Minggu, 24 Juni 2012

Bolehkan Mematikan HP yang Berdering Saat Sedang Shalat?


MEMATIKAN “dering” HP KETIKA SHALAT

Termasuk salah satu nikmat Allah swt. yang harus disyukuri adalah kemajuan teknologi, seperti handphone dan semisalnya. Alat tersebut (handphone) jika digunakan untuk hal yang baik maka berpahala, tetapi jika digunakan untuk keburukan maka merupakan dosa. Akan tetapi tidak jarang kita jumpai alat komunikasi jadi bencana bagi kaum muslimin di masjid.
Ketika sedang shalat tiba-tiba berdering suara handphone dari salah seorang makmum, kadang suara itu berlangsung lama sehingga mengganggu makmum lainnya, kadang suara hanphone tidak sekedar deringan tetapi disertai dengan nyanyian, suara wanita, dan lain sebagainya, yang sangat tidak layak didengar apalagi ketika sedang shalat.
Semua ini mengharuskan kita untuk untuk segera mengingatkan diri kita dan orang di sekitar kita supaya tidak terus menerus terjadi gangguan dalam shalat sehingga mengurangi kekhusyukan, bahkan menghilangkannya.
Oleh karena itu wajib bagi setiap yang hendak shalat untuk menyiapkan diri supaya menyempurnakan kekhusyukkannya, menghindarkan segala perkara yang mengganggunya, dengan mematikan alat komunikasinya secara total sebelum shalat.
Akan tetapi jika lupa lalu berdering di tengah shalat, maka wajib baginyan untuk menggerakkan tangannya dan segera mematikan alat komunikasinya.
Gerakan yang ia lakukan tidaklah membatalkan shalatnya sebab Rasulullah saw. pun pernah melakukan gerakan-gerakan lain dalam shalahnya. Gerakan mematikan handphone ini tergolong sangat sedikit dibandingkan dengan gerakan yang dilakukan Rasulullah saw. ketika menggendong Umamah cucunya, dan dibandingkan gerakan beliau ketika memutar Ibnu Abbas yang berdiri di samping kiri beliau menjadi di sebelah kanannya, apalagi gerakan tersebut dilakukan untuk kemaslahatan shalat dirinya dan kaum muslimin.

Perhatian. Membiarkan alat komunikasi berdering, tidak dimatikan saat sedang shalat adalah kerusakan demi kerusakan semata,
Pertama; akan merusak shalat dirinya sendiri, karena menjawab seruan alat komunikasi dengan sapaan atau jawaban adalah mustahil dalam shalat sebab hal itu membatalkan shalatnya, sedangkan jika dibiarkan berdering maka dia terus dalam keadaan tidak tenang, goncang, dan tidak khusyuk.
Kedua; akan merusak shalat kaum muslimin atau paling tidak mengganggu mereka, sedangkan Allah swt. berfirman:
“Dan orang-orang yang menggganggu kaum mukminin dan mukminat dengan tanpa sebab kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka memikul kebohongan dan dosa yang nyata” QS. Al-Ahzab (33): 58.

Demikianlah pembahasan masalah gangguan dering handphone dalam shalat, semoga bermanfaat. Amin.

Sumber: Al Furqon Edisi 9 Th. ke-11, p.41

Sabtu, 16 Juni 2012

TATHAYYUR: Jangan-Jangan Aku Celaka!!!!



Hukum Tathayyur

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Firman Allah Ta'ala (artinya):
"Ketahuilah sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui." (Al-A'raf: 131)
"Mereka (para rasul) berkata: "Kesialan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib sial?). Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas."." (Yasin: 19) 

Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak ada 'adwa, thiyarah, hamah dan shafar." (HR Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam salah satu riwayat Muslim, disebutkan tambahan: "... dan tidak ada nau' serta ghul."

'Adwa: penjangkitan atau penularan penyakit. Maksud sabda Nabi disini ialah untuk menolak anggapan mereka ketika masih hidup di zaman jahiliyah bahwa penyakit berjangkit atau menular dengan sendirinya, tanpa kehendak dan takdir Allah Ta'ala. Anggapan inilah yang ditolak oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan keberadaan penjangkitan atau penularannya; sebab, dalam riwayat lain, setelah hadits ini, disebutkan: "... dan menjauhlah dari orang yang terkena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa." (HR Al-Bukhari)

Ini menunjukkan bahwa, penjangkitan atau penularan penyakit dengan sendirinya tidak ada, tetapi semuanya atas kehendak dan takdir Ilahi, namun sebagai insan muslim disamping iman kepada takdir tersebut haruslah berusaha melakukan tindakan preventif sebelum terjadi penularan sebagaimana usahanya menjauh dari terkaman singa. Inilah hakekat iman kepada takdir Ilahi.

Thiyarah: merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.

Hamah: burung hantu. Orang-orang jahiliyah merasa bernasib sial dengan melihatnya; apabila ada burung hantu hinggap di atas rumah salah seorang di antara mereka, dia merasa bahwa burung ini membawa berita kematian tentang dirinya sendiri atau salah satu anggota keluarganya. Dan maksud sabda beliau adalah untuk menolak anggapan yang tidak benar ini. Bagi seorang muslim, anggapan seperti ini harus tidak ada, semua adalah dari Allah dan sudah ditentukan oleh-Nya.

Shafar: bulan kedua dalam tahun Hijriyah, yaitu bulan sesudah Muharram. Orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan ini membawa nasib sial atau tidak menguntungkan. Yang demikian dinyatakan tidak ada oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan termasuk dalam anggapan seperti ini: merasa bahwa hari Rabu mendatangkan sial, dll. Hal ini termasuk jenis thiyarah, dilarang dalam Islam.

Nau': bintang; arti asalnya adalah: tenggelam atau terbitnya suatu bintang. Orang-orang jahiliyah menisbatkan hujan turun kepada bintang ini, atau bintang itu. Maka Islam datang mengikis anggapan seperti ini, bahwa tidak ada hujan turun karena suatu bintang tertentu, tetapi semua itu adalah ketentuan dari Allah 'Azza wa Jalla.

Ghul: hantu (genderuwo), salah satu makhluk jenis jin. Mereka beranggapan bahwa hantu ini dengan perubahan bentuk maupun warnanya dapat menyesatkan seseorang dan mencelakakannya. Sedang maksud sabda Nabi disini bukanlah tidak mengakui keberadaan makhluk seperti ini, tetapi menolak anggapan mereka yang tidak baik tersebut yang akibatnya takut kepada selain Allah serta tidak bertawakkal kepada-Nya. Inilah yang ditolak oleh beliau; untuk itu dalam hadits lain beliau bersabda: "Apabila hantu beraksi menakut-nakuti kamu, maka serukanlah adzan", artinya: tolaklah kejahatannya itu dengan berdzikir dan menyebut Allah. Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Anas Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tidak ada 'adwa dan thiyarah, tetapi fa'l menyenangkan diriku." Para sahabat bertanya: "Apakah fa'l itu?" Beliau menjawab: "Yaitu kalimah thayyibah (kata-kata yang baik)."."

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad shahih dari 'Uqbah bin 'Amir, ia berkata: "Thiyarah disebut-sebut di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau pun bersabda: "Yang paling baik adalah fa'l, dan thiyarah tersebut tidak boleh menggagalkan seorang muslim dari niatnya. Apabila salah seorang diantara kamu melihat sesuatu yang tidak diinginkannya maka supaya berdoa: "Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan selain Engkau; tiada yang dapat menolak keburukan selain Engkau; dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Engkau."."

Abu Dawud meriwayatkan pula hadits marfu' dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu:
"Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik; dan tiada seorang pun dari antara kita kecuali (telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya."
Hadits ini diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dengan dinyatakan shahih dan kalimat terakhir tersebut dijadikannya sebagai ucapan dari Ibnu Mas'ud.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu 'Amr, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa yang mengurungkan hajatnya (kepentingannya) karena thiyarah, maka dia telah berbuat syirik." Para sahabat bertanya: "Lalu apakah sebagai tebusannya?" Beliau menjawab: "Supaya dia mengucapkan: Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau; tiada kesialan kecuali kesialan dari Engkau; dan tiada Sembahan yang hak selain Engkau..."

Imam Ahmad meriwayatkan pula hadits dari Al-Fadhl ibn Al-'Abbas Radhiyallahu 'anhu:
"Sesungguhnya thiyarah itu ialah yang menjadikan kamu terus melangkah atau mengurungkan niat (dari keperluanmu)." 

Kandungan tulisan ini:
  1. Tafsiran kedua ayat tersebut di atas. Kedua ayat ini menunjukkan bahwa tathayyur termasuk perbuatan jahiliyah dan syirik, karena segala sesuatu termasuk nasib sial merupakan takdir dari Allah; dan menunjukkan bahwa kesialan terjadi karena perbuatan maksiat kepada Allah.
  2. Dinyatakan bahwa tidak ada 'adwa.
  3. Dinyatakan bahwa tidak ada thiyarah.
  4. Dan dinyatakan bahwa tidak ada hamah.
  5. Serta dinyatakan bahwa tidak ada shafar.
  6. Fa'l tidak termasuk yang ditolak dan dilarang oleh Rasulullah bahkan dianjurkan.
  7. Pengertian fa'l.
  8. Apabila terjadi thiyarah (tathayyur) dalam hati seseorang, tetapi dia tidak menginginkannya, maka hal itu tidak apa-apa hukumnya, bahkan Allah menghapuskannya dengan tawakkal.
  9. Doa yang harus dibaca oleh orang yang menjumpai hal tersebut.
  10. Ditegaskan bahwa thiyarah adalah syirik.
  11. Pengertian thiyarah yang tercela dan terlarang.
Artikel As-Sunnah Online: Tauhid, 16 Jan 2002

Pernahkah Mimpi Buruk?


APABILA BERMIMPI BURUK

Mimpi buruk berasal dari syetan. Begitulah pekerjaan syetan, menggoda manusia bukan hanya pada saat manusia bangun dan sadar, melainkan juga ketika tidur. Walaupun demikian, pada hakikatnya tipu daya syetan itu lemah. Allah swt. berfirman dalam Surah An-Nisaa ayat 76,
“Sebab itu perangilah kawan-kawan syetan itu, karena sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah.”
Tipu daya syetan lemah. Ia tidak mampu menyesatkan orang yang beriman yang ikhlas beribadah kepada Allah swt., sebagaimana pernyataan Iblis dalam firman Allah swt:
“Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan engkau (Allah) aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas beribadah kepada-Mu.’ ” QS. Shad : 82-83

Lalu apa yang harus kita lakukan bila suatu saat kita bermimpi buruk?

      1. Tidak membicarakan kepada orang lain
Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab shahihnya bersumber dari Jabir bin Abdillah ra. dia berkata, “Pada suatu ketika, ada seorang Arab pedalaman datang kepada Rasulullah saw. sambil berkata, ‘Ya Rasulullah, saya pernah bermimpi kepalaku terpenggal, lalu menggelinding dan saya mengikuti ke mana perginya.’ Rasulullah saw. menjawab: ‘Jangan kamu ceritakan permainan syetan denganmu dalam tidur/ mimpimu kepada orang lain.’ “ HR. Muslim 7/55 no. 1528

Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah berkata, “Insan yang tanggap dan cerdik tentu tidak menceritakan impiannya (bermimpi baik) kepada setiap orang, tetapi menceritakan kepada orang ‘alim ahli takwil. Sebaliknya, jika bermimpi jelek, dia tidak menceritakan kepada siapapun walaupun kepada kerabat dekatnya.” (Kitabur Ru’ya 1/2)

      2.  Berlindung kepa Allah swt. dan meludah ke samping kiri tiga kali
Rasulullah saw. bersabda:
“Mimpi yang baik adalah berasal dari Allah, sedang mimpi yang buruk berasal dari syetan, maka barangsiapa melihat sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah ke samping kirinya sebanyak tiga kali, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan. Sesungguhnya mimpinya tersebut tidak akan membahayakannya dan syetan tidak mungkin bisa menyerupaiku.” HR. Bukhari no. 6479

      3.  Mengubah posisi tidur
Bila bermimpi jelek hendaknya bangun sampai dia sadar, lalu mengubah posisinya bila hendak tidur lagi.
Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdillah ra. Nabi saw. bersabda:
“Apabila ada seseorang yang bermimpi yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah tiga kali ke kiri dan berlindung kepada Allah tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya.” HR. Muslim 7/52 no. 1524

      4.  Berdiri dan melakukan shalat
Imam Bukhari meriwayatkan hadits bersumber dari sahabat Abu Hurairah ra. Nabi saw. bersabda:
“Maka barangsiapa bermimpi suatu hal yang tak disukainya, jangan menceritakannya kepada seorangpun, hendaklah ia bangun dan mendirikan shalat.” HR. Bukhari 6/2547

Sumber: Al Furqon Ed. 11 Th ke-11, p.7-8

Kamis, 14 Juni 2012

Bolehkah Imam Berbeda Niat dengan Makmum?



BOLEHKAH BERBEDA NIAT ANTARA IMAM DAN MAKMUM DALAM SHALAT BERJAMAAH?

Perbedaan niat antara imam dan makmum diperbolehkan dalam shalat. Misalnya imam berniat shalat sunnah sedang makmum niat shalat wajib atau sebaliknya. Sahabat Mu’adz bin Jabal r.a. shalat Isya’ bersama Rasulullah saw. di Masjid Nabawi, lalu beliau mengimami kaumnya diawali shalat Isya’.

Rasulullah saw. juga pernah shalat Khauf dua kali masing-masing untuk sekelompok sahabat dan sekali yang lain untuk sekelompok sahabat yang lain yang tadinya menjaga musuh.

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Tirmidzi: 219 yang artinya:

Jika kamu telah shalat di tempatmu, lalu kamu mendatangi masjid yang kamu jumpai sedang ditegakkan shalat berjama’ah, maka shalatlah kamu bersama mereka, dan shalatmu (yang kedua) bagimu sunnah.”

Bagi seseorang yang telah menunaikan shalat fardu, lalu menjumpai di suatu masjid shalat berjamaah sedang ditegakkan, maka boleh baginya bahkan dianjurkan untuk mengikuti shalat berjamaah lagi, hukum shalat yang dilakukan kedua adalah sunnah.

Dalam pelaksanaan shalat ini menunjukkan bahwa Imam shalat wajib sedang makmum shalat sunnah. Perbedaan niat shalat antara imam dan ma’mum diperbolehkan dan tidak membatalkan shalat masing-masing. Wallahua'lam.

Baca: Al Furqon Edisi 12 Th ke-11, p.30

SIAPAKAH MANUSIA YANG PALING LEMAH?

Manusia Yang Paling Lemah Adalah Yang Tidak Berdo'a

Orang yang tidak mau berdoa kepada Allah swt. berarti dia manusia yang paling lemah di muka bumi. Bagaimana tidak, padahal do'a adalah sebuah ibadah yang tidak membutuhkan tenaga dan biaya. Siapa saja bisa berdoa sambil duduk, sambil berdiri, berjalan, dan berbaring. Demikianlah kondisi Nabi kita Muhammad saw. selalu berdoa baik ketika masuk dan keluar rumah, berkendaraan,berjalan, masuk dan keluar masjid, dalam sholatnya, makan dan minumnya, saat berkumpul dengan istrinya, dan segala keadaannya tidak lepas dari berdoa. Oleh karena itu, Nabi saw. bersabda:
"Manusia yang paling lemah adalah manusia yang lemah untuk berdo'a." HR. Al-Bukhari.

Untuk Kita Renungkan




MUTIARA TELADAN
Sunnah vs Bid’ah

Sunnah adalah seperti kapal Nabi Nuh a.s. yang siapa saja mau menumpanginya, berlayar di atasnya maka ia akan terselamatkan dari tsunami syubhat dan syahwat, sesungguhnya hati adalah lemah sedangkan syubhat menyambar bagaikan petir.
Bila anda adalah orang yang kuat maka lawanlah syubhat tersebut sekuat tenaga dan yakinilah bahwa kebenaran akan menang dan kebatilan akan hancur.
Namun bila anda merasa diri anda lemah maka berlarilah dari syubhat dan kebid’ahan sejauh-jauhnya, lebih jauh dari pada berlari dari serigala lapar, karena serigala hanya merusak jasad sedangkan syubhat merusak dan menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat.
Dahulu Sufyan ats-Tsaauri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya kebid’ahan lebih dicintai Iblis ketimbang maksiat, yang demikian itu karena pelaku maksiyat masih menyadari bahwa dirinya berada di atas kesalahan sehingga ia bertaubat darinya. NAMUN PELAKU BID’AH TIDAK AKAN BERTAUBAT KARENA IA MERASA BERADA DI ATAS KEBENARAN.”
Semoga Allah swt. merahmati sahabat Abdullah bin Mas’ud r.a. tatkala mengatakan, “SEDERHANA DI ATAS SUNNAH JAUH LEBIH BAIK DARIPADA BERSUNGGUH-SUNGGUH TETAPI DI ATAS KEBID’AHAN.”
Semoga kita semua ditunjukkan jalan kebenaran dan diberikan taufiq oleh Allah swt. untuk mengikutinya dan semoga kita ditunjukkan jalan kebatilan dan diberi kekuatan untuk meninggalkannya, Amin.

Sumber: Al Furqon Edisi 11 Th. Ke-11, p. 73.

Rabu, 13 Juni 2012

Penyakit 'UJUB" bagi YANG MERASA dirinya: 'ALIM, HEBAT, PINTAR, KAYA...!!!!



PENYAKIT UJUB TERHADAP DIRI SENDIRI DAN AMAL
 
Salah seorang ulama salaf pernah berkata: "Seorang yang ujub akan tertimpa dua kehinaan, akan terbongkar kesalahan-kesalahannya dan akan jatuh martabatnya di mata manusia."
Salah seorang ahli hikmah berkata: "Ada seorang yang terkena penyakit ujub, akhirnya ia tergelincir dalam kesalahan karena saking ujubnya terhadap diri sendiri. Ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari orang itu, ketika ia berusaha jual mahal dengan kemampuan dirinya, maka Imam Syafi'i pun memban-tahnya seraya berseru di hadapan khalayak ramai: "Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri sendiri seca-ra berlebihan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menjatuhkan mar-tabatnya."
 
Defenisi Ujub
Orang yang terkena penyakit ujub akan meman-dang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan mengang-gapnya bagai angin lalu. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits:

"Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya."
(HR. Al-Bukhari)
Bisyr Al-Hafi mendefenisikan ujub sebagai berikut: "Yaitu menganggap hanya amalanmu saja yang banyak dan memandang remeh amalan orang lain."
Barangkali gejala paling dominan yang tampak pada orang yang terkena penyakit ujub adalah sikap suka melanggar hak dan menyepelekan orang lain. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah meringkas defenisi ujub sebagai berikut: "Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara' dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya!"
Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam dengan salah satu dari tiga perkara ini: ujub terhadap diri sendiri, menganggap amalnya sudah banyak dan lupa terhadap dosa-dosanya. Dia berkata: "Saya tidak akan mencari cara lain." Semua perkara di atas adalah sumber kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam karena tiupan angin? Berapa banyak ibadah yang rusak karena penyakit ujub? Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa seorang lelaki berkata: "Allah tidak akan mengampuni si Fulan! Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala pun berkata:

"Siapakah yang lancang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni Fulan?! Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapus amalan-mu!"
(HR. Muslim)
Amal shalih itu ibarat sinar dan cahaya yang terka-dang padam bila dihembus angin ujub!
 
Sebab-Sebab Ujub
1. Faktor Lingkungan dan Keturunan
Yaitu keluarga dan lingkungan tempat seseorang itu tumbuh. Seorang insan biasanya tumbuh sesuai dengan polesan tangan kedua orang tuanya. Ia akan menyerap kebiasaan-kebiasaan keduanya atau salah satunya yang positif maupun negatif, seperti sikap senang dipuji, selalu menganggap diri suci dll.
2. Sanjungan dan Pujian yang Berlebihan
Sanjungan berlebihan tanpa memperhatikan etika agama dapat diidentikkan dengan penyembelihan, seba-gaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits. Sering kita temui sebagian orang yang terlalu berlebihan dalam memuji hingga seringkali membuat yang dipuji lupa diri. Masalah ini akan kami bahas lebih lanjut pada bab berikut.
3. Bergaul Dengan Orang yang Terkena Penyakit Ujub
Tidak syak lagi bahwa setiap orang akan melatahi tingkah laku temannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri bersabda:

"Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Teman akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang.
4. Kufur Nikmat dan Lupa Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
Begitu banyak nikmat yang diterima seorang hamba, tetapi ia lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberinya nikmat itu. Sehingga hal itu menggiringnya kepada penyakit ujub, ia membanggakan dirinya yang sebenarnya tidak pantas untuk dibanggakan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menceritakan kepada kita kisah Qarun;
"Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". (Al-Qashash: 78)
5. Menangani Suatu Pekerjaan Sebelum Matang Dalam Menguasainya dan
    Belum Terbina Dengan Sempurna

Demi Allah, pada hari ini kita banyak mengeluhkan problematika ini, yang telah banyak menimbulkan berbagai pelanggaran. Sekarang ini banyak kita temui orang-orang yang berlagak pintar persis seperti kata pepatah 'sudah dipetik sebelum matang'. Berapa banyak orang yang menjadi korban dalam hal ini! Dan itu termasuk perbuatan sia-sia. Yang lebih parah lagi adalah seorang yang mencuat sebagai seorang ulama padahal ia tidak memiliki ilmu sama sekali. Lalu ia berkomentar tentang banyak permasalahan, yang terkadang ia sendiri jahil tentang hal itu. Namun ironinya terkadang kita turut menyokong hal seperti ini. Yaitu dengan memperkenalkannya kepada khalayak umum. Padahal sekarang ini, masyarakat umum itu ibaratnya seperti orang yang menganggap emas seluruh yang berwarna kuning. Kadangkala mereka melihat seorang qari yang merdu bacaannya, atau seorang sastrawan yang lihai berpuisi atau yang lainnya, lalu secara membabi buta mereka mengambil segala sesuatu dari orang itu tanpa terkecuali meskipun orang itu mengelak seraya berkata: "Aku tidak tahu!"
Perlu diketahui bahwa bermain-main dengan sebuah pemikiran lebih berbahaya daripada bermain-main dengan api. Misalnya beberapa orang yang berse-pakat untuk memunculkan salah satu di antara mereka menjadi tokoh yang terpandang di tengah-tengah kaumnya, kemudian mengadakan acara penobatannya dan membuat-buat gelar yang tiada terpikul oleh siapa pun. Niscaya pada suatu hari akan tersingkap kebobrok-annya. Mengapa!? Sebab perbuatan seperti itu berarti bermain-main dengan pemikiran. Sepintas lalu apa yang mereka ucapkan mungkin benar, namun lambat laun masyarakat akan tahu bahwa mereka telah tertipu!
6. Jahil dan Mengabaikan Hakikat Diri (Lupa Daratan)
Sekiranya seorang insan benar-benar merenungi dirinya, asal-muasal penciptaannya sampai tumbuh men-jadi manusia sempurna, niscaya ia tidak akan terkena penyakit ujub. Ia pasti meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dihindarkan dari penyakit ujub sejauh-jauhnya. Salah seorang penyair bertutur dalam sebuah syair yang dituju-kan kepada orang-orang yang terbelenggu penyakit ujub:
Hai orang yang pongah dalam keangkuhannya.
Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina.
Sekiranya manusia merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua.
Apakah ada anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala?
Namun demikian, lima macam kotoranlah yang keluar darinya!
Hidung beringus sementara telinga baunya tengik.
Tahi mata berselemak sementara dari mulut mengalir air liur.
Hai bani Adam yang berasal dari tanah, dan bakal dilahap tanah,tahanlah dirimu (dari kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak.
Penyair ini mengingatkan kita pada asal muasal penciptaan manusia dan keadaan diri mereka serta kesu-dahan hidup mereka. Maka apakah yang mendorong mereka berlagak sombong? Pada awalnya ia berasal dari setetes mani hina, kemudian akan menjadi bangkai yang kotor sedangkan semasa hidupnya ke sana ke mari membawa kotoran.
7. Berbangga-bangga Dengan Nasab dan Keturunan
Seorang insan terkadang memandang mulia diri-nya karena darah biru yang mengalir di tubuhnya. Ia menganggap dirinya lebih utama dari si Fulan dan Fulan. Ia tidak mau mendatangi si Fulan sekalipun ber-kepentingan. Dan tidak mau mendengarkan ucapan si Fulan. Tidak syak lagi, ini merupakan penyebab utama datangnya penyakit ujub.
Dalam sebuah kisah pada zaman kekhalifahan Umar radhiyallahu 'anhu disebutkan bahwa ketika Jabalah bin Al-Aiham memeluk Islam, ia mengunjungi Baitullah Al-Haram. Sewaktu tengah melakukan thawaf, tanpa sengaja se-orang Arab badui menginjak kainnya. Tatkala mengetahui seorang Arab badui telah menginjak kainnya, Jabalah langsung melayangkan tangannya memukul si Arab badui tadi hingga terluka hidungnya. Si Arab badui itu pun melapor kepada Umar radhiyallahu 'anhu mengadukan tindakan Jabalah tadi. Umar radhiyallahu 'anhu pun memanggil Jabalah lalu ber-kata kepadanya: "Engkau harus diqishash wahai Jabalah!" Jabalah membalas: "Apakah engkau menjatuhkan hukum qishash atasku? Aku ini seorang bangsawan se-dangkan ia (Arab badui) orang pasaran!" Umar radhiyallahu 'anhu menjawab: "Islam telah menyamaratakan antara kalian berdua di hadapan hukum!"
Tidakkah engkau ketahui bahwa:
Islam telah meninggikan derajat Salman seorang pemuda Parsi
Dan menghinakan kedudukan Abu Lahab ka-rena syirik yang dilakukannya.
Ketika Jabalah tidak mendapatkan dalih untuk melepaskan diri dari hukuman, ia pun berkata: "Berikan aku waktu untuk berpikir!" Ternyata Jabalah melarikan diri pada malam hari. Diriwayatkan bahwa Jabalah ini akhirnya murtad dari agama Islam, lalu ia menyesali perbuatannya itu. Wal 'iyadzubillah
8. Berlebih-lebihan Dalam Memuliakan dan Menghormati
Barangkali inilah hikmahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang sahabat-sahabat beliau untuk berdiri menyambut beliau. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri menyambutnya, maka bersiaplah dia untuk menempati tempatnya di Neraka."
(HR. At-Tirmidzi, beliau katakan: hadits ini hasan)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Janganlah kamu berdiri menyambut seseorang seperti yang dilakukan orang Ajam (non Arab) sesama mereka."
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu)
9. Lengah Terhadap Akibat yang Timbul dari Penyakit Ujub
Sekiranya seorang insan menyadari bahwa ia hanya menuai dosa dari penyakit ujub yang menjangkiti dirinya dan menyadari bahwa ujub itu adalah sebuah pelanggaran, sedikitpun ia tidak akan kuasa bersikap ujub. Apalagi jika ia merenungi sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

"Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang diinjak-injak manusia." Ada seseorang yang bertanya: "Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?" Rasulullah menjawab: "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain." (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, awal hadits berbunyi: "Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya).

 
Dampak ujub
1. Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.
2. Dijauhkan dari pertolongan ilahi. Allah shallallahu 'alaihi wasallam berfirman:
"Orang-orang yang berjihad (untuk mencari keri-dhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (Al-Ankabut: 69)
3. Terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan.
Bila cobaan dan musibah datang menerpa, orang-orang yang terjangkiti penyakit ujub akan berteriak: 'Oii teman-teman, carilah keselamatan masing-masing!' Berbeda halnya dengan orang-orang yang teguh di atas perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala , mereka tidak akan melanggar rambu-rambu, sebagaimana yang dituturkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.
Siapakah yang mampu lari dari hari kematian?
Bukankah hari kematian hari yang telah ditetap-kan?
Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya.
Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?
4. Dibenci dan dijauhi orang-orang. Tentu saja, seseorang akan diperlakukan sebagaimana ia memperla-kukan orang lain. Jika ia memperlakukan orang lain dengan baik, niscaya orang lain akan membalas lebih baik kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghor-matan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)." (An-Nisa': 86)
Namun seseorang kerap kali meremehkan orang lain, ia menganggap orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Tentu saja tidak ada orang yang senang kepadanya. Sebagaimana kata pepatah 'Jika engkau menyepelekan orang lain, ingatlah! Orang lain juga akan menyepelekanmu'
5. Azab dan pembalasan cepat ataupun lambat. Se-orang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan pembalasan atas sikapnya itu. Dalam sebuah hadits dise-butkan:

"Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat."
(HR. Al-Bukhari)
Hukuman ini dirasakannya di dunia akibat sifat ujub. Seandainya ia lolos dari hukuman tersebut di du-nia, yang jelas amalnya pasti terhapus. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan tentang seorang yang bersumpah atas nama Allah bahwa si Fulan tidak akan diampuni, ternyata Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni si Fulan dan menghapus amalnya sendiri.
Dengan begitu kita harus berhati-hati dari sifat ujub ini, dan hendaknya kita memberikan nasihat kepada orang-orang yang terkena penyakit ujub ini, yaitu orang-orang yang menganggap hebat amal mereka dan menyepelekan amal orang lain./