Senin, 23 Juli 2012

Shirath, Jembatan Menuju Surga



SHIRATH, JEMBATAN DI ATAS NERAKA

Setiap muslim mengimani kehidupan akhirat, segala hal yang akan terjadi di akhirat, kejadian yang maha dahsyat, menakjubkan, luar biasa, tak terduga. Diantara peristiwa dahsyat tersebut kelak adalah peristiwa melewati shirath (jembatan) yang terbentang di atas neraka  menuju ke surga. Semoga Allah swt. memberikan kemudahan kepada kita untuk melewatinya kelak.

Pengertian Shirath secara etimologi bermakna jalan lurus yang terang. Adapun menurut istilah yaitu jembatan yang terbentang di atas neraka jahanam yang akan dilewati oleh semua manusia ketika menuju ke surga.
“Dan tidak ada seorangpun dari kalian, melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah sesuatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (QS. Maryam/19: 71). Ibnu Abbas ra, Ibnu Mas’ud ra, dan Ka’ab bin Ahbar ra, menerangkan bahwa yang dimaksud dengan mendatangi neraka dalam ayat tersebut adalah melewati shirath. (lihat tafsir Ibnu Katsir)

Rasulullah saw. bersabda: “Kemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam. Kami (para Sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana (bentuk) jembatan itu?”. Jawab beliau, “licin (lagi) menggelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan ...” (Muttafaqun ‘alaih)

BENTUK DAN KONDISI SHIRATH
Dalam hadits telah disebutkan kondisi shirath yaitu, licin (lagi) menggelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan.
Para ulama menyebutkan bahwa shirath lebih halus daripada rambut, lebih tajam daripada pedang, lebih panas daripada bara api, licin dan menggelincirkan. Abu Sa’id ra. berkata: “Sampai kepadaku kabar bahwa shirath itu lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” HR. Muslim

Berdasarkan dalil-dalil tersebut dapat diikhtisarkan sifat dan bentuk shirath sebagai berikut
1)    Shirath sangat licin, sehingga sangat menghawatirkan siapa saja yang lewat dimana ia mungkin saja terpeleset dan terperosok jatuh.
2)   Shirath tersebut menggelincirkan. Para ulama telah menerangkan maksud dari ‘menggelincirkan” yaitu bergerak dari kanan dan kiri, sehingga orang yang melewatinya takut akan tergelincir dan tersungkur jatuh.
3)   Shirath memiliki besi pengait yang besat, penuh dengan duri, ujungnya bengkok. Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang terkena besi pengait itu tidak akan lepas dari cengkramannya.
4)   Terpeleset atau tidak, tergelincir atau tidak, dan tersambar pengait besi atau tidak, semua itu ditentukan oleh amal ibadah dan keimanan masing-masing orang.
5)   Shirath tersebut terbentang di atas neraka Jahannam. Barang siapa terpeleset dan tergelincir atau terkena sambaran besi pengait maka ia akan jatuh ke dalam neraka jahanam.
6)   Shirath tersebut halus, sehingga sulit untuk meletakkan kaki di atasnya.
7)   Shirath tersebut juga tajam yang yang dapat membelah kaki orang yang melewatinya. Karena sesuatu yang begitu halus, namun tidak bisa putus, maka akan menjadi tajam.
8)   Sekalipun shirath itu halus dan tajam, manusia tetap dapat melewatinya. Karena Allah swt. Maha Kuasa untuk menjadikan manusia mampu berjalan di atas apapun.
9)   Kesulitan untuk melintasi shirath karena kehalusannya, atau terluka karena ketajamannya, semua itu bergantung kepada kualitas keimanan setiap orang yang melewatinya.



Dikutip dari: Ust. Dr.Ali Musri Semjan Putra: As Sunnah No.09/Th.XIV, p.37-38
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar