Selatan No. 51/117 Bandung 40275 Jawa Barat Indonesia |
Senin, 23 April 2012
STOP ! ..... SETAN DILARANG MASUK !
AGAR RUMAH TIDAK DIMASUKI SETAN DAN SIHIR
Setan musuh utama bagi anak Adam. Bukanlah bapak kita Adam as. tergoda oleh iblis juga, anak yang baru lahir menangis karena disentuh oleh setan, maka bagaimana diri kita yang sudah dewasa. Lalu bagaimana agar rumah kita tidak didiami oleh setan?
§ Jangan lupa setiap hendak makan dan minum, dan setiap masuk rumah selalu membaca basmalah
Rasulullah saw. bersabda:
“Apabila seseorang masuk ke dalam rumah-nya, lalu ia membaca bismillah ketika masuk dan ketika menghadapi makanannya, maka setan akan berkata kepada teman-temannya, ‘Tidak ada tempat bermalan dan tidak ada pula makan malam untuk kalian.’ “ HR. Muslim 6/108 no. 1302
§ Hendaknya rumah dimakmurkan dengan membaca al-Qur'an terutama pada waktu malam, karena umumnya sihir datang pada malam hari.
Rasulullah saw. bersabda:
“Bacalah surah al-Baqarah, karena ada keberkahan dengan membacanya dan terdapat penyesalan jika tidak membacanya! selain itu, Surah al-Baqarah juga tidak dapat tertandingi oleh para bathalah (tukang sihir).” HR. Muslim 2/197 no. 2104
§ Tutuplah bejana dan hindari anak kecil keluar pada saat terbenam matahari.
Rasulullah saw. bersabda:
“Apabila hari mulai malam atau malam telah tiba, maka tahanlah anak-anak kalian, karena saat itu setan berkeliaran, apabila malam sudah mulai larut maka lepaskanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumah kalian dan bacalah basmalah, karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup, dan tutuplah tempat air minum kalian sambil membaca basmalah dan tutup pula wadah-wadah kalian sambil baca basmalah walaupun hanya dengan sesuatu yang dapat menutupinya.” HR. Bukhari no. 5192
§ Jauhkanlah rumah dari suara nyanyian dan peralatan yang membuat penghuninya lupa ibadah.
Rasulullah saw., bersabda:
“Genta (lonceng gereja) itu adalah seruling setan”. HR. Muslim 6/163
§ Jangan lupa sebelum tidur membaca:
*) Surat al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas tiga kali,
*) Ayat Kursi, dan
*) doa sebelum tidur.
Insya Allah kita dijaga oleh Allah swt.
Wallahu a’lam.
Sumber: Al Furqon, Edisi 9 Th. Ke-11, p. 9-10
MUNAFIQ

MUNAFIQ: “Orang-Orang Munafiq”
Q.S. Al Hadid (57) : 13
“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah Kami supaya Kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa”.
Salah satu ciri munafiqin adalah ketika berkumpul dengan orang beriman, ia mengatakan bahwa ia adalah teman, ia masuk dalam golongan orang beriman tersebut. Padahal setelah ia pergi, kembali ia berkumpul dengan golongan mereka yang sebenarnya, berbuat dosa dan kemungkaran. Tingkah lakunya yang seperti bunglon adalah untuk melindungi dirinya supaya dia dikatakan orang yang baik.
Orang-orang munafiq menyangka bahwa tingkah lakunya tidak diketahui, padahal Allah Maha Mengetahui keadaan hambanya, apa-apa yang tersembunyi di hatinya sekalipun.
Kelak di hari kiamat, di Padang Mahsyar, ketika manusia mengikuti Sesembahannya. Yang dahulu di dunia menyembah salib, gunung, matahari, berhala, dan lainnya, maka di Padang Mahsyar dia akan mencari sesembahannya tersebut, mengikutinya, kemudian merekapun akan berjatuhan di neraka jahanan untuk selama-lamanya. Maka tinggallah di Mahsyar 2 golongan yaitu Kaum Muslimin dan Orang-orang munafiq.
Orang-orang munafiq memohon kepada kaum muslimin, agar mau menunggu, agar mereka mendapatkan cahaya dari kaum muslimin. Artinya Kaum muslimin akan mendapatkan cahaya yang terang-bendarang, sedangkan orang-orang munafik akan diliputi kegelapan, gelap gulita.
Kaum muslimin tidak mau menunggu kaum munafiqin kemudian menyuruh mereka untuk kembali dan mencari cahayanya sendiri. Lalu diantara mereka ada dinding pemisah kaum muslimin berada di bagian yang penuh kenikmatan yaitu surga, sedangkan orang-orang munafiq disiksa di neraka.
Q.S. Al Baqarah (2) : 8 – 20
“8. Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian[22]," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”.
“9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”.
Sesungguhnya dalam hati munafiqin ada penyakit, mereka berada dalam kesesatan tapi Allah menjerumuskan mereka sehingga semakin berada dalam kesesatan.
“10. Dalam hati mereka ada penyakit[23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
11. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan."
12. Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”.
“13. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." mereka menjawab: "Akan berimankah Kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu”.
Ketika ada yang mengingatkan mereka, maka justru mengatakan bahwa perbuatannya untuk kebaikan. Mereka tidak mendasarkan perbuatannya dengan Al Qur’an dan As Sunnah, melainkan berdasarkan akal pikiran dan perasaan semata. Mengapa di Mahsyar dia tetap berada bersama kaum muslimin, tidak mengikuti salib atau berhala, karena mereka merasa menyembah Allah, padahal sebenarnya tidak demikian. Mereka telah berbuat kerusakan tetapi tidak menyadarinya karena Allah telah menyesatkan mereka.
“14. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka[25], mereka mengatakan: "Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok."
15. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.
16. Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”.
Ketika bergaul dengan orang-orang beriman yang shalat, puasa dan ibadah lainnya, mereka mengatakan bahwa dia shalat, puasa, dll, tetapi setelah itu dia kembali kepada kelompoknya sambil mengatakan sebenarnya kami adalah kelompok kalian.
Ketahuilah bahwa Allah akan membiarkan mereka terombang-ambing, mereka akan diliputi kecemasan, was-was, seberapa besarpun keuntungan yang mereka dapatkan, hakikatnya tak berarti dan tak bermanfaat bagi mereka, karena hatinya tak akan pernah tenang.
“17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api[26], Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
18. Mereka tuli, bisu dan buta[27], Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
19. Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati[28]. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir[29].
20. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”.
Apa yang diperolehnya di dunia hanyalah kenikmatan semu belaka, kalaupun hartanya melimpah, tapi tak pernah ia rasakan kenikmatan, ketenangan, dan kebahagiaan. Semuanya karena kejahilan diri mereka sendiri yang jauh dari rahmat dan petunjuk Allah SWT.
[22] Hari kemudian Ialah: mulai dari waktu mahluk dikumpulkan di padang mahsyar sampai waktu yang tak ada batasnya.
[23] Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.
[24] Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
[25] Maksudnya: pemimpin-pemimpin mereka.
[26] Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.
[27] Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh karena tidak dapat menerima kebenaran.
[28] Keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan, adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. mereka menyumbat telinganya karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Quran itu.
[29] Maksudnya pengetahuan dan kekuasaan Allah meliputi orang-orang kafir.
67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang Munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648]. mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.
68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.
Ciri orang munafiq lainnya yaitu :
1. menyuruh berbuat munkar
2. melarang berbuat ma’ruf
3. berlaku kikir
4. melupakan Allah
Allah menggolongkan mereka termasuk orang-orang yang fasik, kelak balasan bagi mereka adalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mengapa mereka dapat kekal di neraka, karena mereka melupakan Allah, berbuat sirik, menyekutukan-Nya.
[648] Maksudnya: Berlaku kikir

